Headline
Skor dan peringkat Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2025 anjlok.
Skor dan peringkat Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2025 anjlok.
Kumpulan Berita DPR RI
PASUKAN Israel kembali menewaskan sedikitnya 37 warga Palestina di seluruh wilayah Gaza, termasuk 13 orang yang sedang mencari bantuan makanan di pusat distribusi yang dikelola oleh Gaza Humanitarian Foundation (GHF), lembaga bantuan yang didukung Amerika Serikat dan Israel serta kerap menuai kontroversi.
Menurut pejabat kesehatan lokal, pusat distribusi yang seharusnya menjadi tempat harapan kini berubah menjadi apa yang oleh para pengkritik disebut sebagai “lokasi pembantaian manusia.”
Tenaga medis di Rumah Sakit al-Awda, Gaza Tengah, pada Minggu (15/6), mengatakan sedikitnya tiga orang tewas dan puluhan lainnya luka-luka akibat tembakan pasukan Israel saat mencoba mendekati lokasi distribusi bantuan GHF di dekat Koridor Netzarim. Mereka datang demi membawa pulang sekantong makanan untuk keluarga yang kelaparan.
Di Gaza Selatan, sedikitnya 10 warga lainnya tewas dan lebih dari 50 terluka dalam insiden serupa. Banyak korban dibawa ke Rumah Sakit Palang Merah di Rafah.
“Warga mengaku pasukan Israel tidak memberikan peringatan sebelum menembaki kerumunan orang yang kelaparan. Akibatnya, banyak korban sipil berjatuhan,” lapor jurnalis Al Jazeera, Tareq Abu Azzoum, dari Deir el-Balah.
Ahmed al-Masri, salah satu warga yang pulang dengan tangan kosong, menyebut insiden itu sebagai “jebakan mematikan.”
Serangan udara Israel juga mengguncang wilayah Gaza Selatan pada hari yang sama, menewaskan sedikitnya 12 orang. Di kota Beit Lahiya di Gaza Utara, serangan udara lainnya menewaskan tujuh warga.
Kelaparan yang makin parah memaksa ribuan warga Gaza mempertaruhkan nyawa demi mengantre bantuan di titik distribusi, meski nyaris setiap hari terjadi penembakan massal. GHF bahkan dituduh mempolitisasi dan “memersenjatai” bantuan.
Pada Sabtu (14/6), sedikitnya 79 warga Palestina tewas, banyak di antaranya saat mencoba mendapatkan makanan. Rumah Sakit al-Awda dan Al-Aqsa melaporkan 15 kematian terjadi saat warga mendekati pusat distribusi bantuan di Koridor Netzarim.
Militer Israel belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait insiden hari Minggu.
GHF mulai menyalurkan bantuan ke Gaza sejak akhir Mei, usai Israel sedikit melonggarkan blokade total selama tiga bulan atas makanan, obat-obatan, dan kebutuhan penting lainnya.
Namun menurut laporan Al Jazeera, warga Gaza kini menganggap lokasi distribusi GHF sebagai “tempat eksekusi” karena rentetan serangan yang terjadi di sana.
Meski GHF mengklaim menutup semua lokasinya pada Sabtu, ribuan warga tetap berkumpul di sekitar titik distribusi, putus asa karena tak ada tempat lain untuk mencari makanan.
Awal bulan ini, GHF juga sempat menghentikan sementara operasinya akibat serangkaian insiden kekerasan mematikan di mana pasukan Israel menembaki warga yang mengantre bantuan.
Kementerian Kesehatan Gaza menyatakan sejak GHF beroperasi, sedikitnya 274 warga tewas dan lebih dari 2.000 lainnya luka-luka di sekitar titik distribusi bantuan.
Militer Israel mengakui telah menembaki warga sipil, namun berdalih hanya menembak saat “tersangka” menyimpang dari jalur yang ditentukan menuju lokasi distribusi.
Hamas menuduh Israel sengaja menjadikan kelaparan sebagai senjata perang dan menjebak warga sipil tak bersalah dalam “perangkap kematian massal” melalui distribusi bantuan yang dikendalikan.
Israel dan AS menyatakan sistem distribusi baru dimaksudkan untuk menggantikan jaringan bantuan PBB, yang mereka tuduh telah disusupi oleh Hamas, tanpa menyertakan bukti.
Israel juga mengakui mendukung kelompok bersenjata lokal yang dikenal karena aktivitas kriminal, dalam upaya melemahkan Hamas. Kelompok ini juga dituding merampas bantuan untuk dijual kembali.
Namun pejabat PBB membantah Hamas menyalahgunakan bantuan dalam skala besar. Mereka menilai sistem distribusi GHF sangat berisiko, tidak memadai, dan melanggar prinsip-prinsip kemanusiaan.
Sejauh ini, perang Israel di Gaza telah menewaskan hampir 55.300 warga Palestina, sebagian besar adalah warga sipil, dan menghancurkan sebagian besar wilayah padat penduduk tersebut. Lebih dari dua juta orang kini mengungsi dan menghadapi ancaman kelaparan akut.
Indonesia siapkan 8.000 personel TNI untuk bergabung dalam International Stabilization Force (ISF) di Gaza, tunjukkan komitmen misi perdamaian.
PEMERINTAH berencana mengirim 8.000 prajurit TNI ke Gaza, Palestina untuk bergabung dalam International Stabilization Force (ISF). Keputusan itu dinilai sarat risiko
Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) bersama Duta Besar Republik Indonesia untuk Mesir, Kuncoro Giri Waseso, melakukan pertemuan di Kairo, Mesir pada Ahad (8/2).
Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Maruli Simanjuntak merespons perihal rencana pengiriman pasukan perdamaian menyusul bergabungnya Indonesia dalam BoP.
Keikutsertaan Indonesia diĀ Board of PeaceĀ berisiko dimanfaatkan sebagai legitimasi politik bagi agenda yang tidak sejalan dengan nilai yang diperjuangkan terkait kemerdekaan Palestina
PADA 3 Februari, Presiden RI Prabowo Subianto mengadakan pertemuan tertutup dengan spektrum organisasi kemasyarakatan Islam di Istana Negara.
Pakar independen PBB menyerukan agar Lembaga Kemanusiaan Gaza (Gaza Humanitarian Foundation/GHF), yang dibentuk Israel dan Amerika Serikat, untuk segera dibubarkan.
Mantan kontraktor keamanan GHF mengaku kepada BBC, ia menyaksikan rekan-rekannya menembaki warga Palestina.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved