Jumat 19 Agustus 2022, 13:04 WIB

PBB Minta Rusia Tinggalkan PLTN Zaporizhzhia

Cahya Mulyana | Internasional
PBB Minta Rusia Tinggalkan PLTN Zaporizhzhia

AFP
Pembangkit nuklir Zaporizhzhia.

 

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengatakan, dirinya sangat prihatin dengan situasi di pembangkit listrik tenaga nuklir terbesar di Eropa. Pasalnya, pembangkit nuklir Zaporizhzhia berada di bawah pengeboman dalam konflik Rusia-Ukraina.

Rusia, yang merebut Zaporizhzhia sejak memulai invasinya pada 24 Februari ke Ukraina, mengatakan pihaknya dapat menutup fasilitas itu. Ini menjadi langkah yang akan meningkatkan risiko bencana nuklir.

Usai bertemu dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky di Lviv, Guterres mengatakan, peralatan dan personel militer harus ditarik dari fasilitas itu.

"Fasilitas itu tidak boleh digunakan sebagai bagian dari operasi militer. Sebaliknya, kesepakatan sangat dibutuhkan untuk membangun kembali infrastruktur Zaporizhzhia yang murni sipil dan untuk memastikan keamanan daerah itu," katanya.

Moskow sebelumnya menolak seruan internasional yang tidak dapat diterima untuk zona demiliterisasi di sekitar pabrik, yang masih dioperasikan oleh para insinyur Ukraina di bawah pendudukan Rusia.

Pembangkit listrik terletak di tepi selatan waduk besar yang dikuasai Rusia, pasukan Ukraina menguasai tepi utara. Beberapa hari terakhir telah terlihat sejumlah insiden penembakan di fasilitas itu, dengan kedua belah pihak saling menyalahkan.

Ukraina juga menuduh Rusia menggunakan pabrik itu sebagai tameng bagi pasukannya untuk melancarkan serangan melintasi waduk ke kota-kota yang dikuasai Ukraina, yang dibantah Moskow.

Di sisi lain, Zelensky mengatakan, ia dan Guterres menyetujui parameter kemungkinan misi Badan Energi Atom Internasional ke fasilitas nuklir tersebut.

"Rusia harus segera dan tanpa syarat menarik pasukannya dari wilayah pembangkit listrik tenaga nuklir Zaporizhzhia, serta menghentikan provokasi dan penembakan," katanya.

Sebelumnya, dia menuduh Rusia melakukan pemerasan nuklir. Di Moskow, kementerian pertahanan mengatakan Rusia dapat menutup pabrik jika diserang lebih lanjut.

Para pejabat Ukraina menuduh Rusia berencana untuk menutup pabrik untuk memutuskannya dari jaringan listrik Ukraina dan mengalihkannya ke Rusia. Namun, menurut perusahaan energi nuklir negara Ukraina Energoatom mengatakan menutup pabrik akan meningkatkan risiko bencana radiasi di pembangkit listrik tenaga nuklir terbesar di Eropa.

"Memutuskan generator kompleks dari sistem tenaga Ukraina akan mencegah mereka digunakan untuk menjaga bahan bakar nuklir tetap dingin jika terjadi pemadaman listrik di pembangkit," ucap mereka.

Mematikan pembangkit listrik tenaga nuklir adalah operasi rumit yang memerlukan penghentian reaksi berantai nuklir sekaligus melindungi bahan bakar agar tidak memanas dan menyebabkan kehancuran.

Kementerian pertahanan Rusia dan badan intelijen utama Ukraina menuduh pihak lain merencanakan beberapa bentuk insiden di pembangkit nuklir sebagai provokasi yang terjadi selama kunjungan Guterres. (CNA/OL-12)

Baca Juga

AFP/Angela Weiss.

Metallica, Biden, Mariah Carey Lawan Kemiskinan dan Perubahan Iklim

👤Mediaindonesia.com 🕔Minggu 25 September 2022, 21:56 WIB
Metallica dan Mariah Carey pada Sabtu (25/9) memimpin daftar musisi serta Presiden Joe Biden membuat penampilan video yang mengejutkan pada...
AFP/Delil Souleiman.

Presiden Iran Bersumpah Tindakan Tegas pada Gelombang Protes Perempuan

👤Mediaindonesia.com 🕔Minggu 25 September 2022, 18:00 WIB
Raisi menyebut protes itu sebagai kerusuhan dan mendesak tindakan tegas terhadap penentang keamanan dan perdamaian negara dan...
AFP.

Pejuang Palestina Tewas oleh Pasukan Israel di Tepi Barat

👤Mediaindonesia.com 🕔Minggu 25 September 2022, 17:35 WIB
Pasukan Israel membunuh seorang militan Palestina di Tepi Barat yang diduduki pada Minggu (25/9). Sumber-sumber Palestina mengatakan...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya