Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
Bank Dunia memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global 2023 menjadi 1,7%. Angka itu turun 1,3% dari perkiraan sebelumnya yang dirilis pada Juli 2022. Itu karena mayoritas negara maju diprediksi bakal mengalami perlemahan ekonomi, bahkan resesi di tahun ini.
Sebab melemahnya perekonomian global ialah adanya tantangan terhadap tingkat inflasi yang cenderung meningkat. Hal tersebut kemudian direspons dengan kebijakan suku bunga acuan secara agresif.
Selain itu, investasi juga diprediksi mengalami kemerosotan pada 2023. Perang Rusia dan Ukraina juga menjadi salah satu penyebab perekonomian dunia melemah, sekaligus memperlebar kemungkinan terjadinya resesi global.
Proyeksi Bank Dunia itu dimuat dalam laporan Global Economic Prospects (GEP) yang dirilis pada Selasa (10/1) waktu setempat. Berbagai persoalan yang menuntun perekonomian global ke jurang resesi itu sekaligus menjadi yang kedua dalam satu dekade, ini kali pertama terjadi dalam 80 tahun terakhir.
Bank Dunia memperkirakan 95% negara maju dan sekitar 70% negara berkembang akan mengalami perevisian pertumbuhan ekonomi tahun ini. Selama dua tahun ke depan, pertumbuhan pendapatan per kapita di pasar negara berkembang dan ekonomi berkembang diproyeksikan rata-rata 2,8%, satu poin persentase penuh lebih rendah dari rata-rata 2010-2019.
Sementara di Afrika Sub-Sahara, penyumbang sekitar 60% penduduk dunia yang sangat miskin, pada periode 2023-2024 akan mengalami pertumbuhan pendapatan per kapita rata-rata hanya 1,2%. Itu dinilai bakal menjadi sebab peningkatan kemiskinan, alih-alih menurun.
"Krisis yang dihadapi pembangunan semakin intensif karena prospek pertumbuhan global memburuk. Negara-negara berkembang dan sedang berkembang menghadapi periode multi-tahun dengan pertumbuhan lambat yang didorong oleh beban utang yang berat dan investasi yang lemah karena modal global diserap oleh ekonomi maju yang menghadapi tingkat utang pemerintah yang sangat tinggi dan kenaikan suku bunga," ujar Presiden Grup Bank Dunia David Malpass dilansir dari siaran pers, Rabu (11/1).
"Kelemahan dalam pertumbuhan dan investasi bisnis akan memperparah pembalikan yang sudah menghancurkan di bidang pendidikan, kesehatan, kemiskinan, dan infrastruktur serta tuntutan yang meningkat dari perubahan iklim," tambahnya.
Sementara itu, pertumbuhan di negara maju diproyeksikan melambat dari 2,5% pada tahun 2022 menjadi 0,5% pada tahun 2023. Di Amerika Serikat, pertumbuhan diperkirakan turun menjadi 0,5% pada 2023, atau 1,9 poin persentase di bawah perkiraan sebelumnya dan kinerja terlemah di luar resesi resmi sejak 1970.
Pada 2023, pertumbuhan kawasan Euro diperkirakan hanya 0%, turun sebanyak 1,9 poin persentase. Di Tiongkok, pertumbuhan diproyeksikan sebesar 4,3% pada tahun 2023, juga turun sebesar 0,9 poin persentase di bawah perkiraan sebelumnya.
Namun, di luar Tiongkok, pertumbuhan di pasar negara berkembang dan negara berkembang diperkirakan akan melambat dari 3,8% pada tahun 2022 menjadi 2,7% pada tahun 2023. Itu dinilai mencerminkan permintaan eksternal yang melemah secara signifikan yang diperparah oleh inflasi yang tinggi, depresiasi mata uang, kondisi pembiayaan yang lebih ketat, dan tantangan domestik lainnya.
Bank Dunia juga memprediksikan pada akhir 2024 tingkat Produk Domestik Bruto (PDB) di negara berkembang dan akan sekitar 6% di bawah tingkat yang diperkirakan sebelum pandemi. Meskipun inflasi global diperkirakan akan moderat, namun akan tetap berada di atas tingkat pra-pandemi.
Laporan Bank Dunia tersebut juga menyuguhkan penilaian komprehensif pertama dari prospek jangka menengah untuk pertumbuhan investasi di pasar negara berkembang dan ekonomi berkembang. Selama periode 2022-2024, investasi bruto di negara-negara tersebut cenderung tumbuh rata-rata sekitar 3,5%. Laporan itu menjabarkan menu pilihan bagi pembuat kebijakan untuk mempercepat pertumbuhan investasi.
Direktur Grup Prospek Bank Dunia Ayhan Kose menilai, lemahnya investasi menjadi perhatian serius karena dikaitkan dengan produktivitas dan perdagangan yang lemah dan meredam prospek ekonomi secara keseluruhan.
Menurutnya, tanpa pertumbuhan investasi yang kuat dan berkelanjutan, mustahil untuk membuat kemajuan yang berarti dalam mencapai pembangunan yang lebih luas dan tujuan terkait iklim. "Kebijakan nasional untuk mendorong pertumbuhan investasi perlu disesuaikan dengan keadaan negara tetapi selalu dimulai dengan membangun kerangka kebijakan fiskal dan moneter yang sehat dan melakukan reformasi komprehensif dalam iklim investasi," kata Kose. (OL-12)
Pemerintah dan pelaku usaha mendorong pembentukan Tim Percepatan Pembangunan dan Pengembangan Kawasan Industri untuk merealisasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional.
PERWAKILAN Aliansi Ekonom Indonesia (AEI) sekaligus Secretary General of the International Economic Association Lili Yan Ing menegaskan target pertumbuhan ekonomi 2026 di angka 5,4% tidak bisa hanya mengandalkan konsumsi masyarakat.
KAMAR Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menilai bahwa tekanan terhadap kelompok kelas menengah bawah menjadi pekerjaan rumah (PR) terbesar khususnya bagi pemerintah dalam menjaga pertumbuhan ekonomi nasional ke depan.
Kerusakan padang lamun di pesisir Jawa dan sebagian Sumatra berpotensi menjadi salah satu sumber emisi karbon tersembunyi terbesar di Indonesia.
Taxco Solution, perusahaan konsultan profesional di bidang pajak, akuntansi, kepabeanan, dan hukum, resmi memperluas jangkauan layanannya dengan membuka Kantor Cabang Palembang.
Presiden Prabowo Subianto menegaskan pertumbuhan ekonomi harus dibarengi pemerataan saat meresmikan 166 Sekolah Rakyat. Simak poin penting pidatonya.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved