Headline

BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.

Mengadu Peruntungan di Davao

Haufan Hasyim Salengke
18/5/2016 01:00
Mengadu Peruntungan di Davao
(AFP)

ADA gula ada semut. Pepatah itu pun berlaku di dunia politik. Kekuasaan baru di Filipina mengundang sejumlah orang berbondong-bondong mengemis jabatan kepada presiden terpilih, Rodrigo Duterte.

Kemarin, para elite politik, taipan bisnis, politikus pembelot, selebritas, dan pemimpin pemberontak tanpa sungkan berdatangan ke Kota Davao, tempat bermukim sang presiden. Kedatangan mereka ke selatan Filipina itu untuk mendapatkan kemurahan hati atau posisi di dalam kabinet pemerintahan yang akan segera dibentuk.

Davao, kota terpencil berdebu yang lama terbaikan akibat ketidakmerataan kue pembangunan yang hanya berpusat di Manila, tiba-tiba menjadi ‘pusat kekuasaan’ baru. Maklum di provinsi itulah Duterte sukses membanguan citra dan karier politiknya, yang menjadi gubernur selama enam periode berturut-turut.

Jika presiden-presiden Filipina sebelumnya atau bahkan para pemimpin di negara lain umumnya berkantor di ibu kota negara, tidak demikian dengan Duterte. Pria berusia 71 tahun itu menolak terbang ke Manila yang berjarak 1.000 kilometer dari Davao untuk menjalani ritual penasbihan kekuasaan yang bersejarah itu.

Bintang film yang beralih menjadi politikus, ER Ejercito, merupakan satu di antara para ‘pelamar jabatan’ yang datang ke markas penjaringan kabinet Duterte di Davao. Dalam pemilu lalu, Ejercito sebenarnya mendukung Wakil Presiden Jejomar Binay yang maju dalam pertarungan pemilihan presiden Filipina.

Saat berbicara kepada AFP di lobi salah satu hotel penting di Davao yang tiba-tiba telah penuh dipesan, Ejercito mengatakan dirinya berharap untuk diangkat menjadi kepala badan pariwisata nasional oleh sang presiden.

“Saya harus bergerak maju. Saya tidak bisa hidup dalam kegelapan. Dengan pengalaman saya di pemerintah daerah dan pariwisata, saya bisa membantu pemerintahan yang akan datang,” tegasnya.

Ejercito mengatakan ia harus menunggu 9 jam di sebuah pusat bergaya privat yang berubah menjadi tempat resepsi presiden terpilih. Meski akhirnya bisa berbicara dengan Duterte selama 40 menit, belum ada komitmen kuat yang disepakati.

Tak seperti Ejercito, beberapa pelamar jabatan kabinet lainnya lebih beruntung. “Saya kehilangan kata-kata,” kata politikus veteran Manny Pinol, kemarin, setelah Duterte menunjuknya sebagai menteri pertanian dalam pemerintahan baru.
Pinol, bagaimanapun, ialah kawan lama Duterte dan berasal dari Filipina Selatan sehingga lebih mudah diterima pria yang berjuluk Presiden Rody itu.

Figur lain yang terlihat di Davao ialah mi­liarder Lucio Tan, orang keempat terkaya di Filipina dan kroni diktator Ferdinand Marcos. Ghadzali Jaafar, seorang pemimpin senior Front Pembebasan Islam Moro (MILF), kelompok bersenjata yang telah mengobarkan pemberontakan selama puluhan tahun, menunggu dalam antrean di pusat penerimaan pada Senin (16/5). Juara tinju dunia profesional Manny Pacquiao, seorang pendukung Binay yang memenangi kursi di Senat, pun disebut-sebut juga berencana untuk menemui Duterte.


Kepentingan pribadi

Pakar dari De La Salle University di Manila, Ri­c­hard Javad Heydarian, mengatakan fenomena beralih kesetiaan telah menjadi hal yang endemik di Filipina. Para politikus negara itu kerap didorong kepentingan pribadi daripada ideologi.

Alasan memilih Davao sebagai pusat penjaringan kabinet lebih kepada hal positif. Maklum daerah itu menjadi sorotan internasional karena kekerasan terkait dengan pemberontakan muslim dan komunis, atau penculikan untuk uang tebusan oleh kelompok militan. Duterte, presiden pertama dari selatan Filipina, telah berjanji selama kampanye untuk menyebarkan atau meratakan pembangunan ekonomi di luar ‘kekaisaran Manila’. (AFP/Hym/I-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Zen
Berita Lainnya