Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Da’i Bachtiar: Anak Pelaku Ledakan Lebih Sulit Dideteksi Ketimbang Jaringan Teror

Akmal Fauzi
12/11/2025 22:15
Da’i Bachtiar: Anak Pelaku Ledakan Lebih Sulit Dideteksi Ketimbang Jaringan Teror
Mantan Kapolri Jenderal Polisi (Purn.) Tan Sri Da’i Bachtiar berbicara dengan awak media di kawasan Jakarta Selatan, Rabu (12/11/2025).(ANTARA/Nadia Putri Rahmani)

MANTAN Kapolri Jenderal Polisi (Purn.) Tan Sri Da’i Bachtiar menyoroti pentingnya edukasi sejak dini untuk mencegah munculnya kembali anak yang berhadapan dengan hukum (ABH), khususnya kasus anak pelaku ledakan seperti yang terjadi di SMAN 72 Jakarta Utara.

Menurutnya, kasus ledakan yang dilakukan oleh anak jauh lebih sulit dideteksi dibandingkan jaringan terorisme, karena tidak memiliki pola dan motif yang dapat ditelusuri aparat kepolisian.

Bachtiar menilai, peristiwa ledakan yang dilakukan oleh jaringan terorisme lebih mudah dideteksi karena polisi bisa membongkar jaringan serta tujuan perbuatan mereka.

“Kalau ini tidak ada tujuan, tidak ada apa-apa, hanya suatu keinginan dari seorang yang mungkin karena kurang bimbingan, dan akhirnya melahirkan suatu bencana, itu justru lebih bahaya dari sisi pencegahan,” kata Da'i Bachtiar dikutip dari Antara, Rabu (12/11)

Ia menegaskan, edukasi menjadi kunci utama pencegahan, mulai dari keluarga, lingkungan sekolah, hingga masyarakat sekitar.

“Konkretnya adalah edukasi yang dimulai dari rumah. Kemudian, lingkungan, bisa lingkungan masyarakat, bisa lingkungan sekolah, dan lingkungan pergaulan juga,” katanya saat ditemui di kawasan Jakarta Selatan, Rabu.

Ketua Presidium Lembaga Cegah Kejahatan Indonesia (LCKI) itu menilai masyarakat harus lebih aktif dalam melakukan deteksi dini terhadap perilaku anak-anak di sekitar mereka.

“Peran dari kita semua sebagai warga masyarakat harus kembali diaktifkan untuk dapat paling tidak mendeteksi kemungkinan bahwa apa yang dilakukan oleh anak-anak kita, terutama di sekeliling kita sendiri, kita sudah harus mewaspadai,” ujarnya.

Ia juga menegaskan, LCKI siap bekerja sama dengan aparat penegak hukum dalam memperkuat upaya pencegahan.

“Tidak cukup hanya ikut menjaga secara fisik, tetapi juga edukasi atau pendidikan bagi warga masyarakat sendiri untuk bagaimana kita juga mampu berperan, itu juga diaktifkan,” katanya.

Sebelumnya, Kapolda Metro Jaya Irjen Asep Edi Suheri mengungkapkan bahwa pelaku ledakan di SMAN 72 Jakarta Utara merupakan anak berkonflik dengan hukum (ABH) yang dikenal tertutup dan memiliki ketertarikan pada konten kekerasan serta hal-hal ekstrem.

"Berdasarkan keterangan yang kami himpun, ABH yang terlibat dalam kasus ledakan ini dikenal sebagai pribadi yang tertutup, jarang bergaul dan dia juga memiliki ketertarikan pada konten kekerasan serta hal-hal yang ekstrem," katanya.

Sementara itu, Dirreskrimum Polda Metro Jaya Kombes Iman Imanuddin menambahkan, pelaku diduga terdorong oleh perasaan terasing dan kesepian.

"Dorongannya seperti merasa sendiri, merasa tidak ada yang menjadi tempat untuk menyampaikan keluh kesahnya, baik itu di lingkungan keluarga maupun lingkungannya sendiri dan di sekolah," ujarnya. (Ant/P-4)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Akmal
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik