Headline

Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.

Belasan Kelurahan di Kota Depok Alami Kekeringan

Kisar Rajaguguk
03/7/2019 14:45
Belasan Kelurahan di Kota Depok Alami Kekeringan
Depok alami kekeringan.(Dok. MI/BARY FATHAHILAH)

BELASAN kelurahan di Kota Depok, Jawa barat mengalami kekeringan akibat dampak dari musim kemarau. Sejak dua pekan lalu, sumur gali dan sumur bor warga kering. Bahkan, di beberapa kelurahan sudah tidak keluar air sama sekali.

Di RT 004/RW 002 Kelurahan Grogol, Kecamatan Limo, sejak dua pekan silam sudah dilanda kekeringan. Begitu juga di RT 004/RW 03, Kelurahan Grogol, Kecamatan Limo, Kota Depok. Sumur gali dan sumur bor warga di dua RW tersebut tidak mengeluarkan tetes air.

Baca juga: Pemprov DKI Buka Opsi Hujan Buatan Atasi Pencemaran Udara

Di RW 002 dan RW 003, ada ratusan rumah tangga sudah kekeringan sumur gali dan bor sejak dua pekan. Para warga mengeluhkan air di rumahnya. Padahal, biasanya normal, tiba-tiba tidak ada sama sekali. “Dipancing-pancing juga airnya tidak bisa keluar," ujar Danudi Amin, Rabu (3/7).

Danudi mengatakan, kekeringan di wilayah tersebut diduga karena pengerjaan Tol Desari (Depok-Antasari). Menurut Danudi, awalnya lingkungan warga RW 002 dan RW 003 merupakan daerah resapan air.

“Tetapi sejak wilayah tersebut digunakan untuk pengerjaan pembangunan Tol Desari, warga di kawasan Grogol, Limo terdampak kekeringan,“ keluhnya.

Menurut dia, adanya penggalian tanah yang dilakukan Tol Desari terlalu dalam menyebabkan permukaan air tanah di kawasan tersebut turun.  "Karena galian terlalu dalam membuat air tanah warga tidak keluar bahkan kering," papar Danudi.

Warga lainnya, Jalampu, mengungkapkan ada beberapa warga yang mengebor tanah biar mendapatkan air. Namun, tak keluar setetes pun. Ia mengaku bahwa memang saat ini di lokasi tersebut ada pembangunan tol. Tapi, rumah di luar tol juga mengalami kekeringan.

Di lokasi terpisah, putra warga Kelurahan Pasir Putih, Kecamatan Sawangan, menyebutkan sekitaran dekat kolam renang wisata Pasir Putih sudah mengalami kekeringan. “Iya daerah situ sudah kering, lumayan banyak juga,” terangnya

Masyarakat Kelurahan Pasir Putih, sambungnya, dua pekan terakhir ini mulai merasakan kekeringan sumur gali dan bor.

"Karena dari sumur gali dan bor tak keluar air. Warga pun terpaksa menggunakan air galon isi ulang untuk kebutuhan untuk beruwudu dan memasak, bahkan mandi. Jadi setiap hari saya beli air isi ulang 5-7 galon. Harganya Rp5 ribu per galon,” imbuhnya.

Kepela Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dodo Gunawan, menyebut memasuki bulan Juli hampir semua daerah di tanah air sudah mulai masuk musim kemarau. Dodo menuturkan, musim kemarau 2019 dipengaruhi fenomena el nino. Meski, intensitasnya kecil.

”Oleh karena itu, musim kemarau tahun 2019 akan terasa lebih kering dibandingkan 2018,” kata Dodo.

Musim kemarau yang panas dan terik, sambungnya, berpotensi meningkatkan polusi udara di perkotaan. Emisi gas yang dikeluarkan kendaraan bermotor maupun pabrik industri terperangkap di atmosfer. Kondisi tersebut membuat suhu di atmosfer lebih tinggi daripada suhu di permukaan bumi. ”Kondisi tersebut yang disebut sebagai inversi. Sehingga lapisan atmosfer susah untuk menguraikan polutan,” jelasnya.

Baca juga: El Nino Tingkatkan Pencemaran Udara di Jakarta

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Herizal Hamzah, mengungkapkan waspada kekeringan di periode musim kemarau ini, karena diprediksi kemarau tahun ini lebih kering dari tahun sebelumnya.

“Daerah yang tahun lalu pada periode Juni, Juli dan Agustus terkena kekeringan, tahun ini harus lebih waspada lagi,“ pungkasnya. (OL-6)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Astri Novaria
Berita Lainnya