Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Goverment Shutdown Berakhir, Trump Rayakan Kemenangan, Demokrat Terbelah

Thalatie K Yani
13/11/2025 12:06
Goverment Shutdown Berakhir, Trump Rayakan Kemenangan, Demokrat Terbelah
Capitol(House TV)

SETELAH 43 hari, penutupan pemerintahan (goverment shutdown) terpanjang dalam sejarah Amerika Serikat akhirnya berakhir. Presiden Donald Trump menandatangani rancangan undang-undang pendanaan pemerintah yang mengakhiri kebuntuan politik di Washington.

Dengan berakhirnya shutdown, pegawai federal kembali menerima gaji, taman nasional dibuka kembali, dan layanan publik yang sebelumnya terhenti kini beroperasi normal. Industri penerbangan yang sempat kacau juga mulai kembali stabil.

Namun di balik normalisasi itu, muncul pertanyaan besar. Apa yang sebenarnya dicapai dari krisis ini? Siapa yang menang?

Shutdown ini dipicu Partai Demokrat di Senat yang menggunakan filibuster untuk menolak rancangan pendanaan sementara yang diajukan Partai Republik. Mereka menuntut agar subsidi asuransi kesehatan bagi warga berpenghasilan rendah diperpanjang, tetapi tuntutan itu tidak membuahkan hasil.

Ketika beberapa senator Demokrat akhirnya memilih untuk membuka kembali pemerintahan, mereka hanya mendapat janji kosong. Sebuah komitmen untuk mengadakan pemungutan suara di Senat tanpa jaminan dukungan dari DPR.

Kemarahan pun merebak di tubuh Partai Demokrat. Sayap progresif menuding Pemimpin Senat Demokrat Chuck Schumer gagal mempertahankan posisi partai. Bahkan Gubernur California Gavin Newsom menyebut kesepakatan itu sebagai “menyedihkan” dan “tanda menyerah.”

Sementara itu, Trump memanfaatkan momentum ini untuk mengklaim kemenangan politik. “Kita membuka kembali negara kita. Seharusnya negara ini tidak pernah ditutup,” ujar Trump.

Dalam wawancara dengan Fox News, Trump juga menyerang Schumer. “Dia pikir bisa memecah Partai Republik, tapi justru Republiklah yang memecahnya,” ujarnya.

Meski popularitas Trump menurun selama krisis ini, ia tidak perlu menghadapi pemilihan lagi, memberi ruang untuk manuver politik tanpa tekanan elektoral langsung.

Kesepakatan pendanaan ini akan membiayai sebagian lembaga pemerintah hingga September, namun Kongres tetap harus meloloskan anggaran tambahan sebelum akhir Januari untuk menghindari shutdown berikutnya.

Sementara Partai Demokrat masih berusaha menyembuhkan luka politik mereka, isu subsidi kesehatan yang menjadi pemicu utama shutdown justru bisa kembali menghantui kedua partai menjelang pemilu paruh waktu 2026.

Di sisi lain, perhatian publik terhadap keberhasilan Trump sempat tergeser oleh isu lain: kasus Jeffrey Epstein. Anggota Kongres Adelita Grijalva baru saja dilantik dan menjadi penandatangan terakhir petisi yang memaksa DPR menggelar pemungutan suara untuk membuka seluruh berkas kasus Epstein.

Trump pun menanggapi di platform Truth Social, menuding Demokrat berusaha mengalihkan perhatian dari kegagalannya dalam krisis shutdown.

“Demokrat mencoba mengangkat kembali hoaks Jeffrey Epstein hanya untuk menutupi betapa buruknya mereka dalam menghadapi shutdown dan banyak hal lainnya,” tulis Trump.

Penutupan pemerintahan memang telah berakhir, namun dampak politiknya masih panjang. (BBC/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik