Headline
Tragedi Bantargebang menjadi bukti kegagalan sistemis.
Kumpulan Berita DPR RI
Dunia musik dangdut tanah air baru saja berduka atas berpulangnya Ahmad Subada Gentar, atau yang lebih dikenal sebagai Genta KDI, pada 7 Maret 2026. Penyanyi berbakat lulusan Kontes Dangdut Indonesia musim kedua ini mengembuskan napas terakhir di usia 40 tahun setelah berjuang melawan penyakit diabetes melitus yang berujung pada komplikasi gagal ginjal.
Kasus yang menimpa Genta KDI menjadi pengingat keras bagi kita semua bahwa diabetes bukan sekadar "penyakit gula biasa". Jika tidak dikelola dengan tepat, diabetes dapat menjadi pintu masuk bagi berbagai komplikasi mematikan, salah satunya adalah kerusakan ginjal permanen.
Diabetes melitus adalah kondisi kronis yang ditandai dengan tingginya kadar glukosa dalam darah. Dalam jangka panjang, kadar gula yang tinggi ini dapat merusak pembuluh darah kecil di seluruh tubuh, termasuk di ginjal. Kondisi ini secara medis disebut sebagai Nefropati Diabetik.
Ginjal memiliki jutaan pembuluh darah kecil yang berfungsi sebagai penyaring limbah dari darah. Ketika pembuluh darah ini rusak akibat gula darah yang tidak terkontrol, ginjal kehilangan kemampuannya untuk menyaring racun. Akibatnya, penderita dapat mengalami gagal ginjal stadium akhir yang mengharuskan prosedur cuci darah (hemodialisis) secara rutin setiap dua kali seminggu, sebagaimana yang dialami almarhum Genta KDI sebelum wafat.
Banyak yang bertanya mengapa penderita diabetes harus menjalani cuci darah. Jawabannya terletak pada tingkat kerusakan ginjal. Ketika fungsi ginjal sudah di bawah 15%, tubuh tidak lagi mampu membuang sisa metabolisme dan cairan berlebih. Cuci darah menjadi alat bantu vital untuk menggantikan fungsi organ tersebut agar racun tidak menumpuk dan menyebabkan kematian mendadak.
Belajar dari kasus ini, penting bagi penderita diabetes atau mereka yang memiliki risiko tinggi untuk mengenali gejala awal kerusakan organ:
Kepergian Genta KDI pada Maret 2026 meninggalkan duka mendalam, namun juga memberikan pelajaran berharga tentang bahaya laten diabetes. Diabetes adalah "silent killer" yang bekerja perlahan namun pasti jika tidak ditangani dengan serius. Dengan deteksi dini dan manajemen gaya hidup yang disiplin, komplikasi fatal seperti gagal ginjal dapat dicegah sejak dini.
1. Apakah diabetes selalu menyebabkan gagal ginjal?
Tidak selalu. Risiko gagal ginjal dapat ditekan secara signifikan jika penderita mampu menjaga kadar gula darah dan tekanan darah tetap stabil.
2. Apa tanda awal ginjal mulai rusak akibat diabetes?
Salah satu tanda awalnya adalah munculnya protein dalam urin (mikroalbuminuria), yang biasanya hanya bisa dideteksi melalui tes laboratorium.
3. Mengapa usia muda kini banyak terkena diabetes?
Pola makan tinggi karbohidrat dan gula sederhana, kurangnya aktivitas fisik (sedenter), serta stres menjadi pemicu utama meningkatnya kasus diabetes di usia produktif.
PENINGKATAN prevalensi diabetes menjadikannya penyakit kronis dengan kematian ketiga tertinggi di Indonesia. Pemantauan glukosa mandiri sangat penting dalam manajemen diabetes.
Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), diketahui 18,8% anak usia 5-12 tahun mengalami kelebihan berat badan. Sementara sebanyak 10,8% dari jumlah tersebut mengalami obesitas.
Intervensi pemerintah melalui penerapan kebijakan, terkait penanggulangan penyakit tidak menular mesti dilakukan secara konsisten agar upaya menekan prevalensi diabetes di tanah air.
JUMLAH penderita diabetes melitus tipe 2 (DM tipe 2) di Indonesia terus meningkat. Diperkirakan jumlah penderita DM tipe 2 di Indonesia telah mencapai 19,5 juta orang.
Pada wanita, diabetes juga bisa sebabkan gangguan atau perubahan hormon yang tidak teratur. Salah satunya adalah siklus menstruasi yang jadi tidak teratur.
Kabar duka Genta KDI meninggal dunia pada 7 Maret 2026 akibat komplikasi diabetes dan gagal ginjal. Simak profil dan perjalanan kariernya.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved