Headline
Gara-gara Yaqut, Noel ikut ajukan jadi tahanan rumah.
Gara-gara Yaqut, Noel ikut ajukan jadi tahanan rumah.
Kumpulan Berita DPR RI
RUSIA bereaksi keras, Kamis (23/10), setelah Amerika Serikat (AS) menjatuhkan sanksi besar energi terhadap dua perusahaan minyak raksasanya, Rosneft dan Lukoil.
Langkah ini menjadi sanksi ekonomi pertama terhadap Moskow di bawah masa jabatan kedua Presiden Donald Trump.
Meskipun Washington menyebut sanksi itu sebagai upaya menekan Rusia agar menghentikan serangan ke Ukraina, para analis menilai efektivitasnya masih belum pasti.
Kepada wartawan di Kremlin, Presiden Vladimir Putin menyebut sanksi tersebut sebagai tindakan tidak bersahabat namun menilai dampaknya terhadap ekonomi Rusia tidak akan besar.
"Sanksi tersebut memang serius dan akan memiliki konsekuensi tertentu, tetapi tidak akan berdampak signifikan terhadap kesehatan ekonomi kita," katanya dikutip NBC News, Jumat (24/10).
Putin memperingatkan bahwa langkah AS dapat memicu kenaikan tajam harga gas global. Ia menyinggung dinamika politik domestik di AS sebagai alasan di balik keputusan tersebut.
"Mereka yang menyarankan pemerintahan saat ini untuk mengadopsi langkah-langkah tersebut seharusnya bertanya pada diri sendiri, siapa sebenarnya yang mereka layani," sebutnya.
Putin juga menyebut pembatalan pertemuan puncak dengan Trump sebagai keputusan yang bisa dimengerti, namun berharap dialog tetap berlanjut di masa depan.
AS Pilih Jalan Menuju Perang
Mantan Presiden Dmitry Medvedev, kini menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia, menyampaikan kritik lebih keras.
Dalam unggahan media sosialnya, ia menulis "AS adalah musuh kita dan pembawa perdamaian mereka yang cerewet kini telah sepenuhnya mengambil jalan perang dengan Rusia.”
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Maria Zakharova juga menilai kebijakan Washington tidak akan berhasil.
"Jika pemerintahan AS memutuskan untuk mengikuti contoh para pendahulunya yang mencoba memaksa Rusia mengabaikan kepentingan nasionalnya melalui sanksi yang tidak sah, hasilnya akan sama: kegagalan, baik secara politik maupun terhadap stabilitas ekonomi global," tegasnya.
Langkah Washington ini disambut baik oleh Ukraina dan sekutunya di Eropa. Presiden Volodymyr Zelensky menyebut keputusan itu sebagai langkah yang telah lama ditunggu.
"Kita sudah menunggu. Ini akan berhasil. Dan ini sangat penting,” katanya di Brussels.
Uni Eropa juga mengumumkan paket sanksi ke-19 terhadap Rusia, menargetkan sektor energi, lembaga keuangan, serta jaringan kapal tanker minyak armada bayangan yang digunakan Moskow untuk menghindari sanksi global.
Meskipun tekanan meningkat, Rusia menegaskan akan mampu bertahan.
"Negara kami telah mengembangkan kekebalan yang kuat terhadap pembatasan Barat dan akan terus memperkuat potensi ekonomi dan energinya secara bertahap," kata Zakharova.
Data menunjukkan ekonomi Rusia tumbuh 3,6% pada 2024, lebih tinggi dibanding AS yang hanya 2,8%, berkat peningkatan ekspor ke Tiongkok dan India. (H-4)
RENCANA pengendalian bersama Selat Hormuz oleh Amerika Serikat dan Iran menjadi dinamika baru yang berpotensi mengubah peta kekuatan di Timur Tengah, di tengah konflik
PM Jepang Sanae Takaichi menegaskan upaya diplomasi untuk meredakan ketegangan di Selat Hormuz di tengah konflik AS-Israel dan Iran.
Pemerintah Iran membantah keras klaim Presiden Amerika Serikat, Donald Trump terkait adanya pembicaraan penghentian perang.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf membantah adanya pembicaraan dengan Amerika Serikat (AS).
Presiden Donald Trump mengatakan Selat Hormuz akan segera dibuka di bawah pengawasan AS dan Iran.
Hanya beberapa hari setelah pelantikan Presiden Donald Trump pada Januari 2025, serangkaian insiden kecelakaan pesawat fatal mengguncang kepercayaan publik terhadap sistem
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved