Headline

Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.

Cegah Krisis di Dalam Negeri, Turki Tambah Stok dan Batasi Ekspor Pangan

Cahya Mulyana
18/3/2026 23:12
Cegah Krisis di Dalam Negeri, Turki Tambah Stok dan Batasi Ekspor Pangan
ilustrasi.(dok.MI)

PEMERINTAH Turki memutuskan untuk sementara membatasi ekspor sejumlah komoditas makanan untuk memerangi kenaikan harga akibat spekulasi, di tengah ketegangan Timur Tengah yang diperburuk oleh perang antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel.

"Kementerian Perdagangan dan Kementerian Pertanian telah membatasi ekspor daging ayam, telur, kacang arab, dan kacang-kacangan," menurut Kementerian Pertanian dan Perhutanan Turki kepada RIA Novosti, Rabu (18/3).

Sementara, izin ekspor untuk "daging sapi dan kambing, minyak bunga matahari, biji minyak, kacang lentil hijau dan lentil merah" saat ini tidak akan dikeluarkan.

Langkah yang diumumkan kementerian Turki tersebut dimaksudkan untuk menjaga inflasi tetap terkendali, mendukung produsen lokal, dan menjaga keseimbangan harga di pasar domestik.

Menurut institut statistik Turki, TUIK, tingkat inflasi tahunan di negara tersebut ada pada angka 31,53% hingga akhir Februari.

Lebih lanjut, Pemerintah Turki mengambil langkah untuk mendorong impor melalui pengurangan tarif impor. Salah satunya, tarif nol diberlakukan untuk impor sekitar satu juta ton minyak bunga matahari hingga akhir Mei 2026.

Kemudian, mengingat hasil panen yang kurang baik, tarif impor kacang lentil hijau didiskon ke angka 10% -- sebelumnya berlaku 19,3% -- hingga akhir April. Tarif impor lemon juga dikurangi dari 54% menjadi 10% hingga akhir Juli.

Tarif impor sereal haver (oat) yang awalnya sebesar 130% dikurangi menjadi 30% hingga akhir April, dengan syarat komoditas tersebut adalah untuk produksi muesli, biskuit, dan havermut.

Menurut koran Ekonomim, kenaikan harga material mentah serta gangguan rantai produksi dan pelayaran maritim akibat ketegangan di Timur Tengah menyebabkan terhentinya produksi di sejumlah pabrik Turki, sehingga memaksa sebagiannya untuk meliburkan buruhnya lebih awal.

Perusahaan dengan nasib demikian meliputi tak sedikit perusahaan yang memerlukan plastik, mengingat harga material mentah polimer naik sekitar 60--80%, sementara biaya logistik melonjak hingga 70%. (Ant/P-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Cahya Mulyana
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik