Headline
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Kumpulan Berita DPR RI
PETUGAS penyelamat bergegas mencari korban selamat setelah gempa dengan magnitudo 7,2 melanda Haiti pada Sabtu (14/8) pagi, yang menewaskan sekitar 304 orang dan merobohkan bangunan di negara Karibia itu.
Pusat gempa, yang mengguncang rumah-rumah dan membuat penduduk setempat yang ketakutan mencari tempat yang aman, berada sekitar 100 mil (160 kilometer) melalui jalan darat di sebelah barat pusat ibu kota padat penduduk, Port-au-Prince.
"Banyak rumah hancur, orang meninggal dan beberapa berada di rumah sakit," kata Christella Saint Hilaire, 21, yang tinggal di dekat pusat gempa.
"Saya berada di rumah saya ketika mulai bergetar, saya berada di dekat jendela dan saya melihat semuanya jatuh," ucapnya.
"Runtuhan dinding menghantam punggung saya, tapi saya tidak terlalu terluka," ucapnya.
Gempa awal yang panjang terasa di sebagian besar Karibia. Itu merusak sekolah serta rumah di semenanjung barat daya Haiti, menurut gambar yang diunggah oleh saksi.
Badan perlindungan sipil negara itu mengatakan beberapa jam setelah gempa bahwa jumlah korban tewas telah melonjak menjadi 304, terus meningkat sepanjang hari dari laporan awal sebanyak 29 kematian.
Baca juga: PM Baru Haiti Janji Segera Gelar Pemilu
Badan tersebut mengatakan ratusan orang terluka dan hilang. Pun 160 orang tewas di departemen Selatan negara itu saja, di daerah pusat gempa.
"Tanggapan awal, baik oleh penyelamat profesional dan anggota masyarakat telah menyebabkan banyak orang diangkat dari reruntuhan. Rumah sakit terus menerima korban yang terluka," tambahnya.
Dengan ribuan orang terluka, rumah sakit di daerah yang paling parah dilanda gempa sudah berjuang memberikan perawatan darurat dan setidaknya tiga di kota Pestel, Corailles dan Roseaux benar-benar penuh, menurut kepala badan perlindungan sipil Jerry Chandler.
Haiti mengumumkan keadaan darurat sebagai tanggapan atas bencana tersebut dan seorang pejabat Gedung Putih mengatakan Presiden AS Joe Biden telah menyetujui untuk memberikan bantuan segera.
"Dalam masa yang sudah menantang bagi rakyat Haiti, saya sedih dengan gempa bumi yang menghancurkan ini," kata Biden.
Negaranya, tambahnya, siap untuk menaksir kerusakan akibat bencana itu dan membantu upaya untuk memulihkan mereka yang terluka dan yang harus dibangun kembali.
Warga membagikan gambar di media sosial tentang upaya untuk mengangkat orang-orang dari reruntuhan bangunan yang runtuh. Kerusakan parah dilaporkan terjadi di pusat kota, yang sebagian besar terdiri dari tempat tinggal dan bangunan satu lantai. Sementara itu, kerusakan di kota Les Cayes tampak signifikan, termasuk runtuhnya sebuah hotel bertingkat.
Perdana Menteri Haiti Ariel Henry, yang mensurvei kerusakan melalui helikopter, menyatakan keadaan darurat selama satu bulan sambil menyerukan kepada bangsanya untuk menunjukkan solidaritas dan tidak panik.(AFP/OL-5)
Rakyat Haiti merayakan kelolosan pertama dalam lebih dari setengah abad.
BADAI Melissa terus menelan korban di kawasan Karibia. Hingga Kamis (30/10), jumlah korban tewas mencapai sedikitnya 49 orang.
Badai Melissa kategori lima menghantam Jamaika dan Haiti, menewaskan puluhan orang sebelum bergerak ke Kuba dan Bahama dengan kekuatan angin hingga 185 km/jam.
Haiti kacau balau: geng Viv Ansanm kuasai Port-au-Prince. Kenali krisis, sejarah, dan tantangan negara Karibia ini!
Pemerintahan Trump akan mencabut status hukum lebih dari 500.000 migran dari Kuba, Haiti, Nikaragua, dan Venezuela yang dilindungi program pembebasan bersyarat era Biden.
Pemerintah Tiongkok sudah mengevakuasi 51 warga negaranya dari Haiti setelah situasi keamanan di negara itu terus memburuk.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved