Rabu 14 Juli 2021, 11:50 WIB

Aksi Protes Antipemerintah di Kuba, Satu Orang Tewas dan Ratusan Ditangkap

Atikah Ishmah Winahyu | Internasional
Aksi Protes Antipemerintah di Kuba, Satu Orang Tewas dan Ratusan Ditangkap

AFP/YAMIL LAGE
Seorang warga ditangkap dalam aksi demonstrasi di Havana, Kuba

 

SATU orang tewas dan lebih dari 100 lainnya, termasuk jurnalis independen dan pembangkang, telah ditangkap setelah protes antipemerintah di Kuba, dengan beberapa orang masih ditahan.

Seorang pria berusia 36 tahun yang disebut kantor berita negara sebagai Diubis Laurencio Tejeda meninggal dalam protes antipemerintah di pinggiran Havana, Senin (12/7), menurut kementerian dalam negeri.

Kementerian mengatakan turut berduka atas kematiannya, sementara kantor berita mengatakan dia telah terlibat dalam aksi.

Baca juga: AS Desak Kuba Cabut Pembatasan Internet Usai Protes Antipemerintah

Kerabat dan teman dari mereka yang ditahan selama dan setelah demonstrasi bersejarah pada Minggu (11/7) terus mencari berita tentang keberadaan mereka.

"Mereka membawanya dari rumah diborgol dan dipukuli, tanpa baju, tanpa masker," kata seorang perempuan berusia 50 tahun yang tidak ingin disebutkan namanya, menanyakan tentang putranya yang berusia 21 tahun di kantor polisi di ibukota.

"Mereka menangkap banyak (orang) dari lingkungan, tua dan muda," imbuhnya, sebelum pergi dengan tangan kosong.

Gerakan protes kebebasan berbicara, San Isidro Kuba, melalui Twitter Senin (12/7) malam, menerbitkan daftar 144 orang yang ditahan atau dilaporkan hilang setelah ribuan warga Kuba turun ke jalan di puluhan kota besar dan kecil dalam ledakan kemarahan publik yang spontan.

Rombongan demonstran meneriakkan "Turunkan kediktatoran" dalam protes yang dibubarkan polisi di sekitar 40 lokasi berbeda pada Minggu (11/7).

Sekitar 100 demonstran kembali berkumpul di Havana Senin (12/7) malam, meneriakkan, "Turunkan komunisme."

Unjuk rasa tidak seperti yang terlihat sejak revolusi Kuba. Mereka datang ketika negara itu mengalami krisis ekonomi terburuk dalam 30 tahun, dengan kekurangan kronis listrik, makanan, dan obat-obatan serta memburuknya pandemi covid-19 baru-baru ini.

Tetapi menteri luar negeri Kuba Bruno Rodriguez, Selasa (13/7) membantah telah terjadi "wabah sosial" pada Minggu (11/7), bersikeras rakyat masih mendukung revolusi dan pemerintah mereka.

Matikan ekonomi

Havana menyalahkan aksi protes tersebut pada Amerika Serikat (AS) yang mengejar kebijakan ekonomi untuk memprovokasi kerusuhan sosial di negara itu.

Kuba telah berada di bawah sanksi AS sejak 1962. Tapi Washington menunjuk jari pada dekade represi di negara komunis satu partai tersebut.

Gereja Katolik Kuba menyerukan pemahaman dalam sebuah pernyataan yang diterbitkan di situs Konferensi Waligereja, menambahkan bahwa rakyat memiliki hak untuk mengekspresikan kebutuhan, keinginan, dan harapan mereka.

Para uskup juga mengkritik ketidakmampuan pemerintah yang berkontribusi untuk memberikan kontinuitas pada masalah, tanpa menyelesaikannya.

Banyak warga Kuba sedang mencari orang-orang terkasih.

"Mereka mengambil putri saya kemarin (Senin) dan saya tidak mendapat kabar tentang dia," kata seorang perempuan di kantor polisi Havana.

Seorang pemuda mengatakan saudaranya, 25, ditangkap dari rumah tetangga.

"Mereka memberinya pukulan yang luar biasa, secara tidak adil, dan membawanya pergi," katanya.

Seorang pejabat polisi mengatakan kepada anggota keluarga yang khawatir bahwa mereka yang ditangkap dibawa ke pusat penahanan yang berbeda, tanpa memberikan rincian siapa yang pergi ke mana.

Penjabat asisten sekretaris di Biro Departemen Luar Negeri AS untuk urusan Belahan Barat, Julie Chung menyerukan pembebasan segera para tahanan.

"Kekerasan dan penahanan pengunjuk rasa Kuba dan penghilangan aktivis independen mengingatkan kita bahwa Kuba membayar mahal untuk kebebasan dan martabat," katanya melalui Twitter, Senin.

Mereka yang ditahan termasuk pembangkang Guillermo Farinas, mantan tahanan politik Jose Daniel Ferrer, dan artis Luis Manuel Otero Alcantara.

Elemen kontrarevolusioner

Granma, surat kabar resmi Partai Komunis Kuba, mengatakan Presiden Miguel Diaz-Canel telah bertemu dengan pendahulunya, Raul Castro, dan anggota politbiro partai komunis lainnya pada Minggu untuk membahas protes.

“Mereka menganalisa provokasi yang diatur elemen kontrarevolusioner, diorganisir dan dibiayai Amerika Serikat untuk tujuan destabilisasi," kata Granma.

Internet seluler mati di Kuba hampir sepanjang hari Minggu (11/7) dan pada Senin (12/7) pihak berwenang memutuskan akses ke platform media sosial utama, menurut kelompok NetBlocks yang berbasis di London.

AS, Selasa (13/7), mendesak Kuba untuk mengakhiri pembatasan internet dan menghormati suara rakyat dengan membuka semua sarana komunikasi, baik online maupun offline.

Diperlakukan seperti sampah

Di antara mereka yang ditangkap adalah sutradara teater Yunior Garcia, seorang pemimpin gerakan 27N yang lahir setelah protes yang jauh lebih kecil oleh anggota komunitas seni pada 27 November tahun lalu untuk menuntut kebebasan berbicara.

Garcia mengatakan di Facebook bahwa dia dan sekelompok temannya dipukuli dan dengan paksa diseret dan dilemparkan ke dalam truk.

"Kami diperlakukan seperti sampah," katanya, seraya menambahkan mereka dibawa ke pusat penahanan di Havana di mana mereka melihat puluhan anak muda tiba. Dia dibebaskan pada Senin (12/7) sore.

Camila Acosta, koresponden Kuba untuk surat kabar Spanyol ABC, juga ditangkap pada Senin (12/7), menurut editor asingnya.

Kementerian luar negeri Spanyol, Selasa (13/7), mendesak pihak berwenang Kuba untuk menghormati hak untuk memprotes dan menuntut agar Kuba segera membebaskan Acosta.

Protes besar terakhir, dan yang pertama sejak revolusi yang membawa Fidel Castro berkuasa pada 1959, terjadi pada 1994.

Mereka juga menentang kesulitan ekonomi tetapi terbatas di ibu kota dan dengan cepat dilumpuhkan oleh polisi. (France24/OL-1)

Baca Juga

AFP/Kenzo TRIBOUILLARD

UE: Tidak Ada Pembicaraan Kesepakatan Nuklir Iran pada Kamis

👤Nur Aivanni 🕔Selasa 19 Oktober 2021, 08:30 WIB
Pernyataan itu muncul setelah juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran mengatakan negosiator nuklir negara itu, Ali Bagheri, akan pergi ke...
AFP/Andrew Harnik

AS tidak akan Ambil Bagian dalam Pembicaraan Soal Afghanistan yang Digelar Rusia

👤Basuki Eka Purnama, Nur Aivanni 🕔Selasa 19 Oktober 2021, 06:30 WIB
Rusia, Tiongkok, dan Pakistan merupakan negara yang paling aktif berhubungan dengan Taliban sejak kelompok itu mengambil alih kekuasaan di...
AFP/Dimitar DILKOFF

Rusia Tutup Kantor Perwakilan NATO di Moskow

👤Basuki Eka Purnama 🕔Selasa 19 Oktober 2021, 05:30 WIB
Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov mengumumkan hal itu setelah NATO mengusir sejumlah anggota delegasi Moskow di blok tersebut dengan...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Mencegah Proyek Kereta (jadi) Mubazir

Pembengkakan biaya menjadi biang keladi perlu turun tangannya negara membiayai proyek dengan dana APBN.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya