Headline

Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.

Gandeng Ahli dari Korea, Hadirkan Layanan Bedah Plastik Kelas Dunia di dalam Negeri

Putri Anisa Yuliani
27/1/2026 01:34
Gandeng Ahli dari Korea, Hadirkan Layanan Bedah Plastik Kelas Dunia di dalam Negeri
Pakar bedah plastik Korsel, Prof. Dr. Sang-Tae Kim (kanan) bersama dokter bedah plastik SHTB, dr. Amira Danila, Sp.BP-RE. Siloam Hospitals TB Simatupang (SHTB) menginisiasi program knowledge and system transfer melalui pendekatan proctorship dengan melibat(Dok. Siloam Hospitals TB Simatupang (SHTB))

MINAT masyarakat Indonesia terhadap layanan bedah estetika dan perawatan kecantikan terus menunjukkan peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Fenomena ini tidak hanya berkaitan dengan keinginan memperbaiki penampilan, tetapi juga mencerminkan perubahan cara pandang terhadap kesehatan kulit, kualitas hidup, dan rasa percaya diri. 

Namun, di balik meningkatnya permintaan tersebut, masih tampak satu kecenderungan yang konsisten, yakni banyak pasien Indonesia memilih menjalani perawatan estetik ke luar negeri.

Merespons fenomena ini, sebuah upaya kolaboratif yang visioner tengah dilakukan. Siloam Hospitals TB Simatupang (SHTB) menginisiasi program knowledge and system transfer melalui pendekatan proctorship dengan melibatkan Prof Sang-Tae Kim, seorang ahli bedah plastik dan akademisi ternama dari Korea Selatan. Program ini bukan sekadar pelatihan, melainkan upaya sistematis untuk mengadopsi dan mengadaptasi prinsip-prinsip terbaik dari pusat kecantikan global ke dalam konteks Indonesia, dengan harapan dapat berkontribusi pada peningkatan standar layanan secara nasional.

Bangun kepercayaan masyarakat
Menurut Hospital Director SHTB Dewi Wiguna, program ini lahir dari observasi terhadap tingginya minat masyarakat Indonesia melakukan perawatan estetik ke luar negeri, khususnya Korea Selatan. 

"Padahal, kualitas kedokteran kita tidak kalah. Tapi mengapa mereka memilih ke luar negeri? Kami berpikir, mengapa tidak menghadirkan layanan berstandar internasional yang diinginkan masyarakat itu di sini?" ujar Dewi dalam keterangannya yang dikutip Senin (26/1).

Proctorship dipilih karena merupakan metode yang sesuai dengan regulasi dan tata kelola rumah sakit di Indonesia. Melalui program ini, SHTB ingin menjadikan Korea Selatan sebagai benchmark, sekaligus membangun kepercayaan (trust) masyarakat bahwa layanan bedah plastik dan estetika berstandar tinggi dapat diakses di dalam negeri. 

"Targetnya, masyarakat kita tidak perlu keluar negeri, dan bahkan bisa menarik pasien dari luar untuk berobat ke sini," tambahnya.

Sistem one-stop service
Prof Sang-Tae Kim yang memiliki pengalaman lebih dari 25 tahun di bidang bedah plastik dan rekonstruksi menjelaskan, kesuksesan industri kecantikan Korea (K-beauty) terletak pada sistem terintegrasi yang telah disempurnakan selama 30 tahun terakhir.

"Ini bukan hanya tentang tindakan medis. Ini adalah ekosistem utuh yang mencakup teknologi mesin estetik, kosmetik, peralatan medis, obat-obatan, hingga budaya. Semua saling bersinergi dan mendukung, menciptakan one-stop service bagi pasien," jelas Kim yang telah banyak menerbitkan berbagai jurnal terkait bidang bedah plastik dan rekonstruksi.

Pasien yang datang ke Korea, lanjutnya, merasa nyaman karena mendapatkan segala kebutuhan estetiknya di satu tempat dengan proses yang mulus, minim rasa sakit, didukung teknologi dan obat-obatan terpercaya, serta harga yang kompetitif. Faktor kepercayaan (trust) inilah yang menjadi kunci.

"Saya melihat dokter-dokter di Indonesia, sangat kompeten dan pekerja keras. Yang sedikit kurang adalah sistemnya. Kami ingin membawa sistem yang terpercaya itu ke sini," ujar Kim yang pernah menjabat sebagai Kepala Departemen Bedah Plastik dan Rekonstruksi, Ulsan University Hospital di Korea.

Transformasi layanan
Dokter bedah plastik di Aesthetic and Scar Center SHTB, Amira Danila, mengaku sangat diuntungkan dengan program ini. Ia mendapat pendampingan langsung dari Dr. Kim dalam menjalankan berbagai prosedur bedah plastik dan estetika, misalnya dalam tindakan blepharoplasty (operasi kelopak mata), facelift, bahkan tindakan yang relatif sederhana seperti pemberian skin booster kepada pasien.

"Kami belajar hingga ke detail paling kecil, tidak hanya teknik operasi, tetapi juga bagaimana mempersiapkan instrumen, mengelola pasien dengan comorbid (penyakit penyerta), hingga cara berinteraksi yang membuat pasien nyaman," ungkap Amira.

Pembelajaran tidak hanya untuk dokter, tetapi untuk seluruh tim. Perawat, manajer, hingga staf front desk juga dilatih untuk memahami standar pelayanan internasional, karena kenyamanan pasien dimulai dari saat mereka membuka pintu klinik. 

"Kami ingin pasien, baik lokal maupun internasional, merasa dipahami dan aman. Bukan sekadar membuka center, tetapi pelayanannya harus memuaskan," imbuhnya.

Keselamatan prioritas utama
Salah satu poin kunci yang ditekankan dalam program ini adalah pentingnya melakukan prosedur estetika tertentu di rumah sakit, terutama untuk pasien dengan kondisi medis khusus atau yang memerlukan sedasi/anestesi. 

"Keunggulan rumah sakit adalah modalitasnya yang lengkap. Kami memiliki dokter spesialis anestesi, jantung, penyakit dalam, dan lainnya yang siap berkolaborasi. Jika terjadi kondisi darurat sekalipun, kami dapat menanganinya segera," jelas Dewi.

Amira mencontohkan, ia sering menangani pasien dengan penyakit jantung atau diabetes yang membutuhkan operasi estetika fungsional, seperti mengangkat kelopak mata yang menurun karena penuaan hingga mengganggu penglihatan. Dengan dukungan tim multidisiplin, prosedur dapat dilakukan dengan aman dan nyaman.

Medical tourism di Indonesia
Program proctorship ini bukan sekadar kegiatan sekali waktu, melainkan komitmen jangka panjang SHTB untuk terus meningkatkan standar pelayanan. 

"Kami ingin memimpin perubahan dengan menunjukkan cara yang benar dan aman. Dengan demikian, kepercayaan masyarakat terhadap layanan estetik di dalam negeri akan tumbuh," kata Dewi.

Dengan hadirnya standar internasional di Tanah Air, lanjut dr. Dewi, harapannya tren medical tourism tidak lagi satu arah ke luar negeri, tetapi juga dapat menjadikan Indonesia sebagai destinasi layanan estetika dan kesehatan yang diperhitungkan di kawasan.

Di tengah maraknya layanan estetik dengan berbagai klaim, dr. Amira memberikan tips penting bagi masyarakat:
• Pastikan Kredensial Dokter: Pastikan dokter tersebut adalah spesialis bedah plastik yang teregistrasi resmi. Masyarakat dapat mengeceknya di website organisasi profesi seperti Perapi (Perhimpunan Dokter Spesialis Bedah Plastik Indonesia).

• Pastikan Legalitas Fasilitas: Pilih klinik atau rumah sakit yang memiliki izin resmi. Layanan ilegal berisiko tinggi terhadap keselamatan dan menyulitkan penanganan jika terjadi komplikasi.

• Komunikasi dan Ekspektasi: Konsultasi yang baik adalah kunci. Dokter yang bertanggung jawab akan menyamakan ekspektasi, menjelaskan risiko, dan bahkan bisa menyarankan konsultasi psikologis jika menemukan tanda body dysmorphic disorder pada pasien.

Dr. Kim menambahkan, "Dokter harus memiliki mind and heart. Bukan hanya menjalankan bisnis, tetapi membimbing pasien, memastikan mereka memilih jalan yang tepat untuk kesehatannya." (E-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Mirza
Berita Lainnya