Headline

Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.

Jaksa Telusuri Dugaan Pembunuhan Berencana akibat Gelombang Teror Bom Mobil di Rusia

Ferdian Ananda Majni
22/12/2025 18:00
Jaksa Telusuri Dugaan Pembunuhan Berencana akibat Gelombang Teror Bom Mobil di Rusia
Presiden Rusia Vladimir Putin (kiri) mengadakan pembicaraan dengan utusan khusus Presiden AS Donald Trump, Steve Witkoff, di Kremlin, Moskow, Rusia, 6 Agustus 2025.(Kantor Pers Kremlin)

SEORANG jenderal senior Rusia tewas dalam ledakan bom mobil di Moskow pada Senin (22/12), setelah sebuah alat peledak yang dipasang di bawah kendaraannya meledak, menurut keterangan penyelidik. Insiden ini menjadi kasus ketiga kematian jenderal Rusia akibat bom mobil dalam kurun waktu satu tahun terakhir.

Serangan tersebut terjadi hampir tepat setahun setelah seorang jenderal berpangkat tinggi Rusia tewas dalam insiden serupa di Moskow, yang kala itu diklaim oleh badan keamanan domestik Ukraina, SBU. Pada April lalu, seorang jenderal Rusia lainnya juga meninggal akibat ledakan bom mobil di wilayah sekitar Moskow.

Letnan Jenderal Fanil Sarvarov, yang menjabat sebagai kepala Direktorat Pelatihan Operasional Angkatan Darat Rusia, meninggal dunia akibat luka-luka yang dideritanya, demikian disampaikan Komite Investigasi Rusia dalam pernyataan resmi.

Foto-foto yang dirilis penyelidik memperlihatkan sebuah mobil putih di area parkir Moskow dengan kerusakan sangat parah. 

Sebagian besar bodi kendaraan tampak hancur, kursi pengemudi berlumuran darah, dan puing-puing berserakan di sekitar lokasi. 

Gambar yang diambil Associated Press menunjukkan aparat penegak hukum bersenjata lengkap bekerja di lokasi kejadian di balik garis polisi.

Komite Investigasi menyebut Sarvarov pernah terlibat dalam perang di Ukraina, tanpa menjelaskan secara rinci. 

Kantor berita pemerintah Tass melaporkan bahwa riwayat militernya mencakup penugasan di Suriah pada 2015-2016 serta operasi melawan pemberontak di Chechnya pada 1990-an. Jenderal berusia 56 tahun itu disebut dipromosikan ke jabatannya saat ini.

Pada hari yang sama, jaksa membuka penyelidikan pidana dan menyatakan bahwa lokasi kejadian tengah diperiksa untuk mengumpulkan bukti forensik.

"Penyelidikan sedang mempertimbangkan berbagai versi pembunuhan. Salah satunya melibatkan kemungkinan pengorganisasian kejahatan oleh dinas rahasia Ukraina," kata Svetlana Petrenko, juru bicara Komite Investigasi dikutip The Washington Post, Senin (22/12).

Hingga Senin (22/12) pagi, juru bicara SBU belum dapat dihubungi untuk dimintai komentar. Badan intelijen militer Ukraina, GUR, juga tidak memberikan tanggapan atas permintaan komentar.

Kematian Sarvarov terjadi setahun setelah ledakan serupa di ibu kota Rusia yang menewaskan Letnan Jenderal Igor Kirillov. 

Pejabat militer berpangkat tinggi itu tewas ketika alat peledak yang dipasang pada sebuah skuter meledak saat ia keluar dari gedung apartemennya. 

Seorang pejabat SBU, yang berbicara dengan syarat anonim karena sensitivitas isu tersebut, menyatakan bahwa badan itu bertanggung jawab atas serangan tersebut.

Pada April lalu, Letnan Jenderal Yaroslav Moskalik juga meninggal dunia setelah sebuah mobil yang dilewatinya meledak di pinggiran Moskow. Penyelidik Rusia kemudian mengatakan bahwa Moskalik telah berada di bawah pengawasan sebelum serangan dan menuding keterlibatan dinas rahasia Ukraina.

Di tengah perkembangan tersebut, negosiasi mengenai proposal perdamaian yang disponsori Amerika Serikat terus berlanjut sepanjang akhir pekan. 

Pejabat AS, Ukraina dan Eropa menggelar pertemuan di Florida. Utusan khusus Washington untuk perundingan, Steve Witkoff, bersama kepala delegasi Kyiv, Rustem Umerov, merilis pernyataan bersama yang menyebut pembicaraan itu sebagai produktif dan konstruktif.

"Perhatian khusus diberikan pada pembahasan jadwal dan urutan langkah selanjutnya," demikian bunyi pernyataan tersebut.

Kirill Dmitriev, kepala dana kekayaan negara Rusia sekaligus figur penting dalam perundingan, juga berada di Miami dan menggelar pertemuan terpisah dengan Witkoff. 

Usai pertemuan itu, Witkoff menyatakan bahwa Rusia tetap sepenuhnya berkomitmen untuk mencapai perdamaian di Ukraina.

Namun, ajudan utama Presiden Rusia Vladimir Putin, Yury Ushakov, menilai sebagian besar proposal tersebut agak tidak konstruktif dan kemungkinan akan ditolak, demikian menurut laporan Tass pada Minggu (21/12).

Sementara itu, pasukan Rusia terus melancarkan serangan di sepanjang garis depan Ukraina timur. 

Pada Minggu (21/12), Ombudsman Hak Asasi Manusia Ukraina, Dmytro Lubinets, menulis di media sosial bahwa pasukan Rusia telah menahan dan mendeportasi secara paksa sekitar 50 warga Ukraina dari desa Hrabovske, dekat perbatasan Rusia di wilayah Sumy, Ukraina timur laut.

Lubinets mengatakan telah mengirim surat kepada komisioner HAM Rusia untuk menuntut pembebasan mereka, tanpa merinci lebih lanjut. Pihak Rusia belum memberikan tanggapan atas tuduhan tersebut.

"Dengan penggerebekan abad pertengahan seperti itu, Rusia di bawah Putin menunjukkan bahwa mereka tidak berbeda dengan kelompok teroris seperti ISIS, Boko Haram, atau Hamas," tulis Menteri Luar Negeri Ukraina Andrii Sybiha di X pada Minggu (21/12). (Fer/I-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Irvan Sihombing
Berita Lainnya