Headline
Buka puasa bersama bukan sekadar rutinitas seremonial.
Buka puasa bersama bukan sekadar rutinitas seremonial.
Kumpulan Berita DPR RI
PENGADILAN di Moskow, Rabu (9/6), menetaplan organisai politik bentukan tokoh oposisi Rusia Alexei Navalny sebagai kelompok ekstremis dan melarang organisasi itu beraktivitas di Rusia.
Keputusan itu berpeluang mengakhiri kiprah organisasi antikorupsi Navalny yang selama ini membongkar praktik suap di pemerintahan Rusia.
"Terbukti bahwa organisasi ini bukan hanya mengeluarkan informasi yang memicu kebencian terhadap pejabat pemerintah namun juga melakukan aksi-aksi ekstreis," ujar juru bicara kejaksaan Rusia Alexei Zhafyarov, di luar gedung pengadilan.
Baca juga: Parlemen Israel akan Adakan Pemungutan Suara pada Minggu
Pernyataan dari Pengadilan Kota Moskow selepas sidang maraton selama 12 jam yang digelar tertutup menyebut keputusan hakim itu mengikat dan berlaku segera.
Navalny, yang dipenjara pada awal tahun ini sekembalinya dia ke Rusia dari Jerman, tempat dia memulihkan diri dari serangan racun, berjanji akan terus berjuang meski adanya keputusan pengadilan itu.
Dalam unggahan di Instagran, dia mengakui bahwa para pendukungnya butuh melakukan perubahan dalam kerja mereka dan meminta mereka untuk beradaptasi.
"Namun, kita tidak akan mundur dari tujuan dan ide kita. Ini adalah negara kita semua," tegasnya.
Jaksa Rusia, April lalu, meminta agar jaringan kantor Yayasan Antokorupsi (FBK) bentukan Navalny dicap sebagai organisasi ekstremis karena berencana melakukan pemberontakan dengan dukungan negara-negara Barat. (AFP/OL-1)
Inggris sebut Epibatidine digunakan untuk meracuni Alexei Navalny. Ini cara kerja racun katak asal Amerika Selatan ini dan dampaknya bagi tubuh manusia.
Lyudmila Navalnaya menyebut temuan toksin katak panah pada jasad Alexei Navalny membuktikan putranya dibunuh.
Pengadilan di Moskow memerintahkan penangkapan in absentia terhadap Yulia Navalnaya, istri dari politisi oposisi Alexey Navalny, dengan tuduhan berpartisipasi dalam organisasi ekstremis.
Majalah Forbes memasukkannya sebagai salah satu orang terkaya di struktur militer Rusia.
Para pendukung Navalny di Rusia, meskipun tanpa harapan untuk perubahan politik, menemukan dukungan bersama dalam menghadapi pemerintahan keras Vladimir Putin.
Yulia Navalnaya meneruskan perjuangan suaminya, Alexei Navalny melawan Putin dengan gerakan Siang Melawan Putin, di mana warga ke TPS memilih kandidat selain Putin.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved