Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
PARA ilmuwan berhasil menemukan potongan es berusia 6 juta tahun di Antarktika, menjadikannya es tertua yang pernah ditentukan usianya secara langsung. Penemuan ini membuka jendela baru untuk memahami iklim purba Bumi.
Temuan tersebut dipublikasikan pada 28 Oktober di jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS). Menurut peneliti utama Sarah Shackleton dari Woods Hole Oceanographic Institution di Massachusetts, inti es tersebut berfungsi seperti mesin waktu yang memungkinkan ilmuwan menelusuri kondisi Bumi jutaan tahun silam.
Es kuno ini ditemukan di kawasan es biru Allan Hills, Antarktika Timur, antara tahun 2019 hingga 2023. Wilayah itu terletak di ketinggian sekitar 2.000 meter di atas permukaan laut dan dikenal sebagai salah satu tempat paling ekstrem di bumi.
Tim peneliti melakukan pengeboran hingga kedalaman 100-200 meter untuk mengambil sampel es. Usia lapisan tersebut ditentukan melalui pengukuran peluruhan radioaktif isotop argon yang terperangkap dalam gelembung udara di dalam es. Selain itu, analisis isotop oksigen menunjukkan bahwa wilayah Allan Hills mengalami penurunan suhu sekitar 12 derajat Celsius selama enam juta tahun terakhir.
Lapisan es ini berasal dari masa Miosen, periode yang berlangsung antara 23 juta hingga 5,3 juta tahun lalu. Saat itu, Bumi jauh lebih hangat dibanding sekarang, permukaan laut lebih tinggi, dan dihuni oleh hewan purba seperti kucing bertaring pedang, gajah purba, serta badak Arktik.
Penelitian ini juga melibatkan ilmuwan dari Oregon State University. Mereka menilai, dengan mempelajari inti es, para ilmuwan dapat menelusuri kadar gas rumah kaca dan suhu lautan purba untuk memahami pola alami perubahan iklim di masa lalu.
Pengetahuan ini penting untuk membandingkan kondisi Bumi masa kini yang tengah memanas akibat aktivitas manusia dan emisi gas rumah kaca. Es kuno di Allan Hills bisa bertahan karena kombinasi unik dari faktor alam, termasuk pergerakan lapisan es yang sangat lambat, topografi pegunungan yang menjebak es di tempatnya, serta kondisi cuaca ekstrem.
Shackleton menjelaskan, angin kencang di kawasan tersebut terus menyapu salju baru, sementara suhu yang sangat rendah membuat pergerakan es hampir berhenti. “Kondisi inilah yang membuat Allan Hills menjadi salah satu lokasi terbaik di dunia untuk menemukan es tua yang dangkal, sekaligus salah satu tempat paling menantang untuk bekerja di lapangan,” ujarnya. (livescience.com/Z-10)
Ilmuwan berhasil memetakan topografi bawah es Antartika dengan detail luar biasa. Penemuan fitur geologi kuno ini kunci prediksi kenaikan permukaan laut global.
Meskipun masih menjadi salah satu yang terbesar di lautan saat ini, gunung es tersebut kini diperkirakan memiliki luas sekitar 1.182 kilometer persegi setelah "beberapa bagian besar"
Es laut Antartika mencapai puncak musim dingin pada 17 September 2025, namun tetap berada jauh di bawah rata-rata historis.
Penelitian terbaru mengungkap Antartika mengalami perubahan drastis pada lapisan es, lautan, dan ekosistemnya.
Tim ilmuwan Penn State mendeteksi sinyal aneh di bawah lapisan es Antartika menggunakan instrumen NASA ANITA.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved