Kamis 29 Juli 2021, 08:25 WIB

Bertemu Menhan Prancis, Israel Anggap Serius Skandal Spyware

Nur Aivanni | Internasional
Bertemu Menhan Prancis, Israel Anggap Serius Skandal Spyware

AFP/Jalaa Marey
Menhan Israel Benny Gantz

 

MENTERI Pertahanan Israel Benny Gantz mengatakan kepada Menteri Pertahanan Prancis Florence Parly bahwa negaranya menanggapi tuduhan spionase secara serius mengenai perangkat lunak Pegasus yang dikembangkan oleh perusahaan Israel NSO yang diduga menargetkan Presiden Prancis Emmanuel Macron dan pejabat Prancis lainnya.

Menurut pernyataan Kementerian Pertahanan Israel, Gantz membahas masalah NSO ketika dia bertemu Menhan Prancis Florence Parly dan mengatakan Israel menanggapi tuduhan itu dengan serius.

"Dia mencatat negara Israel menyetujui ekspor produk siber secara eksklusif ke entitas pemerintah, untuk penggunaan yang sah dan hanya untuk tujuan mencegah dan menyelidiki kejahatan dan melawan terorisme," tambah pernyataan itu.

"Dia juga memberi tahu Menteri Parly bahwa para pejabat mengunjungi kantor NSO hari ini dan bahwa Israel sedang menyelidiki tuduhan itu secara menyeluruh," kata pernyataan tersebut.

Parly, kata kementeriannya, mengatakan kepada Gantz tentang klarifikasi yang diharapkan hari ini oleh Prancis dan bergantung pada kepercayaan serta saling menghormati kedua negara. Itu adalah pertemuan pertama menteri pertahanan kedua negara sejak 2013.

Baca juga: Menhan Israel akan Bahas Spyware Pegasus dengan Prancis

Menurut sumber Kementerian Pertahanan pada Selasa, Parly bertujuan untuk mengetahui pengetahuan apa yang dimiliki pemerintah Israel tentang aktivitas klien NSO, dan hal apa yang telah dilakukan dan akan dilakukan di masa depan untuk mencegah alat yang sangat mengganggu itu dibajak.

Pegasus dapat menyalakan kamera ponsel atau mikrofon dan mengambil datanya. Perangkat lunak itu berada di tengah badai setelah daftar sekitar 50.000 target pengawasan potensial di seluruh dunia bocor ke kelompok hak asasi manusia.

Lembaga pertahanan Israel telah membentuk sebuah komite untuk meninjau bisnis NSO, termasuk proses pemberian izin ekspor. Daftar dugaan target Pegasus mencakup setidaknya 600 politisi, 180 jurnalis, 85 aktivis hak asasi manusia, dan 65 pemimpin bisnis.

NSO menegaskan perangkat lunaknya dimaksudkan untuk digunakan hanya dalam memerangi terorisme dan kejahatan lainnya, dan mengatakan bahwa pihaknya mengekspor ke 45 negara.

Selain itu, kata kementeriannya, Gantz juga membahas masalah nuklir Iran serta kekhawatiran tentang pengiriman senjata ke Lebanon. Dia juga bertemu dengan Bernard Emie, kepala dinas intelijen luar negeri Prancis DGSE.(AFP/OL-5)

Baca Juga

AFP/Munir Uz zaman

Bahas Krisis Rohingya, Menlu Sampaikan Dua Hal yang Perlu Jadi Perhatian Dunia

👤Nur Aivanni 🕔Kamis 23 September 2021, 12:27 WIB
Retno menyampaikan apresiasi dari Indonesia kepada pemerintah dan rakyat Bangladesh yang telah bersedia menampung pengungsi...
AFP/Kena Betancur

AS akan Sumbangkan Tambahan 500 Juta Dosis Vaksin Covid-19

👤Basuki Eka Purnama 🕔Kamis 23 September 2021, 11:00 WIB
Sebanyak 500 juta vaksin covid-19 yang dijanjikan AS itu akan berupa vaksin Pfizer dan akan diberikan ke negara miskin dan menengah di...
AFP/Robyn Beck

AS Setujui Vaksin Pfizer Sebagai Booster untuk Lansia dan Warga Berisiko Tinggi

👤Basuki Eka Purnama 🕔Kamis 23 September 2021, 11:00 WIB
Pengumuman itu membuat puluhan ribu warga AS kini berhak mendapatkan vaksin covid-19 dosis ketiga, enam bulan setelah menerima vaksin dosis...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Sarjana di Tengah Era Disrupsi

Toga kesarjanaan sebagai simbol bahwa seseorang memiliki gelar akademik yang tinggi akan menjadi sia-sia jika tidak bermanfaat bagi diri dan orang banyak di era yang cepat berubah ini.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya