Minggu 02 Mei 2021, 13:48 WIB

Ilmuwan Sebut Pemerintah India Abaikan Peringatan Mutasi Covid-19

Nur Aivanni | Internasional
Ilmuwan Sebut Pemerintah India Abaikan Peringatan Mutasi Covid-19

AFP
Petugas menyaksikan proses kremasi sejumlah jenazah pasien covid-19 di Bangalore, India.

 

FORUM penasihat ilmiah yang dibentuk pemerintah, sebenarnya telah memperingatkan kalangan pejabat India pada awal Maret tentang varian baru covid-19, yang lebih menular dan berbahaya.

Namun terlepas dari peringatan tersebut, empat ilmuwan menyebut pemerintah federal tidak berusaha menerapkan pembatasan besar untuk menghentikan penyebaran virus. Bahkan, jutaan orang yang sebagian besar tidak mengenakan masker, datang ke festival keagamaan dan acara politik yang diadakan Perdana Menteri Narendra Modi.

Baca juga: Pusat Vaksinasi di India Tutup Karena Kehabisan Pasokan

Sementara itu, puluhan ribu petani terus berkemah di tepi New Delhi untuk memprotes perubahan kebijakan pertanian Modi. Negara terpadat kedua di dunia tengah berjuang untuk menahan gelombang kedua infeksi yang jauh lebih parah. Menurut beberapa ilmuwan, krisis pandemi semakin dipercepat oleh varian baru dan varian lain yang pertama kali terdeteksi di Inggris. 

India diketahui melaporkan 386.452 kasus baru pada Jumat waktu setempat. Lonjakan infeksi covid-19 adalah krisis terbesar di India, sejak Modi menjabat pada 2014 lalu. Peringatan tentang varian baru covid-19 pada awal Maret, dikeluarkan oleh Indian SARS-CoV-2 Genetics Consortium atau INSACOG. 

Kabar itu disampaikan kepada seorang pejabat tinggi, yang melapor langsung ke Perdana Menteri Modi. Akan tetapi, kantor pemerintahan Modi tidak menanggapi permintaan komentar terkait hal tersebut.

INSACOG dibentuk sebagai forum penasihat ilmiah oleh pemerintah pada akhir Desember lalu. Tujuannya, mendeteksi varian baru covid-19 yang berpotensi mengancam kesehatan masyarakat. INSACOG menyatukan 10 laboratorium nasional yang mampu mempelajari varian virus.

Baca juga: Kasus Pandemi Covid di India Harus Jadi Pelajaran Bersama

Direktur Institute of Life Sciences yang dikelola negara dan anggota INSACOG Ajay Parida, mengatakan bahwa peneliti INSACOG pertama kali mendeteksi B.1.617, yang sekarang dikenal sebagai varian virus India pada awal Februari.

INSACOG telah membagikan temuannya kepada Pusat Pengendalian Penyakit Nasional (NCDC) Kementerian Kesehatan sebelum 10 Maret. Mereka memperingatkan bahwa infeksi dapat meningkat dengan cepat di beberapa negara bagian. Temuan itu kemudian diteruskan ke Kementerian Kesehatan India. Namun, kementerian tersebut tidak menanggapi permintaan komentar mengenai hal itu.(CNA/OL-11)
 

 

Baca Juga

indianexpress.com

Warga Sydney dan Melbourne Turun ke Jalan Protes Serangan Israel

👤Mediaindonesia.com 🕔Sabtu 15 Mei 2021, 21:02 WIB
Ribuan warga Sydney dan ratusan di Melbourne melakukan protes pada Sabtu (15/5) terhadap serangan Israel di jalur Gaza di tengah hari-hari...
AFP

Soal Konflik Israel-Palestina, Indonesia Bisa Lobi Negara Besar

👤Nur Aivanni 🕔Sabtu 15 Mei 2021, 19:20 WIB
Menurut pengamat dari UI, Indonesia sebaiknya tidak hanya mengeluarkan kecaman terhadap agresi Israel. Namun, juga menggunakan jalur...
AFP

Dua Tornado Hantam Tiongkok, 12 Orang Tewas

👤Nur Aivanni 🕔Sabtu 15 Mei 2021, 18:05 WIB
Wilayah Wuhan menjadi salah satu yang terdampak parah terjangan tornado, dengan ratusan orang terluka, puluhan rumah ambruk dan...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Toleransi tak Pernah Putus di Adonara

Bencana membuat masyarakat Adonara semakin rukun. Ramadan lebih mempersatukan mereka.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya