Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Kisah Warga Gaza Mengungsi ke Afrika Selatan, Berangkat tanpa Dokumen Lengkap

Khoerun Nadif Rahmat
15/11/2025 19:08
Kisah Warga Gaza Mengungsi ke Afrika Selatan, Berangkat tanpa Dokumen Lengkap
Dampak serangan militer Israel di utara Kota Gaza, Palestina, Kamis (6/11/2025).(Xinhua)

SEORANG warga Jalur Gaza menjadi bagian dari 153 pengungsi Palestina yang tiba di Afrika Selatan tanpa dokumen keberangkatan lengkap pada pekan ini. Ia menuturkan bahwa rombongan tersebut tidak mengetahui tujuan akhir ketika meninggalkan wilayah Israel.

Dikutip dari Al Jazeera, Loay Abu Saif yang keluar dari Gaza bersama istri dan kedua anaknya menggambarkan proses evakuasi itu sebagai perjalanan panjang penuh penderitaan.

“Kami tidak terlalu yakin bahwa kelompok mana pun, akan mampu melakukan evakuasi semacam ini,” ujar Abu Saif di Johannesburg, sehari setelah pesawat carter yang ditumpanginya mendarat di Bandara Internasional OR Tambo.

Meski begitu, rasa aman yang dirasakannya menjadi hal berharga. “Saya bisa mengatakan saya merasa aman,” tambahnya.

Perlahan, mulai terungkap gambaran mengenai skema transit yang diatur sebuah organisasi nirlaba. Para aktivis menilai Israel mendorong keluarnya warga Palestina dari Gaza dan membantu mereka bermukim di negara lain.

Abu Saif mengatakan kelompoknya justru melihat keterlibatan militer Israel dalam proses perpindahan melalui bandara Israel.

Pesawat yang mereka tumpangi berangkat dari Bandara Ramon, transit di Nairobi, Kenya, lalu mendarat di Johannesburg pada Kamis (13/11) pagi waktu setempat. Namun proses masuk rombongan itu tertahan karena dokumen mereka tidak memiliki cap keberangkatan dari otoritas Israel.

Secara keseluruhan, perjalanan mereka memakan waktu lebih dari 24 jam dan mengharuskan pergantian pesawat. Abu Saif mengaku keluarganya meninggalkan Gaza tanpa mengetahui negara tujuan. Mereka baru mengetahui akan diterbangkan ke Johannesburg setelah naik pesawat kedua di Nairobi.

Pendaftaran melalui Al Majd Europe

Abu Saif menjelaskan bahwa istrinya mendaftarkan keluarga mereka ke organisasi nirlaba Al Majd Europe yang berbasis di Jerman dan memiliki kantor di Yerusalem melalui formulir yang disebarkan di media sosial.

Ia menilai prioritas diberikan kepada keluarga yang membawa anak-anak dengan syarat memiliki dokumen perjalanan Palestina yang sah serta izin keamanan dari Israel.

“Itu semua yang saya tahu tentang kriteria,” katanya.

Terkait jadwal keberangkatan, ia menyebut tidak ada kepastian waktu. “Mereka mengatakan kepada kami, kami akan memberi tahu Anda sehari sebelumnya, itulah yang terjadi,” ujarnya.

Organisasi tersebut juga meminta para peserta tidak membawa barang pribadi selain dokumen penting. Abu Saif mengungkapkan biaya perjalanan dibebankan antara 1.400 hingga 2.000 dolar AS per orang atau sekitar Rp23,4 juta hingga Rp33,4 juta.

Setelah dipilih, mereka dibawa menggunakan bus dari Rafah menuju pos perbatasan Karem Abu Salem untuk pemeriksaan sebelum diterbangkan dari Bandara Ramon. Dokumen mereka tidak diberi cap Israel yang awalnya ia anggap normal karena ketiadaan otoritas Palestina di Gaza.

Namun masalah muncul ketika mendarat di Afrika Selatan. “Kami menyadari masalahnya, ketika kami tiba di Afrika Selatan dan mereka bertanya kepada kami, ‘Dari mana asal kalian?’," ujar Abu Saif.

Nasib Pengungsi Setelah Tiba di Afrika Selatan

Menurut Abu Saif, Al Majd Europe hanya menyediakan bantuan awal selama satu hingga dua minggu sebelum para pengungsi harus mandiri. Banyak dari mereka sudah memiliki rencana jangka panjang.

“Mereka memiliki dokumen untuk Australia, Indonesia, atau Malaysia. Kami dapat mengatakan bahwa 30% dari total penumpang meninggalkan Afrika Selatan pada hari yang sama atau dalam dua hari pertama,” tuturnya.

Otoritas Afrika Selatan mencatat bahwa dari 153 warga Palestina yang tiba, 130 orang memasuki Afrika Selatan sementara 23 lainnya melanjutkan perjalanan ke negara tujuan berikutnya.

Di tengah ketidakpastian itu, Abu Saif menyampaikan satu hal yang diyakini banyak pengungsi. “Orang-orang telah menghitung bahwa biaya hidup di negara mana pun, akan lebih murah dibandingkan dengan biaya hidup di Gaza,” katanya. (Ndf/I-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Irvan Sihombing
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik