Headline
Tradisi halal bi halal untuk menyempurnakan ibadah puasa Ramadan.
Tradisi halal bi halal untuk menyempurnakan ibadah puasa Ramadan.
Kumpulan Berita DPR RI
PEMERINTAH Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta kembali menggelar Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sebagai langkah antisipasi menghadapi cuaca ekstrem dan potensi banjir di wilayah ibu kota. Operasi ini dilaksanakan Kamis (6/11) dari Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, dengan melibatkan BMKG dan TNI Angkatan Udara (TNI AU).
Kepala Pusat Data dan Informasi Kebencanaan BPBD DKI Jakarta, Mohamad Yohan, menyebut OMC dilakukan untuk mengendalikan distribusi hujan agar tidak turun secara intens di daratan Jakarta.
“OMC dilaksanakan sebagai bentuk antisipasi terhadap potensi peningkatan curah hujan di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Melalui kerja sama dengan BMKG dan TNI AU, kami berupaya mengatur distribusi curah hujan agar tidak terkonsentrasi di daratan Jakarta,” ujar Yohan.
Adapun pelaksanaan OMC hari ini menggunakan pesawat Casa A-2114 milik TNI AU dengan tiga sortie penerbangan.
Penerbangan dipimpin oleh Lettu Pnb Bintang, Kpt Pnb Fajar, dan Letda Pnb Krisna sebagai kru udara. Adapun area semai mencakup perairan selatan Kabupaten Lebak, dengan radius 180°–300° dan jarak 50–80 nautical mile dari Bandara Halim Perdanakusuma, pada ketinggian 8.000–10.000 kaki.
Total bahan semai 2.400 kilogram garam higroskopis (NaCl) ditaburkan dari udara untuk memicu proses kondensasi awan di atas perairan.
"Hasil observasi menunjukkan awan jenis Cumulus Congestus di wilayah Pandeglang dan perairan selatan memiliki potensi presipitasi yang baik. Terpantau pula hujan ringan di area target, menandakan proses penyemaian berjalan efektif,” jelas Yohan.
Ia menambahkan, kondisi atmosfer saat operasi berlangsung menunjukkan angin bertiup dari barat hingga utara dengan kecepatan 22–26 knot pada ketinggian 5.000–10.000 kaki.
Cuaca di wilayah barat Kabupaten Serang (Selat Sunda) cenderung cerah, sementara area selatan Pandeglang didominasi awan target penyemaian.
Pelaksanaan OMC ini merupakan bagian dari rangkaian operasi mitigasi jangka menengah yang dijadwalkan berlangsung selama beberapa pekan ke depan. BPBD bersama BMKG terus memantau kondisi atmosfer harian untuk menentukan waktu dan lokasi penyemaian berikutnya.
“Tujuannya agar curah hujan bisa diurai lebih awal di wilayah perairan sekitar Jakarta, sehingga potensi genangan dan banjir di Ibu Kota dapat ditekan,” ujar Yohan.
Selain modifikasi cuaca, Pemprov DKI juga menyiagakan seluruh sumber daya penanggulangan bencana, termasuk personel gabungan, pompa mobile, dan posko pemantauan cuaca di setiap wilayah kota.
BPBD DKI mengimbau warga agar tetap waspada terhadap potensi hujan lebat disertai angin kencang serta memastikan saluran air dan drainase di lingkungan masing-masing dalam kondisi bersih.
Informasi cuaca dan peringatan dini dapat dipantau melalui Jakarta Siaga 112, aplikasi JAKI, situs BPBD DKI, atau akun resmi @bpbddkijakarta.
Antisipasi Banjir, SDA DKI Keruk Sedimen Kali Cideng
Ia juga menegaskan proyek penanganan banjir ini sengaja dilaksanakan lebih awal untuk menghindari penumpukan program di akhir tahun yang berdampak pada serapan anggaran.
Bersih-bersih sungai melibatkan warga bersama PMI, BPBD, pelajar dan relawan dari komunitas peduli sungai yang menamakan diri Masjaka.
Normalisasi sungai ini merupakan ikhtiar konkret untuk mengurangi dampak banjir dan melindungi masyarakat dari potensi kerugian.
Lurah dan camat diminta untuk mengecek saluran-saluran air, mulai dari gorong-gorong, selokan, sungai, hingga kirmir, agar tidak terjadi sumbatan
Salah satu pedagang di sekitar lokasi, Rizal mengaku banjir telah merendam area lingkar luar Jakarta ini sejak Minggu (8/3).
BADAN Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta melaporkan kondisi terkini genangan akibat hujan deras yang mengguyur ibu kota sejak Minggu (8/3).
Pengamat tata kota Yayat Supriyanta menilai banjir Jakarta tidak hanya dipicu curah hujan tinggi, tetapi juga menunjukkan melemahnya sistem pengendalian banjir.
BANJIR yang berulang hampir setiap tahun itu kembali memicu sorotan berbagai pihak, salah satunya terkait minimnya ruang terbuka hijau (RTH) di ibu kota.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menegaskan banjir yang terjadi di sejumlah wilayah ibu kota pada Minggu (8/3) dipicu curah hujan ekstrem.
Temukan jawaban ilmiah mengapa Kemang dan Mampang Prapatan menjadi langganan banjir. Analisis topografi, sejarah, hingga progres normalisasi 2026.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved