Headline

Skor dan peringkat Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2025 anjlok.

Makna di Balik Hidangan Imlek: Dari Simbol Kemakmuran hingga Etiket Kue Keranjang

Basuki Eka Purnama
12/2/2026 14:05
Makna di Balik Hidangan Imlek: Dari Simbol Kemakmuran hingga Etiket Kue Keranjang
Ilustrasi(Freepik)

PERAYAAN Tahun Baru Imlek bagi masyarakat Tionghoa identik dengan momen berkumpul keluarga dan sajian khas yang memenuhi meja makan. Namun, lebih dari sekadar hidangan lezat, makanan yang tersaji memiliki filosofi mendalam yang melambangkan harapan baik di tahun yang baru.

Pakar Fengshui Yulius Fang menjelaskan bahwa beberapa makanan yang lazim ditemukan di rumah masyarakat Tionghoa saat Imlek, seperti kue nastar, kue lapis, dumpling (pangsit), hingga kue keranjang, membawa pesan simbolis tersendiri.

Simbol Kemakmuran dalam Nastar dan Kue Lapis

Kue nastar dengan isian selai nanas menjadi salah satu primadona. Yulius menyebutkan bahwa dalam bahasa Hokkien, nanas dikenal dengan sebutan 'ong lai', yang memiliki kemiripan bunyi dengan frasa "kemakmuran datang".

“Jadi ‘ong’ itu dimaknai adalah suatu hal yang hebat, berkuasa, makmur dan sebagainya. Ditambah lai, artinya datang seperti itu. Dan ini diartikan bahwa mereka yang menggunakan ‘ong lai’ ini, kalau dibuat sembayang itu supaya tahun ini pokoknya saya berkembang, hebat, makmur seperti itu,” ujar Yulius, dikutip Kamis (12/2).

Selain nastar, kue lapis juga menjadi hidangan wajib. Sesuai dengan bentuknya yang bertumpuk, kue lapis dijadikan simbol doa dan harapan agar rezeki yang datang di tahun baru senantiasa berlipat ganda atau berlapis-lapis.

Dumpling dan Jejak Sejarah

Berbeda dengan kue-kue manis, kehadiran dumpling atau pangsit lebih berkaitan dengan sejarah dan kondisi alam di Tiongkok pada masa lalu. Perayaan Imlek yang bertepatan dengan musim dingin membuat bahan makanan segar seperti sayur dan buah sulit didapat.

Sebagai solusinya, masyarakat mengolah adonan tepung dan daging yang lebih mudah disimpan dan dibuat dalam kondisi cuaca ekstrem. 

Hingga kini, tradisi menyantap dumpling tetap dipertahankan sebagai bagian dari suasana autentik Imlek.

Etiket Unik Kue Keranjang

Kue keranjang merupakan elemen penting lainnya, namun ada etiket unik yang jarang diketahui orang awam. 

Menurut Yulius, kue keranjang yang disajikan di meja tamu pada saat hari raya sebenarnya tidak untuk langsung dimakan oleh tamu yang berkunjung.

“Jadi meskipun kue keranjang disediakan untuk disuap, tapi kue keranjang itu kalau kamu lihat, tidak untuk dimakan oleh tamu yang datang ke rumah pas pada saat silaturahmi sincia, enggak. Tapi dimakan oleh tuan rumah sendiri,” jelasnya.

Hal ini karena tekstur kue keranjang yang baru disajikan biasanya masih sangat basah dan lengket, sehingga sulit dikonsumsi secara langsung. 

Tuan rumah biasanya menunggu beberapa hari hingga tekstur kue mengeras sebelum dimakan. Meski begitu, kue keranjang tetap menjadi pilihan utama sebagai hantaran atau hadiah bagi sanak saudara sebagai simbol kebersamaan.

Tradisi Hantaran dan Bakti

Selain makanan tradisional, kerabat juga dapat memberikan buah jeruk, apel, atau angpao sebagai tanda kasih. 

Yulius menambahkan bahwa ada tradisi kuat ketika anak memberikan hantaran berupa kue atau minuman kepada orangtua atau mertua sebelum hari perayaan. 

Tujuannya adalah untuk membantu persiapan tuan rumah dalam menyambut tamu, sehingga saat hari H tiba, orangtua tidak perlu lagi khawatir kekurangan stok sajian bagi para pengunjung. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya