Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
IRAN masih menargetkan mantan Presiden AS, Donald Trump dan mantan Menteri Luar Negeri Mike Pompeo sebagai sasaran untuk dibunuh. Hal ini sebagai balas dendam atas pembunuhan Qasem Soleimani, salah satu pemimpin angkatan bersenjata Iran.
Iran telah berulang kali bersumpah untuk membalas pembunuhan terhadap Soleimani, petinggi Korps Pengawal Revolusi Islam, dalam serangan pesawat tak berawak AS di bandara Baghdad pada Januari 2020.
"Kami berharap kami dapat membunuh Trump, Pompeo, (mantan jenderal AS) Kenneth McKenzie dan para komandan militer yang memberi perintah untuk membunuh Soleimani," ungkao Jenderal Amirali Hajizadeh, komandan unit kedirgantaraan Garda Revolusi Iran, Jumat (24/2).
Trump telah memerintahkan serangan yang berujung kematian Soleimani sebagai tanggapan atas sejumlah serangan terhadap kepentingan AS di Irak yang menurut pemerintahannya dilakukan oleh Iran. Beberapa hari kemudian, Iran membalas dengan menembakkan rudal ke pangkalan udara AS di Irak yang menampung pasukan AS. Tidak ada yang tewas, tetapi Washington mengatakan puluhan orang menderita kerusakan otak traumatis. (AFP/OL-15)
Howard Lutnick mengakui pernah makan siang di pulau pribadi Jeffrey Epstein pada 2012 bersama keluarga, memicu desakan mundur akibat keterangan yang dinilai menyesatkan.
FBI merilis bukti baru berupa rekaman CCTV orang bersenjata di rumah Nancy Guthrie. Savannah Guthrie yakin ibunya masih hidup dan meminta bantuan publik.
Dokumen FBI terbaru mengungkap pengakuan mantan Kepala Polisi Palm Beach yang mengklaim Donald Trump meneleponnya pada 2006 untuk membongkar perilaku menyimpang Jeffrey Epstein.
Militer AS kembali meluncurkan serangan mematikan terhadap kapal terduga pengedar narkoba di Samudra Pasifik. Korban tewas dalam operasi ini mencapai 121 orang.
Ghislaine Maxwell menolak menjawab pertanyaan Komite Pengawas DPR AS terkait skandal Jeffrey Epstein. Ia justru gunakan momen ini untuk mengincar pengampunan.
Kesepakatan tersebut ditandatangani pada 2010 oleh Presiden AS saat itu Barack Obama dan Presiden Rusia Dmitry Medvedev, dan mulai berlaku pada 5 Februari 2011.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved