Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
PRESIDEN Bank Dunia David Malpass, Rabu (15/2), mengumumkan dirinya akan mundur, hampir setahun lebih cepat dari waktu berakhirnya masa jabatannya akibat sikapnya terhadap perubahan iklim.
Tokoh veteran Partai Republik Amerika Serikat (AS) itu ditunjuk sebagai Presiden Bank Dunia pada 2019 ketika Donald Trump menjabat sebagai presiden AS.
Di masa jabatannya, Malpass memimpin Bank Dunia menghadapi berbagai krisis global mencakup pandemi covid-19, invasi Rusia ke Ukraina, dan melambatnya perekonomian dunia.
Baca juga: Bank Dunia Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Global Jadi 1,7%
"Setelah mempertimbangkan dengan matang, saya memutuskan mencari tantangan baru," ujar Malpass dalam sebuah pernyataan resmi yang dirilis Bank Dunia.
"Ini adalah kesempatan agar terjadi peralihan kepemimpinan dengan mulus saat Bank Dunia bekerja keras menghadapi meningkatnya tantangan global," lanjut pria berusia 66 tahun itu.
Selama beberapa bulan terakhir, Malpass menghadapi desakan untuk mundur dari aktivis lingkungan karena dianggap tidak berbuat banyak menghadapi perubahan iklim.
Pada September tahun lalu, aktivis lingkungan menyerukan agar Malpass dipecat setelah dia berulang kali menolak mengatakan bahwa emisi akibat aktivitas manusia bertanggung jawab atas pemanasan global.
Kala itu, Malpass menegaskan dirinya tidak akan mundur meski desakan agar dirinya didepak semakin kuat.
Gedung Putih juga mengkritik Malpass dengan juru bicara Karine Jean-Pierre mengatakan Presiden Bank Dunia seharusnya menjadi pemimpin dalam menghadapi perubahan iklim.
Adapun Bank Dunia, dalam sebuah pernyataan, Rabu (15/2), menegaskan mereka telah bertindak cepat dalam menghadapi tantangan global, salah satunya dengan mengumpulkan dana sebesar US$440 miliar untuk menghadapi perubahan iklim, pandemi, dan masalah lainnya.
"Di bawah kepemimpinan Malpass, Bak Dunia telah menggandakan dana iklim bagi negara berkembang, mencapai rekor US$32 miliar pada tahun lalu," tegas Bank Dunia.
Masa jabatan Malpass seharusnya berakhir pada 2024. (AFP/OL-1)
Perubahan iklim global kini menjadi realitas ilmiah yang tidak terbantahkan dan berdampak langsung pada meningkatnya risiko bencana di berbagai wilayah, termasuk Sumatra.
Analisis global terhadap 31.000 spesies pohon mengungkap tren mengkhawatirkan: spesies pohon yang tumbuh lambat mulai punah, digantikan pohon cepat tumbuh yang rapuh.
Fenomena Bulan yang perlahan menjauh dari Bumi dijelaskan secara ilmiah oleh pakar IPB University.
Di tengah meningkatnya tekanan perubahan iklim dan pemanasan laut, diskusi tentang energi dan kelautan kini tidak lagi berdiri sendiri.
Peneliti mengungkap mekanisme seluler yang membantu tanaman tetap tumbuh meski cuaca ekstrem. Temuan ini menjadi kunci masa depan ketahanan pangan global.
Meski perubahan iklim mengancam es laut, beruang kutub di Svalbard justru ditemukan lebih sehat dan gemuk. Apa rahasianya?
Pernyataannya ini beberapa bulan setelah berselisih dengan Gedung Putih karena tidak mengatakan apakah ia menerima konsensus ilmiah mengenai pemanasan global.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved