Headline

Pemudik diminta manfaatkan kebijakan WFA.

Bitcoin Ungguli Emas dan Saham di Tengah Gejolak Global

Media Indonesia
25/3/2026 17:38
Bitcoin Ungguli Emas dan Saham di Tengah Gejolak Global
Ilustrasi.(Freepik)

MENINGKATNYA eskalasi konflik di Timur Tengah memicu ketidakpastian di pasar keuangan global. Di tengah kondisi tersebut bitcoin justru menunjukkan ketahanan dengan kenaikan sekitar 12% dalam 60 hari terakhir dan diperdagangkan di kisaran US$70.000-US$71.000 per Selasa (24/3). 

Sebaliknya indeks S&P 500 turun sekitar 4%. Harga emas terkoreksi hingga 16% dan mencatatkan penurunan terbesar sejak 1983 dengan menyentuh level sekitar US$4.400 per ons troi. Kondisi ini mendorong meningkatnya perhatian investor terhadap bitcoin sebagai alternatif lindung nilai di tengah gejolak pasar.

Menanggapi dinamika pasar itu, Vice President Indodax, Antony Kusuma, menjelaskan bahwa kinerja kuat bitcoin saat krisis bukanlah fenomena baru, melainkan pola yang pernah terjadi seperti pada krisis pandemi covid-19, ketegangan AS-Iran 2020, hingga konflik Rusia-Ukraina. 

"Karakteristik bitcoin yang terdesentralisasi, dapat diperdagangkan 24 jam, serta tidak bergantung pada sistem perbankan konvensional menjadikannya relevan di tengah terganggunya stabilitas sistem keuangan akibat konflik geopolitik. Hal ini membuat bitcoin memiliki fungsi praktis sekaligus potensi sebagai alternatif lindung nilai," jelas Antony.

Kepala Strategi Logam JPMorgan, Greg Shearer, menyebutkan penurunan harga emas dipicu oleh aksi sell-off di tengah lonjakan harga minyak akibat konflik di Timur tengah yang meningkatkan kekhawatiran inflasi. Tekanan ini turut didorong oleh penguatan dolar AS serta meningkatnya keuntungan dari obligasi, sehingga membuat emas kurang menarik dibandingkan aset imbal hasil dan berpotensi mengubah pola pembelian emas oleh bank sentral.

Di sisi lain, ketegangan di Timur Tengah yang berdampak pada jalur distribusi energi global di Selat Hormuz, meningkatkan risiko inflasi akibat lonjakan harga minyak. Kondisi ini mendorong ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Dalam kondisi tersebut, emas yang tidak memberikan imbal hasil rutin cenderung kehilangan daya tarik, khususnya bagi investor institusional.

Meski demikian, pasar kripto masih berada dalam fase volatil dengan sentimen yang cenderung berhati-hati. Faktor makroekonomi seperti inflasi dan kebijakan suku bunga masih akan menjadi penentu arah pergerakan harga ke depan. Dengan demikian, investor disarankan untuk tetap memperhatikan manajemen risiko dan memahami dinamika pasar secara menyeluruh sebelum mengambil keputusan investasi.

Sebagai platform perdagangan aset kripto terpercaya di Indonesia, Indodax terus berkomitmen untuk menghadirkan layanan yang aman, transparan, dan mudah diakses oleh masyarakat. Pihaknya juga secara rutin mempublikasikan data Proof of Reserves (PoR) yang dapat diakses publik di CoinMarketCap serta aktif mendorong literasi dan edukasi agar masyarakat dapat berinvestasi aset kripto secara bijak dan bertanggung jawab. (Ant/I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya