Headline

Warga AS menolak kepemimpinan yang kian otoriter.

Siapa Nabil Fahmy? Diplomat Mesir yang Resmi Ditunjuk Jadi Sekjen Liga Arab di tengah Badai Kawasan

Haufan Hasyim Salengke
30/3/2026 12:41
Siapa Nabil Fahmy? Diplomat Mesir yang Resmi Ditunjuk Jadi Sekjen Liga Arab di tengah Badai Kawasan
Mantan Menteri Luar Negeri Mesir Nabil Fahmy.(File Asharq Al-Awsat)

DI tengah kecamuk perang di Timur Tengah yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda, Liga Arab resmi menunjuk diplomat kawakan Mesir, Nabil Fahmy, 75, sebagai Sekretaris Jenderal baru. Penunjukan aklamasi dalam pertemuan virtual para menteri luar negeri Arab, Minggu (29/3) waktu setempat, menempatkan Fahmy pada posisi krusial saat kawasan sedang didera ketegangan luar biasa akibat perang Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran.

Fahmy akan memulai masa jabatan lima tahunnya pada Juli 2026, menggantikan Ahmed Aboul Gheit yang telah menjabat sejak 2016. Penunjukan ini sekaligus menegaskan tradisi panjang sejak 1945--dengan satu pengecualian pada 1979--bahwa sosok Mesir tetap dipercaya memimpin organisasi beranggotakan 22 negara ini.

Tradisi Sekjen dari Mesir

Berdasarkan Piagam Liga Arab, sekretaris jenderal ditunjuk melalui dukungan minimal dua pertiga suara negara anggota. Meski piagam tidak mengatur kewarganegaraan tertentu, posisi tersebut secara tradisional dipegang oleh warga Mesir, mengingat Kairo menjadi markas organisasi yang berdiri sejak 1945 itu.

Satu-satunya pengecualian terjadi pada 1979, ketika diplomat Tunisia, Chedli Klibi, menjabat sebagai Sekjen hingga 1990. Saat itu, keanggotaan Mesir sempat dibekukan setelah penandatanganan perjanjian damai dengan Israel.

Mesir kembali menjadi anggota penuh pada 1989, dan markas besar Liga Arab pun kembali ke Kairo.

Rekam Jejak Diplomatik

Di bidang akademik, Fahmy mendirikan School of Global Affairs and Public Policy di American University in Cairo dan kini menyandang status dekan emeritus.

Ia juga berasal dari keluarga diplomat. Ayahnya, Ismail Fahmy, menjabat Menteri Luar Negeri Mesir pada 1973–1977 di era Presiden Anwar Sadat. Ismail Fahmy mundur dari jabatannya sebagai bentuk protes atas kunjungan bersejarah Sadat ke Yerusalem, yang kemudian membuka jalan bagi hubungan diplomatik Mesir dan Israel.

Integritas sang ayah nampaknya menurun pada Nabil. Sebelum mencapai puncak karier di Liga Arab, ia dikenal sebagai arsitek kebijakan luar negeri yang mumpuni. Nabil pernah menjabat sebagai Menteri Luar Negeri Mesir (2013-2014) dan menjadi ujung tombak diplomasi Kairo sebagai Duta Besar untuk Amerika Serikat (1999-2008) serta Jepang (1997-1999).

Kombinasi antara ketajaman akademis dan pengalaman lapangan ini diharapkan mampu membawa terobosan memimpin 22 negara anggota Liga Arab yang kini menghadapi tantangan eksistensial, dari serangan proksi, stabilitas ekonomi, hingga ancaman program nuklir di kawasan dan dinamika geopolitik yang semakin kompleks. ( Asharq Al-Awsat/The New Arab/B-3)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Haufan Salengke
Berita Lainnya