Headline

RI tetap komitmen perjuangkan kemerdekaan Palestina.

Siapa Zulkarnain dalam Al-Quran? Identitas, Sejarah, dan Misteri Tembok Ya'juj Ma'juj

Wisnu Arto Subari
13/1/2026 12:37
Siapa Zulkarnain dalam Al-Quran? Identitas, Sejarah, dan Misteri Tembok Ya'juj Ma'juj
Ilustrasi.(Freepik)

DALAM khazanah literatur Islam, nama Zulkarnain menempati posisi yang sangat unik. Ia bukan sekadar tokoh sejarah, melainkan simbol perpaduan antara kekuasaan duniawi yang luas dengan ketundukan spiritual yang total kepada Tuhan.

Kisahnya diabadikan dalam Al-Quran, tepatnya pada Surah Al-Kahf ayat 83-98. Ini sebagai jawaban atas pertanyaan kaum Quraisy yang diinstruksikan oleh pendeta Yahudi untuk menguji kenabian Muhammad SAW.

Makna Nama Zulkarnain: Mengapa "Dua Tanduk"?

Secara etimologi, Zhu al-Qarnayn berarti Pemilik Dua Tanduk. Para ulama dan ahli tafsir memiliki beberapa interpretasi mengenai gelar ini:

  • Kekuasaan Geografis: Ia menguasai wilayah Barat (ujung matahari terbenam) dan Timur (ujung matahari terbit).
  • Simbol Kekuatan: Dalam budaya kuno, tanduk adalah simbol kekuatan dan kedaulatan.
  • Dua Zaman: Ada yang berpendapat ia memimpin atau berpengaruh dalam dua periode peradaban yang besar.
  • Mahkota: Penafsiran fisik yang menyebutkan ia mengenakan mahkota dengan dua tanduk atau memiliki dua tonjolan di kepalanya.

Tiga Perjalanan Besar Zulkarnain

Al-Quran merinci bahwa Allah SWT memberikan Zulkarnain "sebab" atau sarana (kekuatan, ilmu, dan teknologi) untuk mencapai segala sesuatu. Ia melakukan tiga ekspedisi utama:

1. Perjalanan ke Barat (Matahari Terbenam)

Zulkarnain sampai ke suatu tempat di mana ia melihat matahari terbenam di dalam laut yang berlumpur hitam ('aynin hami'ah). Di sana, ia bertemu dengan suatu kaum dan menunjukkan keadilannya dengan menghukum yang zalim dan berbuat baik kepada yang beriman.

2. Perjalanan ke Timur (Matahari Terbit)

Ia melanjutkan perjalanan hingga mencapai tempat matahari terbit. Di sana, ia menemukan kaum yang tidak memiliki pelindung dari sinar matahari. Ini menunjukkan wilayah yang sangat gersang atau masyarakat yang hidup sangat sederhana tanpa bangunan pelindung.

3. Perjalanan ke Utara (Antara Dua Gunung)

Inilah perjalanan paling monumental. Zulkarnain sampai di wilayah di antara dua gunung dan bertemu kaum yang hampir tidak memahami bahasa. Mereka meminta perlindungan dari gangguan Ya'juj dan Ma'juj, kaum perusak yang sering melakukan invasi.

Misteri Tembok Ya'juj dan Ma'juj

Zulkarnain menolak upeti dari kaum tersebut dan memilih membantu mereka dengan kekuatan fisik dan teknologi. Ia membangun tembok raksasa menggunakan potongan-potongan besi yang kemudian disiram dengan tembaga mendidih. Struktur ini sangat kokoh, tidak bisa didaki dan tidak bisa dilubangi.

Secara teologis, tembok ini akan tetap berdiri hingga waktu yang ditentukan Allah menjelang hari kiamat, di mana tembok tersebut akan hancur dan Ya'juj Ma'juj akan keluar memenuhi bumi.

Baca juga : Apa Perbedaan Mendasar Jin, Iblis, dan Setan dalam Islam

Debat Identitas: Siapakah Zulkarnain Sebenarnya?

Hingga saat ini, identitas historis Zulkarnain masih menjadi subjek diskusi hangat di kalangan sejarawan Islam:

Alexander the Great (Iskandar Agung)

Banyak tafsir klasik mengidentikkan Zulkarnain dengan Alexander dari Makedonia. Namun, banyak ulama kontemporer meragukan ini karena Alexander dikenal sebagai politeis (penyembah dewa-dewi), sedangkan Zulkarnain dalam Al-Quran digambarkan sebagai monoteis yang taat.

Baca juga : Asal Usul Jin Menurut Islam Diciptakan sebelum Adam dari Api Samum

Cyrus the Great (Koresy Agung)

Teori yang dipopulerkan oleh sarjana seperti Abul Kalam Azad menyatakan bahwa Zulkarnain adalah Cyrus the Great dari Persia. Argumennya: Cyrus adalah raja yang saleh, dikenal adil, pembebas bangsa Yahudi dari Babel, dan dalam arkeologi ditemukan relief Cyrus mengenakan mahkota bertanduk dua.

Raja-Raja Yaman (Al-Adzwa')

Beberapa sejarawan Arab berpendapat Zulkarnain berasal dari dinasti Himyar di Yaman, karena gelar Zhu (seperti Zhu Nuwas, Zhu Jadan) adalah ciri khas penamaan raja-raja Yaman kuno.

Baca juga : Asal Usul Malaikat Menurut Islam Makhluk Cahaya yang Tercipta sebelum Adam

Kepemimpinan Zulkarnain: Model Ideal Penguasa

Terlepas dari siapa sosoknya secara historis, Al-Quran menekankan karakter kepemimpinannya sebagai pelajaran bagi umat manusia:

  1. Integritas: Ia tidak mau menerima suap atau upeti saat membangun tembok.
  2. Pemberdayaan: Ia tidak bekerja sendiri, melainkan meminta masyarakat setempat untuk ikut serta ("Bantulah aku dengan kekuatan...").
  3. Tauhid: Ia selalu menyandarkan kesuksesannya kepada rahmat Allah, bukan semata-mata karena kekuatannya sendiri.

Baca juga : Mengenal Aqaid 50 Rincian Sifat Wajib, Mustahil, Jaiz Allah dan Rasul

Practical Checklist: Meneladani Karakter Zulkarnain

Nilai-nilai Zulkarnain sangat relevan untuk diterapkan dalam kepemimpinan organisasi maupun diri sendiri:

Prinsip Implementasi Modern
Memberi Solusi, Bukan Sekadar Janji Fokus pada pembangunan infrastruktur dan sistem yang berkelanjutan untuk masyarakat.
Keadilan Proporsional Tegas kepada pelaku kejahatan dan memberikan apresiasi kepada mereka yang berprestasi.
Pemanfaatan Teknologi Menggunakan sarana (tools) terbaik untuk menyelesaikan masalah besar (seperti tembok besi).
Rendah Hati (Humility) Mengakui bahwa setiap pencapaian besar adalah bentuk "Rahmat dari Tuhanku".

People Also Ask: FAQ Mengenai Zulkarnain

Apakah Zulkarnain seorang Nabi?
Para ulama berbeda pendapat. Sebagian menyebutnya Nabi, namun mayoritas ulama (termasuk Ali bin Abi Thalib) menyebutnya sebagai hamba Allah yang saleh dan raja yang adil, bukan Nabi.

Baca juga : Asal Usul Dajjal Kisah Tamim Ad-Dari, Ciri Fisik, dan Lokasi Kemunculan

Di mana letak Tembok Zulkarnain sekarang?
Secara geografis, banyak yang menunjuk ke Pegunungan Kaukasus (antara Laut Hitam dan Laut Kaspia). Namun, Al-Quran menekankan bahwa tembok tersebut akan hancur/rata dengan tanah saat janji Allah tiba, sehingga mungkin tidak lagi terlihat secara fisik seperti sedia kala.

Apa hubungan Zulkarnain dengan Nabi Khidir?
Beberapa riwayat dalam kitab tarikh menyebutkan Nabi Khidir adalah penasihat atau panglima perang Zulkarnain. Namun hal ini tidak disebutkan secara eksplisit dalam Al-Quran.

Kesimpulan

Zulkarnain adalah sosok prototipe pemimpin ideal yang mendamaikan antara kekuatan militer, kemajuan teknologi, dan ketakwaan. Kisahnya dalam Al-Quran bukan sekadar dongeng masa lalu, melainkan pengingat bahwa kekuasaan adalah amanah yang harus digunakan untuk melindungi yang lemah dan menegakkan keadilan di muka bumi.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya