Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
AKSI kejahatan yang dilakukan oleh geng motor kembali terjadi di Jakarta. Teranyar, Mika Natalida Zebua, 24, seorang satpam tewas dibacok anggota geng motor pada Minggu (10/11) dini hari di Rorotan Jakarta Utara.
Polisi berhasil membekuk empat pelaku yakni, AJ (17), JS (19), MCAR (18), dan AGA (17).
Kriminolog Universitas Budi Luhur, Chazizah mengatakan, untuk menekan aksi kejahatan geng motor, Chazizah meminta masyarakat tidak hanya mengandalkan pihak kepolisian. Pasalnya, polisi memiliki keterbatasan dalam melakukan operasi atau razia.
"Seberapa banyak dan sering sih personel polisi melakukan operasi itu? Kejahatan kan bisa terjadi di mana saja dan kapan saja. Jadi sebenarnya polisi memang harus sering-sering melakukan operasi atau razia, tapi dari masyarakat sebenrnya harus mawas juga, ada pencegahan juga dari masyarakat," terangnya kepada Media Indoensia, Selasa (12/11).
Sebagai contoh, Chazizah menyebut masyarakat dapat memanfaatkan sistem panic button untuk mempercepat penanganan tindak kriminal. Meskipun menurutnya, sistem tersebut belum tersosialisasi ke semua masyarakat.
Baca juga : Polres Jakarta Utara Buru Geng Oyy-Oyy sampai ke Akar-Akarnya
Di sisi lain, Chazizah menjelaskan, maraknya tindak kriminal yang dilakukan oleh geng motor sebenarnya merupakan bentuk kejahatan kekerasan. Namun, penggunaan motor dalam melancarkan aksinya menimbulkan peyorasi terhadap geng motor itu sendiri.
"Kalau kita lihat sebenernya definisi geng motor kan sebenrnya tidak selalu dikaitkan dengan hal negatif, seperti yang suka otomotif misalnya. Ini ada subkultur atau segelintir orang melakukan aksi kejahatan dengan menggunakan motor, akhirnya label yang ada di masyarakat melihat itu sebagai geng motor dan label ini dicap negatif terhadap komunitas geng motor yang ada," kata Chazizah
Konsep geng yang terdiri lebih dari satu orang, kata Chazizah, turut menimbulkan rasa kekuatan di antara para anggotanya, sehingga lebih berani melakukan aksi kejahatan.
"Sekarang identik di kalangan remaja yang naik motor di pinggir jalan terus iseng memanfaatkan kondisi malam, ada banyak kasusnya. Karena mereka berkelompok, mereka merasa memiliki kekuatan dan satu sama lain merasa secara pisikologis 'oke gue kuat nih', timbullah tadi misalnya rasa iseng," paparnya.
Penggunaan sepeda motor juga bukan tanpa alasan. Selain karena mudah didapatka karena cicilannya lebih murah dibanding mobil, pelaku tindak kejahatan geng motor beranggapan mampu dengan mudah kabur dari kejaran polisi. (OL-7)
Belasan tersangka yang ditangkap itu melakukan berbagai tindak pidana mulai dari pencurian motor, penganiayaan hingga penggelapan.
Puluhan preman yang diamankan tersebut terdiri dari 30 orang pak ogah, 7 orang juru parkir liar, hingga 3 orang debt collector.
Gambar kedua pelaku terekam oleh kamera fotografer yang kebetulan berada di lokasi kejadian, kemudian viral di media sosial.
Pihak kepolisian akan menindak para pengendara yang menggunakan knalpot tidak sesuai peruntukannya
Kesibukan masyarakat dan kontrol sosial yang sudah mulai melemah juga menjadi pemicu terjadinya kejahatan jalanan pada siang hari
Polsek Koja menyita sebanyak 143 knalpot brong dalam dua kali Operasi Kejahatan Jalanan (OKJ) pada malam hari.
Kemudian apabila koordinator demo tidak melaporkan rencana demonstrasi dan tidak terjadi apa-apa atau keonaran maka dirinya tetap tidak akan dipidana.
Ledakan di SMA Negeri 72 Jakarta bukan sekadar peristiwa kriminal biasa, melainkan merupakan simbol dari luka sosial yang lama terpendam di dunia pendidikan.
Projo menyatakan dukungan terbuka kepada Presiden Prabowo Subianto, menuai sorotan pengamat politik Hendri Satrio.
Said mengaku tidak setuju dengan anggapan partai sebagai tempat berlindung dari jeratan pidana. Ia mengatakan partai merupakan tempat untuk bertukar pikiran demi kemajuan bangsa.
Anak akan mengalami kesulitan dalam meregulasi emosi dan merasa putus asa karena dari stigma negatif dari lingkungannya.
Anak yang kurang mendapat nilai dari keluarga juga memengaruhi mereka dalam meregulasi emosinya saat menghadapi keinginan yang belum terpenuhi.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved