Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
GEMPA bumi berkekuatan 8,8 magnitudo mengguncang Semenanjung Kamchatka, Rusia, Rabu (30/7), menjadi salah satu gempat terkuat dalam sejarah. Gempa ini memicu kekhawatiran akan tsunami besar di wilayah Pasifik, mengingatkan dunia pada bencana tsunami di Samudra Hindia 2004 dan Jepang 2011. Meski begitu, tsunami yang terjadi kali ini tidak sebesar yang dikhawatirkan.
Semenanjung Kamchatka terletak di “Cincin Api Pasifik,” kawasan yang dikenal aktif secara seismik karena banyaknya gempa bumi dan gunung berapi. Gempa ini terjadi akibat pergerakan lempeng tektonik Pasifik yang bergerak sekitar 8 cm per tahun dan menyusup di bawah lempeng mikro Okhotsk yang lebih ringan.
Proses ini, yang disebut gempa megathrust, terjadi ketika tekanan yang terakumulasi selama ribuan tahun tiba-tiba terlepas dalam hitungan menit. Menurut Dr. Stephen Hicks, dosen seismologi lingkungan di University College London, gempa sebesar ini melibatkan patahan sepanjang ratusan kilometer, yang menghasilkan magnitudo tinggi. Gempa serupa pernah terjadi di wilayah ini pada 1952 dengan kekuatan 9,0 magnitudo, hanya 30 km dari lokasi gempa saat ini.
Gempa ini memicu gelombang tsunami setinggi 4 meter di beberapa wilayah Rusia timur, jauh lebih kecil dibandingkan gelombang puluhan meter pada bencana 2004 dan 2011. Menurut Prof. Lisa McNeill dari University of Southampton, tinggi gelombang tsunami dipengaruhi bentuk dasar laut dan topografi daratan di pesisir. Selain itu, kepadatan penduduk di wilayah terdampak juga menentukan tingkat kerusakan.
USGS melaporkan gempa ini berpusat pada kedalaman 20,7 km di bawah permukaan bumi, yang dapat memperbesar perpindahan dasar laut dan memicu tsunami lebih besar. Namun, Dr. Hicks menduga kedalaman gempa mungkin lebih dalam dari perkiraan awal, yang dapat mengurangi amplitudo gelombang tsunami.
Kemajuan sistem peringatan dini turut mengurangi dampak bencana. Negara-negara di wilayah Pasifik, termasuk Rusia, memiliki pusat peringatan tsunami yang memungkinkan evakuasi cepat. Jutaan warga dievakuasi setelah peringatan dikeluarkan, berbeda dengan tsunami 2004 yang menewaskan lebih dari 230.000 orang karena kurangnya sistem peringatan.
Meski begitu, prediksi waktu gempa tetap sulit. Gempa berkekuatan 7,4 di wilayah yang sama 10 hari sebelumnya mungkin merupakan gempa pendahulu, tetapi tidak dapat memprediksi waktu pasti gempa besar. Pemantauan akan terus dilakukan karena gempa susulan diperkirakan terjadi selama sebulan ke depan, menurut Survei Geofisika Rusia.
Tsunami menyebabkan kerusakan terbatas, terutama di pelabuhan Severo-Kurilsk, Rusia, di mana air merendam fasilitas pengolahan ikan. Meski demikian, tidak ada laporan korban jiwa signifikan, dan dampaknya jauh lebih kecil dibandingkan bencana sebelumnya. Sistem peringatan dini dan respons cepat dari otoritas setempat berhasil mencegah kerugian yang lebih besar. (BBC/Z-2)
Gunung Krasheninnikov di Kamchatka, Rusia, meletus untuk pertama kalinya sejak 1550, hanya beberapa hari setelah gempa bumi magnitudo 8,8.
Pemerintah Rusia secara resmi mencabut peringatan tsunami yang diberlakukan di wilayah timur jauh Semenanjung Kamchatka pada Rabu (30/7).
Gelombang tsunami dahsyat menghantam sebuah kota pesisir di Rusia bagian timur.
Gempa Rusia magnitudo 8,8 picu tsunami di Samudra Pasifik. Simak 7 fakta terbaru dampak, evakuasi, dan wilayah terdampak yang perlu Anda ketahui.
USGS memperbaharui kekuatan gempa di lepas pantai Semenanjung Kamchatka, Rusia menjadi magnitudo 8,8.
Sirkulasi siklonik yang sebelumnya terpantau di selatan Nusa Tenggara Barat sempat berkembang menjadi Bibit Siklon Tropis 96S.
BMKG juga menyampaikan peringatan dini gelombang sedang hingga tinggi di sejumlah perairan, termasuk Perairan Kuala Pembuang, Teluk Sampit, dan Kuala Kapuas.
Kondisi ini dipicu oleh penguatan Monsun Asia dan adanya sistem tekanan rendah di selatan Nusa Tenggara Barat yang membentuk pola konvergensi atau pertemuan angin.
BMKG: Rekayasan atau modifikasi cuaca ini dilakukan untuk mencegah potensi banjir yang kerap terjadi di wilayah Jakarta.
BMKG: hujan sedang yang berlangsung lama atau terjadi berulang dalam waktu berdekatan dapat meningkatkan akumulasi air penyebab banjir.
Selain itu, perhatikan tanda alam seperti awan Cumulonimbus yang berbentuk seperti bunga kol berwarna gelap, yang seringkali menjadi penanda akan terjadinya hujan lebat disertai petir.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved