Headline

Pelaku usaha menagih penyederhanaan regulasi dan kepastian kebijakan dari pemerintah.

BMKG : Waspadai Gelombang Tinggi 1,25–2,5 Meter di Perairan Sumatra Utara 18–20 Februari 2026

Cahya Mulyana
17/2/2026 19:32
BMKG : Waspadai Gelombang Tinggi 1,25–2,5 Meter di Perairan Sumatra Utara 18–20 Februari 2026
ilustrasi.(BMKG)

BADAN Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengingatkan nelayan dan pemangku kepentingan lainnya agar waspada potensi gelombang tinggi yang dapat terjadi di sejumlah perairan Sumatra Utara.

"Gelombang setinggi 1.25-2.5 Meter berpeluang terjadi di sejumlah perairan di Sumatra Utara pada 18-20 Februari 2026," kata Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Kelas II Maritim Belawan Christen Marpaung di Medan, Selasa (17/2).

Gelombang tinggi tersebut dapat terjadi di Perairan Barat Sumatra Utara, Perairan Barat Kepulauan Nias, Perairan Barat Kepulauan Batu, Perairan Timur Kepulauan Nias, Perairan Kepulauan Batu dan Samudra Hindia barat Kepulauan Nias.

Kondisi tersebut berisiko terhadap keselamatan pelayaran bagi perahu nelayan jika kecepatan angin mencapai 15 knot tinggi gelombang mencapai 1.25 Meter, demikian juga dengan kapal tongkang jika kecepatan angin mencapai 16 knot dan tinggi gelombang mencарai 1.5 Meter.

Pola angin di wilayah Indonesia bagian utara umumnya bergerak dari Timur Laut hingga Timur dengan kecepatan angin berkisar 5-30 knot, sedangkan di wilayah Indonesia bagian selatan umumnya bergerak dari Barat hingga Barat Laut dengan kecepatan angin berkisar 6-30 knot.

Disebutkan, hujan dengan intensitas ringan hingga lebat dalam beberapa hari terakhir di sebagian besar wilayah Sumatra Utara, disebabkan adanya konvergensi dan belokan angin di wilayah Sumatera Utara akibat adanya Sirkulasi siklonik (eddy) di Perairan Kalimantan dan Samudera Hindia barat Aceh, serta adanya sistem tekanan rendah (Low) di Samudera Hindia Barat daya Pulau Sumatera.

Hal ini menyebabkan terjadi perlambatan dan penumpukan massa udara di wilayah Sumatra Utara.

Analisis dinamika atmosfer menunjukkan adanya belokan angin (shearline) dan konvergensi angin di sekitar wilayah pantai barat dan pantai timur Sumatra Utara.

Anomali suhu muka laut yang relatif hangat serta kondisi labilitas atmosfer yang cukup kuat turut mendukung pertumbuhan awan konvektif. (Ant/P-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Cahya Mulyana
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik