Headline
Presiden mengecam keras tindakan keji yang menyebabkan gugurnya para prajurit TNI.
Presiden mengecam keras tindakan keji yang menyebabkan gugurnya para prajurit TNI.
Kumpulan Berita DPR RI
KUALITAS udara Jakarta pada Sabtu (10/8), masih berada pada level merah atau tidak sehat. Hal ini berdasarkan pantauan pada AirVisual hingga pukul 11.30 WIB, kualitas udara di Jakarta berada di peringkat ketiga terburuk di dunia berdasarkan Air Quality Index (AQI) Dunia.
Pada lama resmi AirVisual tercatat bahwa indeks kualitas udara di Jakarta sebesar 156 dengan parameter berupa partikel polutan sangat kecil berdiameter 2,5 mikrometer (PM 2.5).
AirVisual juga menuliskan konsentrasi PM 2.5 di udara Jakarta saat ini sebanyak 66,1 mikrogram per meter kubik.
Adapun, angka tersebut jauh di atas jumlah standar konsentrasi udara menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO) yakni 25 mikrogram per meter kubik dalam jangka waktu 24 jam.
Dengan kata lain, Jakarta dapat disebut sebagai kota dengan polusi udara terburuk di dunia. Bersama dengan kota Hanoi Vietnam dengan AQI 174, dan kota Santiago Chile dengan AQI 169.
Baca juga: Anies Diminta Percepat Penanganan Polusi
Kemayoran, Jakarta Pusat, menjadi wilayah berkualitas udara terburuk dengan AQI sebesar 168. Disusul pada peringkat kedua Pejaten Barat, Jakarta Selatan dengan AQI 165 dan Mangga Dua Selatan, Jakarta Utara, dengan AQI 161.
Dengan angka AQI untuk rerata wilayah, kualitas udara Jakarta bisa meningkatkan gangguan pada jantung dan paru-paru. Disebutkan pada laman AirVisual kelompok sensitif mempunyai risiko tinggi terganggu kesehatannya akibat kualitas udara buruk saat ini.
Untuk itu, kelompok sensitif direkomendasikan mengurangi kegiatan luar ruangan. Sementara masyarakat yang berkegiatan di luar rumah dianjurkan untuk mengenakan masker polusi.(OL-5)
MEMASUKI periode musim kemarau 2026, ancaman kebakaran hutan dan lahan atau karhutla serta penurunan kualitas udara kembali meningkat di berbagai wilayah Indonesia. BMKG inagatkan polusi
Kepala BSKDN Kemendagri Yusharto Huntoyungo menekankan pentingnya pengendalian polusi udara yang dilakukan secara terukur, berbasis data, serta didukung kolaborasi antar daerah.
Dalam jangka panjang, paparan terus-menerus dapat memicu penyakit kronis hingga mematikan.
Aktivitas membakar sampah merupakan salah satu pemicu utama memburuknya polusi di Ibu Kota.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengakui bahwa tantangan polusi di Ibu Kota semakin kompleks, sehingga regulasi lama seperti Perda Nomor 2 Tahun 2005 sudah tidak lagi memadai.
Penelitian terbaru mengungkap polusi udara telah ada sejak Kekaisaran Romawi Kuno.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved