Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
Hari Afro, yang dirayakan setiap tahun di berbagai negara. Tidak hanya sekadar perayaan rambut bertekstur keriting alami, tetapi momen merayakan identitas budaya dan perjuangan melawan rasisme.
Hari Afro adalah panggung untuk menyoroti pentingnya kebanggaan akan warisan Afrika serta melawan stigma sosial dan diskriminasi yang sudah berakar lama. Lalu, apa sebenarnya pengaruh Hari Afro terhadap gerakan anti-rasisme di seluruh dunia? Simak pembahasannya di bawah ini.
Hari Afro memberikan ruang bagi masyarakat untuk merayakan keindahan dan kekayaan budaya Afrika, yang seringkali diabaikan atau diremehkan oleh standar kecantikan konvensional. Dengan memperingati hari ini, dunia secara simbolis mengakui bahwa semua tipe rambut, warna kulit, dan bentuk identitas adalah valid dan indah. Pada dasarnya, perayaan ini mendorong kesadaran bahwa keberagaman merupakan kekuatan yang harus dihargai, bukan dipandang rendah.
Baca juga : Meningkat Pascakonflik di Gaza, Lebih dari 41,2% Muslim di Jerman Alami Rasisme Setiap Hari
Kesadaran ini secara langsung berdampak pada gerakan anti-rasisme dengan mendorong masyarakat untuk menentang standar kecantikan rasis yang telah mengakar kuat dalam industri mode, media, dan budaya populer. Di banyak negara, rambut afro sering kali dipandang tidak profesional atau "tidak sesuai," sehingga perayaan ini menjadi momentum untuk mematahkan persepsi negatif tersebut.
Salah satu bentuk rasisme yang sering kali tidak disadari adalah diskriminasi terhadap penampilan fisik, terutama terhadap rambut dan kulit yang dianggap "berbeda." Di banyak masyarakat, orang kulit hitam sering menghadapi diskriminasi karena rambut alami mereka, baik di tempat kerja, sekolah, maupun di ruang publik.
Hari Afro hadir sebagai platform untuk melawan diskriminasi terinternalisasi ini. Di mana individu dari keturunan Afrika di seluruh dunia diberdayakan untuk merangkul jati diri mereka tanpa merasa harus menyesuaikan diri dengan standar yang tidak mencerminkan siapa mereka sebenarnya.
Baca juga : Tantangan Utama Afrika: Kemiskinan, Kesehatan, Lingkungan, dan Konflik Politik
Dengan semakin banyaknya selebriti, aktivis, dan tokoh publik yang mendukung Hari Afro, stigma terhadap rambut afro mulai pudar, digantikan dengan kebanggaan dan penerimaan yang lebih luas. Gerakan ini juga memberikan ruang bagi anak-anak keturunan Afrika untuk tumbuh dengan keyakinan identitas mereka tidak hanya diterima, tetapi juga dihargai.
Salah satu dampak terbesar Hari Afro terhadap gerakan anti-rasisme adalah peningkatan tekanan pada pemerintah dan institusi untuk mengubah kebijakan diskriminatif terkait penampilan.
Di Amerika Serikat, misalnya, gerakan ini berkontribusi pada pengesahan CROWN Act (Creating a Respectful and Open World for Natural Hair), sebuah undang-undang yang melarang diskriminasi terhadap individu karena gaya rambut alami mereka di tempat kerja dan sekolah.
Baca juga : Hari Afro Sedunia: Cara Menghargai dan Mendukung Rambut Afro
Dengan momentum Hari Afro, negara-negara lain pun mulai melihat pentingnya legislasi serupa, di mana kebebasan berekspresi dan keberagaman diakui secara hukum. Ini bukan hanya soal rambut; ini adalah pengakuan terhadap hak asasi manusia, di mana individu bebas untuk mengekspresikan jati diri mereka tanpa takut dikucilkan atau didiskriminasi.
Hari Afro juga berhasil mengubah narasi media dan budaya populer. Seiring semakin seringnya Hari Afro dirayakan, media mulai menampilkan lebih banyak representasi positif tentang rambut afro, kulit hitam, dan identitas budaya Afrika.
Selebriti, model, dan tokoh masyarakat yang mengenakan rambut afro secara alami di karpet merah, dalam iklan, atau di film, mulai menggantikan standar kecantikan yang homogen.
Baca juga : Hari Afro Sedunia, 15 September: Simak Sejarah, Timeline, dan Tujuannya!
Ini tidak hanya menciptakan ruang bagi keragaman yang lebih luas di industri hiburan, tetapi juga memberikan contoh kepada generasi muda tentang pentingnya mencintai diri sendiri apa adanya.
Dalam dunia di mana standar kecantikan kerap kali terlalu sempit, Hari Afro hadir sebagai perayaan kekuatan, kecantikan, dan identitas alami. Ini membantu membangun kesadaran bahwa setiap orang, terlepas dari ras atau etnis, memiliki hak untuk merasa nyaman dan percaya diri dengan jati diri mereka.
Hari Afro tidak hanya sekadar selebrasi gaya rambut, melainkan sebuah gerakan global yang mendorong perubahan sosial, budaya, dan politik. Melalui perayaan ini, masyarakat diberdayakan untuk melawan rasisme struktural, menentang diskriminasi yang sudah terinternalisasi, dan merayakan keragaman yang ada di seluruh dunia.
Hari Afro menjadi simbol perlawanan yang nyata terhadap stereotip dan standar kecantikan yang kaku, sekaligus harapan bahwa dunia yang lebih inklusif dan adil dapat tercapai. (Z-3)
Joe Willock menjadi sasaran akun anonim setelah gagal memanfaatkan peluang emas di menit-menit akhir pertandingan laga antara Newcastle United dan Crystal Palace di St James' Park.
La Liga kembali diguncang isu rasisme setelah Marcus Rashford jadi sasaran chant rasis saat laga Barcelona vs Real Oviedo.
Naomi Osaka mengecam komentar rasisme Jelena Ostapenko di AS Terbuka 2025.
Tel, yang baru berusia 20 tahun, menjadi sasaran komentar bernada rasial usai Spurs kalah dalam adu penalti melawan PSG pekan lalu.
Mathys Tel menjadi sasaran pesan-pesan kasar di media sosial setelah Spurs kalah 4-3 dari Paris Saint-Germain (PSG) melalui adu penalti setelah sempat unggul dua gol di waktu normal.
Video polisi pukul pengemudi kulit hitam di Jacksonville, Florida, viral dan picu kemarahan publik. Kasus ini soroti kekerasan berlebihan & rasisme sistemik.
Mamdani menegaskan tekadnya untuk memastikan New York menjadi kota yang aman, inklusif, dan tegas dalam menentang segala bentuk diskriminasi.
Ia juga menjelaskan skor penilaian HAM dibagi dalam empat kategori yakni 41-60 rendah, 61-70 cukup, 71-80 tinggi, dan 81-100 sangat tinggi.
Para pengidap HIV/AIDS harus mendapat jaminan kesehatan dari pemerintah.
Ketua Garda Indonesia, Igun Wicaksono menekankan solidaritas profesi dan meminta kebijakan yang tidak menyingkirkan pengemudi semata karena status kependudukan.
Dalam sesi temu media, Dian berbagi pengalaman pribadinya tentang bagaimana ia terus berkarya dan berani memulai hal baru meski telah menginjak usia 40 tahun.
1 dari 2 orang di dunia memiliki sikap ageist, yaitu prasangka, stereotip, atau diskriminasi terhadap seseorang berdasarkan usia.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved