Headline

Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.

Rezeki Perajin Peti Mati di Tengah Pandemi

MI
15/4/2020 05:40
Rezeki Perajin Peti Mati di Tengah Pandemi
(MI/Tri Subarkah)

TUJUH peti mati setengah jadi berjejer di pinggiran jalan agak ke pojok Tempat Pemakaman Umum Pondok Kelapa, Jakarta Timur. Tiga orang perajin  dengan cekatan mencoba menyelesaikan peti-peti tersebut. Ikam, 32, selaku penanggung jawab usaha, terpaksa ikut turun tangan.

Dengan berbekal stapler tembak di tangan kanan, ia membantu ketiga pekerja memasang kain putih pada dasar peti. “Kami mengejar
waktu, pesanan meningkat pesat,” papar Ikam kepada Media Indonesia, kemarin.

Ya, sejak covid-19 mewabah, Ikam kebanjiran pesanan pembuatan peti mati. Dalam sehari, ia beserta ketiga pekerja harus menyelesaikan setidaknya 20 peti. Sebelum covid-19 pandemik, paling pesanan sekitar 10 peti.

Sekarang ini pesanan datang bukan dari keluarga, melainkan para donatur dan yayasan yang bergerak dalam pelayanan rumah
duka. Sebagian peti sepanjang dua meter dengan lebar 60 sentimeter tersebut didistribusikan ke rumah sakit rujukan penanganan
covid-19.

“Terus terang kami kewalahan. Kemarin ada yang mau pesan empat ribu unit, ada pula dua ribu unit, saya enggak sanggupin. Kalau 50 unit untuk tiga kali kirim per hari masih oke,” tutur Ikam.

Peti mati berbahan kayu sengon tersebut saat ini masuk dalam kebutuhan mendesak. Banyak korban covid-19 ataupun penyakit lainnya dikebumikan menggunakan peti mati.

Perbedaan peti jenazah positif covid-19 dan yang bukan terletak pada pelapis dalam. Peti buat korban covid-19 dilapisi aluminium foil.

Ikam hanya menerima pesanan peti mati biasa, sedangkan untuk korban covid-19 diisi sendiri pihak pemesan. “Dari kami murni dalam bentuk kayu. Saya bikin yang kaya gitu (berlapis aluminium foil) hanya sekali-kali saja sebab waktunya enggak keuber,” sambungnya.

Peti mati produksi Ikam dijual dengan harga Rp800 ribu, sedangkan peti mati dengan dasar aluminium foil dihargai Rp1,5 juta. Harga yang terakhir umumnya dipesan yayasan.

Imam Zaini, Head Officer Kamar Jenazah Rumah Sakit dr Abdul Radjak Salemba, mengaku selalu memesan peti mati dari Ikam,
terutama untuk jenazah covid-19. Menurut Imam, kebutuhan akan peti mati meningkat selama pandemi covid-19, meski sering juga yang meninggal bukan karena virus korona.

“Kadang-kadang kan sakitnya belum jelas, tapi sudah main covid covid saja. Seharusnya peti diutamakan bagi yang korban covid. Ada kejadian, sudah dimakamkan seminggu baru hasil tes keluar, ternyata negatif covid-19,” tandasnya. (Tri Subarkah/J-2)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya