Headline

Indonesia akan alihkan sebagian impor minyak mentah ke AS.

Epic Fury: Wajah Baru Perang AS Berbasis AI dan Serangan Presisi

Ferdian Ananda Majni
04/3/2026 12:51
Epic Fury: Wajah Baru Perang AS Berbasis AI dan Serangan Presisi
Presiden AS Donald Trump.(Anadolu)

OPERASI militer bertajuk Epic Fury yang diklaim menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran menandai babak baru strategi perang Amerika Serikat, mengandalkan kecerdasan buatan, serangan presisi, dan dominasi perang elektronik tanpa pengerahan pasukan darat.

Operasi itu berlangsung sekitar dua bulan setelah misi Absolute Resolve pada 3 Januari, yang disebut-sebut berujung pada penangkapan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, beserta istrinya.

Menurut laporan sejumlah media AS, militer Amerika memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI) dari Palantir Technologies dan Anthropic dalam kedua operasi tersebut. 

Para pengamat menilai pendekatan ini mencerminkan bentuk peperangan baru yang menghindari pengerahan pasukan darat dengan mengedepankan kekuatan militer presisi berbasis intelijen dan AI.

Eliminasi Kepemimpinan dan Operasi Berbasis Efek

Pada tahap awal Epic Fury, militer AS disebut memusatkan serangan udara untuk menargetkan figur-figur kunci, termasuk Khamenei dan Komandan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Mohammad Pakpour. Di Venezuela, Maduro dilaporkan ditangkap hanya dalam waktu tiga jam sejak perintah operasi dikeluarkan.

Strategi ini disebut sebagai serangan presisi tinggi, yakni upaya melumpuhkan kepemimpinan sejak awal konflik. 

"Alih-alih korban massal atau perang skala penuh, karakteristik Operasi Berbasis Efek (EBO) muncul, mencapai tujuan perang dengan menyerang kepemimpinan musuh, militer inti, dan fasilitas industri secara tepat," kata Choi Gil-il, profesor Ilmu Militer di Universitas Sangji.

Untuk mendukung serangan presisi tersebut, Departemen Perang AS dilaporkan menggunakan model AI Claude yang dikembangkan Anthropic melalui kemitraannya dengan Palantir.

Palantir disebut menganalisis data dalam jumlah besar dari satelit, radar, dan drone guna membantu perencanaan operasional serta pengambilan keputusan taktis. Sementara itu, AI Anthropic digunakan untuk analisis intelijen rahasia.

The Wall Street Journal pada 1 Maret melaporkan bahwa militer AS memanfaatkan AI Anthropic dalam operasi serangan udara terhadap Iran. Sistem tersebut menganalisis data intelijen, mengidentifikasi target potensial, serta mensimulasikan berbagai skenario medan perang sebelum serangan dilancarkan.

Namun, penggunaan AI dalam operasi militer memicu perdebatan. Setelah muncul laporan bahwa AI Anthropic digunakan dalam operasi penangkapan Maduro, perusahaan tersebut disebut berselisih dengan Departemen Perang mengenai cakupan pemanfaatan teknologi itu. 

Meski Trump pada 27 bulan lalu memerintahkan penghapusan AI Anthropic dari lembaga pemerintah, sistem tersebut tetap digunakan dalam operasi terhadap Khamenei beberapa jam kemudian.

"Ini menunjukkan betapa terintegrasinya sistem AI ke dalam operasi militer AS," lapor Wall Street Journal.

Perang Elektronik dan Dominasi Informasi

Selain AI, operasi ini juga menonjolkan penggunaan perang elektronik sejak tahap awal. 

Dalam operasi di Venezuela, AS disebut menggunakan senjata baru bernama Discombobulator yang memanfaatkan pulsa elektromagnetik (EMP) untuk melumpuhkan sistem persenjataan dan pasukan lawan.

Dalam serangan ke Iran, militer AS dilaporkan mengerahkan pesawat tempur elektronik EA-18 Growler untuk melumpuhkan radar pertahanan udara serta mengacaukan sistem komunikasi Iran. Dengan keunggulan informasi tersebut, lokasi kepemimpinan Iran dapat diidentifikasi secara presisi.

Yang Uk, peneliti di The Asan Institute for Policy Studies, mengatakan kesulitan operasi pemenggalan kepala terletak bukan pada kurangnya sarana serangan tetapi pada identifikasi lokasi target secara akurat. 

"Mengamati operasi Venezuela dan Iran, saya mendapat kesan bahwa sektor intelijen AS benar-benar telah bangkit kembali. Mereka bergerak karena mereka yakin dengan intelijen mereka," katanya.

Sebaliknya, Iran dinilai gagal membaca niat Washington. Eom Hyo-sik dari Forum Pertahanan dan Keamanan Korea menyatakan meskipun Presiden Trump sebelumnya mengisyaratkan kemungkinan intervensi militer, para pemimpin Iran berkumpul di satu tempat dan diserang. 

"Tampaknya mereka hanya mengantisipasi serangan presisi pada beberapa fasilitas, seperti pemboman fasilitas nuklir Juni tahun lalu, dan tidak pernah membayangkan operasi eliminasi kepemimpinan," jelasnya.

Dampak Regional dan Reaksi Global

Korea Utara turut bereaksi atas perkembangan tersebut. Melalui juru bicara Kementerian Luar Negeri, Pyongyang mengecam keras tindakan AS dan Israel sebagai perilaku tak tahu malu dan seperti penjahat.

Sejumlah pakar memperkirakan pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un, akan semakin menegaskan pentingnya kepemilikan senjata nuklir setelah menyaksikan eliminasi Khamenei.

Meski serangan udara terhadap Korea Utara dinilai jauh lebih kompleks karena kedekatannya dengan Tiongkok dan Rusia serta kemampuan nuklirnya yang mengancam Korea Selatan dan Jepang, wacana tersebut pernah mencuat pada masa jabatan pertama Trump.

Mantan Penasihat Keamanan Nasional Gedung Putih, H. R. McMaster, dalam bukunya terbitan 2024 mengungkapkan bahwa Trump pernah mengejutkan stafnya dengan usulan, "Bagaimana jika kita melenyapkan semua pasukan mereka selama parade militer Korea Utara?"

Sementara itu, jurnalis investigasi AS Bob Woodward dalam bukunya Rage (2020) menyebut bahwa selama masa jabatan pertama Trump, CIA melalui Pusat Misi Korea sempat merancang operasi rahasia untuk menggulingkan kepemimpinan Korea Utara.

Rangkaian operasi ini menandai pergeseran strategi militer Amerika menuju perang presisi berbasis intelijen dan kecerdasan buatan, ini sebuah model yang dinilai efektif secara taktis, namun memunculkan perdebatan etis dan geopolitik yang luas. (Chosun Daily/Fer/I-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Irvan Sihombing
Berita Lainnya