Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Email Pribadi Direktur FBI Kash Patel Dibobol Hacker Iran, Foto Pribadi Bocor ke Publik

Thalatie K Yani
28/3/2026 04:02
Email Pribadi Direktur FBI Kash Patel Dibobol Hacker Iran, Foto Pribadi Bocor ke Publik
Direktur FBI Kash Patel(Fox News)

BIRO Investigasi Federal (FBI) mengonfirmasi akun email pribadi Direkturnya, Kash Patel, telah menjadi target peretasan oleh kelompok yang berafiliasi dengan Iran. Kelompok yang menamakan diri mereka Handala Hack Team mengklaim bertanggung jawab atas serangan ini dan mulai menyebarkan data pribadi milik bos FBI tersebut.

Pada Jumat lalu, Handala mengunggah dokumen yang diduga sebagai resume milik Patel beserta sejumlah foto pribadi di situs mereka. Dalam pernyataan resminya, kelompok tersebut memberikan peringatan tajam: "Ini hanyalah permulaan kami."

Foto Pribadi yang Bocor

Foto-foto yang kini beredar di media sosial menunjukkan sisi santai Patel yang jauh dari citra birokratisnya. Terlihat logo Handala tertempel sebagai watermark pada foto-foto yang memperlihatkan Patel sedang berpose di samping jet pribadi, bersantai dengan cerutu dan botol minuman keras, hingga berfoto di depan mobil antik.

Menanggapi hal ini, pihak FBI menyatakan telah menyadari adanya "aktor jahat" yang menargetkan informasi email Patel. Namun, mereka menegaskan data yang dicuri bukanlah dokumen negara yang bersifat rahasia.

"Informasi yang dimaksud bersifat historis dan tidak melibatkan informasi pemerintah," tulis pernyataan resmi FBI.

Sebagai langkah tegas, pemerintah Amerika Serikat menawarkan hadiah hingga US$10 juta (sekitar Rp158 miliar) bagi siapa pun yang memiliki informasi untuk mengidentifikasi anggota kelompok Handala.

Motif Balas Dendam dan Rekayasa Ulang

Pakar keamanan siber meragukan kecanggihan serangan ini. Cynthia Kaiser dari Halcyon Ransomware Research Center menduga bahwa data tersebut berasal dari peretasan lama yang "didaur ulang" untuk menciptakan efek kejut hari ini.

"Email-email tersebut terlihat sangat lama, membuat saya percaya bahwa ini kemungkinan adalah kompromi yang terjadi dari kelompok lain di periode waktu berbeda, dan baru disebarkan kembali sekarang," ujar Kaiser.

Sementara itu, Handala mengklaim serangan ini adalah aksi balas dendam setelah Departemen Kehakiman AS menyita beberapa domain milik mereka pekan lalu. Handala mengejek sistem pertahanan siber AS yang dianggap rapuh.

"Sistem yang katanya 'tidak bisa ditembus' milik FBI berlutut dalam hitungan jam oleh tim kami. Inikah keamanan yang dibanggakan pemerintah AS?! Inikah raksasa siber yang mengira ancaman dan suap bisa membungkam suara perlawanan?!" tulis Handala dalam pernyataannya.

Bukan Sasaran Pertama

Serangan terhadap akun pribadi pejabat tinggi memang kerap terjadi karena tingkat proteksinya yang lebih rendah dibandingkan sistem pemerintahan. Dave Schroeder, Direktur Inisiatif Keamanan Nasional di University of Wisconsin-Madison, menyebut akun pribadi sebagai "target yang menarik" bagi peretas untuk mendapatkan publisitas.

Handala sendiri sebelumnya telah mengklaim serangan terhadap perusahaan teknologi medis AS, Stryker, dan menghapus data dalam jumlah besar sebagai bentuk protes atas konflik geopolitik yang melibatkan Iran. Saat ini, otoritas AS terus melacak jejak kelompok ini yang diyakini beroperasi di bawah payung Kementerian Intelijen dan Keamanan Iran (MOIS). (BBC/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya