Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
TIDAK semua dinosaurus raksasa mengandalkan kekuatan penuh saat berburu. Beberapa lebih memilih presisi dan teknik dibanding brutalitas. Contohnya, Tyrannosaurus rex dikenal dengan tengkorak yang kokoh dan gigitan mematikan, kemampuannya setara dengan buaya modern, namun dalam skala yang jauh lebih besar.
Sebaliknya, Giganotosaurus berevolusi dengan tengkorak yang lebih ringan, dirancang bukan untuk menghancurkan tulang, melainkan untuk mengiris daging dengan efisien.
Kontras ini memperlihatkan bagaimana evolusi menawarkan "strategi" berbeda bagi predator besar, memungkinkan mereka untuk berbagi habitat tanpa bersaing secara langsung.
Penelitian terbaru terhadap 18 spesies theropoda, dinosaurus pemakan daging yang berjalan dengan dua kaki—membongkar fakta menarik: bentuk tengkorak sangat menentukan gaya berburu.
Tengkorak T. rex dirancang untuk kekuatan luar biasa, sementara theropoda besar lainnya seperti Spinosaurus dan Allosaurus lebih mengandalkan gigitan cepat untuk mencabik mangsa.
Studi yang dipublikasikan 4 Agustus di jurnal Current Biology (Cell Press) ini menekankan bahwa meskipun ukurannya serupa, jalur evolusi mereka berbeda drastis, dari bentuk tengkorak hingga teknik menyerang.
Tim peneliti dari University of Bristol, dipimpin oleh Andrew Rowe dan Emily Rayfield, menggunakan teknologi mutakhir seperti CT scan dan pemindaian permukaan 3D. Mereka memetakan tekanan, kekuatan otot, dan efisiensi makan dari tiap spesies.
Pertanyaan utama mereka: apakah dinosaurus berkaki dua raksasa ini menggunakan tengkoraknya dengan cara yang sama? Jawabannya: tidak.
Meski beberapa spesies memiliki tubuh seukuran bus tingkat, tekanan pada tengkorak mereka tidak selalu proporsional. Bahkan, beberapa theropoda kecil menghasilkan tekanan lebih tinggi karena otot rahang yang lebih kuat.
Temuan mengejutkan ini menunjukkan bahwa menjadi predator raksasa tidak selalu berarti harus punya gigitan superkuat untuk menghancurkan tulang.
Sebaliknya, evolusi justru menawarkan efisiensi: mencabik, mengiris, atau menghancurkan, masing-masing punya spesialisasi tersendiri.
Dengan teknologi dan analisis biomekanik terkini, kita kini bisa memahami bahwa di zaman dinosaurus, cara berburu adalah hasil adaptasi cerdas, bukan sekadar adu kuat. (Cell Press, Science Dail/Z-10)
Tyrannosaurus rex (T-Rex) dikenal sebagai predator puncak paling menakutkan di era dinosaurus. Rahangnya yang luar biasa kuat membuatnya seolah tak terkalahkan.
Kini, sebuah penelitian baru yang dipublikasikan di jurnal Nature memberikan jawaban bahwa Nanotyrannus adalah spesies tersendiri, bukan T. rex muda.
Penelitian terbaru ungkap asal kemampuan dinosaurus berjalan dengan dua kaki. Evolusi ekor kuat jadi kunci bipedalisme sejak era proto-dinosaurus.
Para ilmuwan yang menemukan spesies ini mengibaratkan penemuannya seperti memenangkan undian karena spesies baru yang dikenal sebagai Chenanisaurus barbaricus ini sangat langka.
Penggabungan struktur internal yang kompleks dan sistem pergantian gigi ini menjadikan T-rex sebagai predator utama dengan senjata gigi yang hampir sempurna.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved