Senin 19 Juli 2021, 17:28 WIB

Khawatir Dituntut Pemerintah, Kelompok Hak Asasi di Rusia Bubar

Atikah Ishmah Winahyu | Internasional
Khawatir Dituntut Pemerintah, Kelompok Hak Asasi di Rusia Bubar

AFP/DIMITAR DILKOFF
Seorang pria melintas di jalanan di Moskow, Rusia, Jumat (16/7).

 

SEBUAH kelompok hak asasi di Rusia mengumumkan penutupan karena khawatir para anggota dan pendukungnya dapat dituntut, setelah pihak berwenang memblokir situs webnya karena diduga menerbitkan konten dari organisasi yang "tidak diinginkan".

Tim 29, sebuah asosiasi pengacara dan jurnalis yang mengkhususkan diri dalam kasus pengkhianatan dan spionase serta masalah kebebasan informasi, mengatakan pada Minggu (18/7) bahwa pihak berwenang Rusia menuduhnya menyebarkan konten dari organisasi non-pemerintah Ceko yang telah dinyatakan "tidak diinginkan" di Rusia.

Situs web kelompok itu diblokir pada hari Jumat (16/7) meskipun mereka menampik tuduhan itu, dan pengacaranya mengatakan mereka yakin langkah pemerintah selanjutnya adalah menuntut anggota dan pendukungnya.

Baca jugaKedutaan Besar Korsel untuk Indonesia belum Evakuasi Warga dari Indonesia

“Dalam kondisi ini, kelanjutan kegiatan Tim 29 menciptakan ancaman langsung dan jelas terhadap keselamatan sejumlah besar orang, dan kami tidak dapat mengabaikan risiko itu,” kata kelompok itu, seraya menambahkan bahwa mereka akan menghapus semua konten online untuk menghindari risiko apa pun dan bahwa pengacaranya akan terus mewakili klien mereka dalam kapasitas pribadi.

Penutupan Tim 29 terjadi saat tekanan meningkat pada pendukung oposisi, jurnalis independen, dan aktivis hak asasi manusia di Rusia menjelang pemilihan parlemen September. Pemungutan suara secara luas dilihat sebagai bagian penting dari upaya Presiden Vladimir Putin untuk memperkuat kekuasaannya menjelang pemilihan presiden 2024.

Pemimpin berusia 68 tahun yang telah berkuasa selama lebih dari dua dekade itu, mendorong perubahan konstitusi tahun lalu yang berpotensi memungkinkan dia untuk mempertahankan kekuasaan hingga 2036.

Dalam beberapa bulan terakhir, pihak berwenang Rusia telah meningkatkan tekanan pada media berita independen, menunjuk dua outlet independen populer, Meduza dan VTimes, sebagai “agen asing” dan melarang penerbit outlet media investigasi Proekt, sementara juga mencantumkan jurnalisnya sebagai “agen asing”. VTimes ditutup tak lama setelah itu.

Bulan lalu, pengadilan Moskow melarang organisasi yang didirikan oleh pemimpin oposisi Rusia yang dipenjara, Alexei Navalny dengan menyebut mereka ekstremis. Keputusan tersebut melarang orang-orang yang terkait dengan Yayasan Navalny untuk Memerangi Korupsi dan jaringan regionalnya yang luas untuk mencari jabatan publik.

Banyak sekutu Navalny telah merencanakan untuk mencalonkan diri untuk kursi parlemen dalam pemilihan bulan September di Rusia.

Tim 29, termasuk pengacara terkemuka Ivan Pavlov, terlibat dalam membela yayasan Navalny di pengadilan. Pada bulan April, pihak berwenang Rusia meluncurkan kasus pidana terhadap Pavlov, yang juga mewakili mantan jurnalis yang dituduh melakukan pengkhianatan dalam kasus tingkat tinggi, menuduhnya mengungkapkan informasi terkait penyelidikan polisi. (The Guardian/H-3)

Baca Juga

AFP/JAVED TANVEER

AS Siap Terima Ribuan Warga Afghanistan Lagi

👤Nur Aivanni 🕔Selasa 03 Agustus 2021, 08:08 WIB
Departemen Luar Negeri mengatakan prioritas yang lebih besar sekarang juga akan diberikan kepada warga Afghanistan yang dipekerjakan oleh...
AFP/STR

Singapura akan Sumbang Rp1,4 Miliar untuk Upaya ASEAN Bantu Myanmar

👤Atikah Ishmah Winahyu 🕔Selasa 03 Agustus 2021, 07:05 WIB
“Kami mendesak implementasi cepat dan efektif dari Konsensus Lima Poin yang disepakati pada Pertemuan Pemimpin ASEAN, 24 April...
AFP

AS Tolak Rencana Pemilu Myanmar

👤Nur Aivanni 🕔Selasa 03 Agustus 2021, 06:50 WIB
AS menilai junta Myanmar mempermainkan waktu disaat Menlu AS Blinken bersiap untuk mendorong ASEAN untuk menunjuk seorang utusan. Namun,...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Ini Adalah Pekerjaan Kita

POLDA Metro Jaya menggelar program Vaksinasi Merdeka dengan target seluruh warga DKI Jakarta sudah menerima vaksin covid-19 tahap pertama pada 17 Agustus 2021.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya