Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Menikmati Hidangan Bakaran Tanpa Cemas: Panduan Gizi dan Keamanan Pangan

Basuki Eka Purnama
06/1/2026 04:43
Menikmati Hidangan Bakaran Tanpa Cemas: Panduan Gizi dan Keamanan Pangan
Ilustrasi(ANTARA/Oky Lukmansyah)

TRADISI mengonsumsi makanan bakaran, seperti jagung bakar dan daging panggang, seolah menjadi ritual wajib dalam perayaan akhir tahun. Namun, di balik kelezatannya, muncul kekhawatiran mengenai dampak kesehatan dari proses pembakaran tersebut. Benarkah makanan bakaran selalu berdampak buruk bagi tubuh?

Dosen Departemen Gizi Masyarakat IPB University, Dr. Karina Rahmadia Ekawidyani, menjelaskan bahwa proses pembakaran memang memengaruhi kandungan gizi makanan, namun dampaknya tidak selalu negatif. Menurutnya, pemahaman mengenai jenis bahan pangan dan teknik pengolahan menjadi kunci utama.

Dampak pada Kandungan Gizi

Secara ilmiah, suhu tinggi saat pembakaran dapat mengubah profil nutrisi bahan pangan. Karina menerangkan, "Secara ilmiah, pembakaran dapat menurunkan kandungan beberapa zat gizi tertentu. Proses pembakaran makanan dapat mengubah kandungan gizi, antara lain menurunkan vitamin larut air seperti vitamin C dan vitamin B."

MI/HO--Dosen Departemen Gizi Masyarakat IPB University, Dr. Karina Rahmadia Ekawidyani

Risiko utama muncul pada protein hewani, seperti daging ayam dan sapi. Pemanasan bersuhu tinggi pada jenis pangan ini dapat memicu terbentuknya senyawa karsinogenik, yaitu polycyclic aromatic hydrocarbons (PAHs) dan heterocyclic amines (HCAs). Senyawa ini umumnya terbentuk jika daging dibakar pada suhu sangat tinggi hingga mencapai kondisi gosong.

Sayuran: Lebih Sehat Saat Dibakar

Menariknya, Karina menegaskan bahwa tidak semua makanan bakaran berbahaya bagi kesehatan. Risiko kesehatan sangat bergantung pada jenis bahan yang diolah. Ia justru menyebutkan bahwa pembakaran pada beberapa jenis pangan tertentu memberikan manfaat lebih.

"Jenis pangan yang relatif lebih aman untuk dibakar adalah sayuran," jelasnya.

Pada sayuran tertentu, proses pembakaran dapat menghancurkan dinding sel yang keras. Hal ini justru membuat zat gizi penting seperti lycopene, beta-karoten, dan berbagai antioksidan lainnya menjadi lebih mudah diserap oleh tubuh. 

Penelitian menunjukkan bahwa kadar mineral seperti kalium, magnesium, fosfor, dan mangan pada terong dilaporkan meningkat setelah dibakar. Begitu pula dengan kadar natrium pada zukini yang diolah dengan metode serupa.

Tips Meminimalisir Risiko

Agar tradisi bakar-bakaran tetap aman dan menyehatkan, Karina membagikan beberapa langkah praktis yang bisa dilakukan di rumah:

  1. Lakukan Marinasi: Sebelum dibakar, sebaiknya sumber protein hewani dimarinasi terlebih dahulu menggunakan bumbu, herba, dan rempah-rempah. Selain memperkaya rasa, marinasi dapat berfungsi sebagai pelindung.
  2. Hindari Kontak Langsung dengan Api: Pastikan makanan tidak diletakkan langsung di atas api yang menjilat. Gunakan jarak yang cukup agar matang merata tanpa suhu berlebih.
  3. Jangan Sampai Gosong: Hindari membakar makanan hingga menghitam. Bagian yang gosong merupakan indikator utama terbentuknya senyawa berbahaya.

Dengan menerapkan teknik yang tepat, kekhawatiran akan bahaya kesehatan dapat diminimalisir, sehingga momen kebersamaan di akhir tahun tetap terasa nikmat dan tetap sehat. (Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik