Headline
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
Kumpulan Berita DPR RI
DI mana negara-negara Arab? Pertanyaan ini sering diulang oleh warga Gaza yang merasakan kurangnya dukungan nyata dari negara-negara Arab terhadap penderitaan di Negara Palestina.
Konflik antara Israel dan Palestina yang terus berlarut-larut mengundang kritik atas sikap negara-negara Arab, yang dinilai ‘mandul’ meskipun secara retoris mereka kerap menyuarakan dukungan untuk Palestina.
Di tengah konflik Gaza yang semakin memburuk, solidaritas rakyat terhadap Palestina mulai berkurang di negara Arab.
Melansir dari situs responsible state Sebagian besar negara Arab, termasuk Mesir, Yordania, dan Arab Saudi, memandang mobilisasi rakyat yang pro-Palestina sebagai ancaman terhadap stabilitas domestik mereka sendiri. Akibatnya, beberapa pemerintahan mulai mengekang aktivitas-aktivitas solidaritas ini, dengan alasan menjaga keamanan dan mencegah adanya gejolak sosial.
Pemerintah di dunia Arab cenderung alergi terhadap protes rakyat, tidak hanya terkait Palestina tetapi juga pada isu-isu domestik lainnya.
Para penguasa Arab merasa bahwa mengizinkan protes, terutama yang menyuarakan dukungan untuk Palestina, dapat membuka ruang bagi kritik terhadap kebijakan pemerintah dan mendorong tuntutan untuk perubahan politik.
Selain itu, Ketergantungan ekonomi dan militer pada negara Barat dan Eropa seperti Amerika Serikat semakin memperkuat sikap pasif Negara Arab terhadap Palestina.
Negara-negara Arab yang dianggap "mandul" dalam mendukung Palestina meliputi beberapa negara dengan berbagai alasan, dari kepentingan geopolitik hingga ketergantungan ekonomi. Berikut beberapa negara yang sering mendapat sorotan melansir dari Politico.com dan beberapa sumber lainnya:
1. Mesir
Mesir sering dianggap "mandul" dalam mendukung Palestina karena sejumlah alasan seperti historis, ideologis, dan strategis. Secara historis, hubungan Mesir dengan Palestina pernah mengalami ketegangan.
Insiden seperti pembunuhan pejabat Yordania oleh kelompok Palestina di Kairo pada masa lalu memperburuk pandangan pemerintah Mesir terhadap beberapa kelompok Palestina.
Selain itu, Mesir menunjukkan penolakan tegas terhadap proposal menampung pengungsi Gaza, termasuk usulan baru-baru ini oleh Menteri Luar Negeri AS.
Langkah ini dilatarbelakangi kekhawatiran bahwa pengungsi dalam jumlah besar bisa memicu ketidakstabilan sosial dan politik dalam negeri, mengingat Mesir tidak memiliki tradisi menampung pengungsi Palestina seperti Yordania atau Libanon.
2. Uni Emirat Arab (UEA) dan Bahrain
Kedua negara ini menormalisasi hubungan diplomatik dengan Israel melalui Kesepakatan Abraham pada 2020. Langkah ini dilihat sebagai upaya meningkatkan kerja sama ekonomi dan teknologi dengan Israel, tetapi dianggap oleh Palestina sebagai bentuk pengkhianatan terhadap perjuangan yang sedang dilakukan Palestina demi mencapai kemerdekaan.
3. Yordania
Seperti Mesir, Yordania juga sering menolak adanya pengungsi Palestina. Negara ini khawatir perpindahan besar-besaran akan mengganggu keseimbangan politik dalam negeri.
Selain itu, masyarakat Yordania masih belum melupakan tragedi pada tahun 1948, Yordania menerima warga Palestina sebagai pengungsi di wilayahnya. Namun, setelah mendapatkan perlindungan, kelompok Palestina mencoba menggulingkan monarki Hashemite di negara tersebut.
Kelompok fedayeen bahkan bertindak seperti negara dalam negara, mengabaikan hukum dan peraturan yang berlaku di Yordania. Akibat tindakan ini, mereka akhirnya diusir dari Yordania.
Meskipun mendukung Palestina secara retoris, bantuan konkret dari Yordania sering kali terbatas. Meskipun negara-negara Arab sering dianggap "mandul" dalam mendukung Palestina, masih ada masyarakat yang menunjukkan kepedulian terhadap konflik Israel dan Palestina.
Solidaritas ini tidak terbatas pada pemerintah atau aturan formal, tetapi dapat muncul dari berbagai kalangan yang peduli dengan penderitaan rakyat Palestina. (Media Indonesia/responsiblestate/Politico.com/Frontline Magazine/I-2)
Kepala Staf Gabungan Angkatan Udara AS Jenderal Dan Caine menyatakan operasi gabungan AS-Israel di Iran bertujuan melindungi diri dan mitra regional, mencegah proyeksi kekuatan Iran.
Jenderal Dan Caine menyatakan operasi gabungan AS-Israel di Iran bukan misi semalam dan memperkirakan kerugian tambahan bagi pasukan AS.
ANGGOTA Komisi I DPR RI dari Fraksi Partai NasDem, Amelia Anggraini, menyatakan keprihatinan mendalam atas eskalasi serangan antara Amerika Serikat (AS), Israel dan Iran.
Tentara Israel mengumumkan pembunuhan Hussein Makled, kepala intelijen Hizbullah, di Beirut. Militer AS melaporkan anggota keempat tewas akibat luka-luka dalam operasi melawan Iran
Korps Garda Revolusi Iran menargetkan kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan markas Angkatan Udara Israel dengan rudal Khyber.
Serangan udara Israel-AS di Teheran dan sejumlah wilayah Iran menewaskan 555 orang, termasuk siswa dan tentara. Iran membalas dengan rudal Khayber Shiken ke Tel Aviv, Haifa.
KETUA Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Dadang Kahmad mengatakan Negara-Negara Arab seharusnya lebih tegas untuk menolak gagasan Israel untuk mendirikan Negara Yahudi Israel di Tepi Barat.
NEGARA-negara Arab menolak dengan kuat usulan Presiden Amerika Serikat Donald Trump soal pemindahan warga Gaza.
Tujuan retret ini adalah untuk memperdalam pemahaman tentang pengalaman hidup minoritas Muslim yang beragam.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved