Headline
Indonesia tangguhkan pembahasan soal Dewan Perdamaian.
Kumpulan Berita DPR RI
UKRAINA menegaskan identitas mereka sebagai bangsa dan negara yang merdeka dan berdaulat melalui Hari Kenegaraan setiap 28 Juli sebagai seruan nyata tidak akan menyerah dari upaya penjajahan bangsa Rusia.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky dalam laman resmi Kantor Kepresidenan menyatakan perayaan Hari Kenegaraan Ukraina pada 28 Juli yang ditetapkan sebagai hari libur nasional mulai tahun ini ditetapkan di tengah saat perang brutal mempertahankan kemerdekaan. "Hari Kenegaraan Ukraina menegaskan hubungan orang Ukraina yang hidup saat ini dengan banyak generasi rakyat Ukraina. Bagaimana membangun negara Ukraina, budaya, identitas, dan karakter Ukraina yang telah berusia lebih dari seribu tahun," tuturnya.
Penetapan Hari Kenegaraan Ukraina pada 28 Juli tahun ini dilaksanakan setelah delapan tahun perang di wilayah Donetsk dan Luhansk di Ukraina Timur yang dijajah Rusia sejak pertengahan April 2014. Dunia mengecam upaya penjajahan yang diperintahkan rezim Vladimir Putin.
Tekanan itu semakin memburuk ketika Rusia menjalankan agresi yang lebih keras pada Februari tahun ini. Upaya keras mempertahankan kemerdekaan Ukraina dengan gagah berani berujung pada krisis yang lebih luas.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menegaskan Ukraina tidak akan membiarkan satu jengkal pun bagian Ukraina diambil alih. Begitu pula upaya mempertahankan nilai-nilai sejarah dan budaya Ukraina dari tekanan Nazisme.
Penindasan Rusia terhadap bangsa Ukraina telah berlangsung lama. Tidak saja melalui pertumpahan darah yang memakan banyak korban jiwa, penjajahan bangsa Rusia terhadap bangsa Ukraina dilakukan melalui represi di segala lini kehidupan.
Terhadap agama, Partai Komunis Uni Soviet melakukan penindasan pada 1922 untuk mendegradasi nilai-nilai kemuliaan agama agar tergantikan oleh ideologi marxisme-leninisme atau Stalinisme. Di bidang kehidupan, pelanggaran HAM paling dahsyat yakni Holodomor berarti kelaparan yang sengaja diciptakan oleh rezim Moskow pada 1932-1933 dengan tujuan meredam gerakan nasionalis di Ukraina. Tidak kurang tiga juta orang mati karena kelaparan.
Tidak cukup menindas keyakinan dan perut bangsa Ukraina, rezim bangsa Rusia sejak lama meredam budaya masyarakat. Hal ini dimulai sejak 1720 ketika Tsar Peter I mengeluarkan dekrit yang melarang penerbitan dalam bahasa Ukraina. Tidak itu saja, Tsar Peter I bahkan memerintahkan untuk dilakukan penyitaan semua buku gereja Ukraina yang tidak berbahasa Rusia. Tata cara peribadatan gereja pun dipaksa untuk menggunakan bahasa Rusia.
Tekanan terhadap bahasa semakin keras di 1847 ketika karya-karya sastra Ukraina seperti Shevchenko, Kostomarov, dan Kulish dilarang oleh Rusia, pembantaian budayawan Ukraina pada 1930-an, dan puncaknya ketika Konferensi Tashkent pada 1979 memutuskan bahasa Rusia menjadi bahasa seluruh wilayah Uni Soviet. Penindasan selama beberapa dekade itu merupakan upaya Rusia yang mencoba membentuk sejarah Ukraina versi mereka dan menyangkal hak rakyat Ukraina untuk memiliki identitas mereka sendiri.
Faktanya, lebih dari 100 tahun yang lalu, sejarawan Ukraina terkemuka Mykhailo Hrushevsky dalam karyanya Sejarah Ukraina-Rus secara ilmiah membuktikan bahwa sejarah kenegaraan Ukraina dimulai dengan Rus kuno. Hari Kenegaraan Ukraina adalah perayaan identitas, persatuan, dan tekad bangsa Ukraina untuk memenangkan perang ini dan membangun kembali Ukraina menjadi negara di Eropa yang sukses dan modern. (RO/OL-14)
Presiden Iran Masoud Pezeshkian desak Rusia dukung hak sah Iran di tingkat internasional pasca-serangan AS dan Israel. Simak detail diplomasi Teheran dan pembelaan hukumnya di PBB
PRESIDEN Rusia Vladimir Putin menyatakan akan mempertimbangkan penghentian pasokan energi Rusia ke Eropa dan mengalihkannya ke pasar Asia.
SEBUAH penemuan luar biasa datang dari tim peneliti Rusia yang berhasil menghidupkan kembali tanaman berbunga asal Siberia, Silene stenophylla, dari biji yang telah terkubur 32 ribu tahun.
Rosatom mengatakan telah mengevakuasi hampir 100 orang dari Iran.
Sistem rudal bahu tersebut disebut akan dipasok Rusia ke Iran secara bertahap dalam beberapa tahun ke depan sebagai bagian dari kontrak bernilai ratusan juta euro.
Uni Eropa mengusulkan larangan transportasi dan layanan minyak Rusia, namun AS menolak dukungan, sementara negara G7 lain belum memberikan janji jelas.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved