Headline

Faktor penyebab anak mengakhiri hidup bukan tunggal.

Washington Post Umumkan PHK Massal, Pukulan Telak bagi Jurnalisme Berkualitas

Haufan Hasyim Salengke
05/2/2026 06:28
Washington Post Umumkan PHK Massal, Pukulan Telak bagi Jurnalisme Berkualitas
The Washington Post, yang telah memenangi puluhan Pulitzer – yang paling terkenal karena liputan Watergate – telah dimiliki sejak 2013 oleh pendiri Amazon Jeff Bezos.(Anna Moneymaker/Getty Images)

KABAR duka kembali menyelimuti industri media global. Surat kabar legendaris Amerika Serikat, The Washington Post, resmi mengumumkan pemutusan hubungan kerja (PHK) massal pada Rabu (4/2) waktu setempat. Langkah ini diperkirakan akan memangkas drastis cakupan liputan media berusia 150 tahun tersebut di berbagai sektor krusial.

Restrukturisasi besar-besaran ini menyasar hampir sepertiga dari total karyawan perusahaan. Sumber internal menyebutkan bahwa unit olahraga, buku, dan podcast menjadi area yang paling terdampak. Selain itu, biro luar negeri yang menjadi tulang punggung kekuatan internasional The Post, serta tim bisnis dan nasional, tak luput dari efisiensi.

"The Washington Post mengambil sejumlah tindakan sulit namun menentukan hari ini demi masa depan kami," ujar juru bicara perusahaan dalam pernyataan resmi kepada NBC News.

Langkah ini memicu kritik tajam, mengingat The Post dimiliki oleh pendiri Amazon, Jeff Bezos, sejak 2013. Sebagai orang terkaya keempat di dunia dengan kekayaan bersih mencapai US$260 miliar, keputusan Bezos untuk melakukan perampingan dianggap kontradiktif dengan kekuatan finansial yang dimilikinya.

Serikat pekerja Washington Post Guild mencatat bahwa ruang redaksi telah kehilangan sekitar 400 orang dalam tiga tahun terakhir. "PHK ini tidak terhindarkan. Sebuah ruang redaksi tidak bisa dikosongkan tanpa konsekuensi terhadap kredibilitas, jangkauan, dan masa depannya," tegas serikat pekerja.

Hari paling kelam

Mantan Pemimpin Redaksi Marty Baron menyebut hari pengumuman ini sebagai salah satu "hari tergelap dalam sejarah organisasi berita terbesar di dunia." Sentimen serupa diungkapkan oleh Ashley Parker, mantan jurnalis The Post yang kini di The Atlantic. Parker menyebut tindakan manajemen sebagai upaya "membunuh keunikan" yang dimiliki koran tersebut peraih puluhan Pulitzer tersebut.

Krisis internal ini sebenarnya sudah terendus sejak akhir 2024, ketika manajemen secara mendadak membatalkan rencana dukungan editorial bagi kandidat presiden Kamala Harris. Hal ini memicu gelombang pengunduran diri jurnalis senior yang menilai visi pemilik kini tidak lagi selaras dengan integritas jurnalistik dan independensi jurnalistik.

Langkah tersebut menuai kecaman luas dari kritikus yang menilainya sebagai upaya 'cari muka' atau mencari keuntungan politik dari Donald Trump. Dampaknya pun instan dan menyakitkan secara finansial. Lebih dari 200.000 pelanggan membatalkan langganan mereka sebagai bentuk protes atas hilangnya independensi editorial koran tersebut. (NBC/Al-Jazeera/B-3)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Haufan Salengke
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik