Rabu 21 April 2021, 23:10 WIB

Sanksi AS Sebabkan Perusahaan Tekstil Tiongkok Rugi Rp895,8 Miliar

Mediaindonesia.com | Internasional
Sanksi AS Sebabkan Perusahaan Tekstil Tiongkok Rugi Rp895,8 Miliar

Antaranews.com
Ilustrasi

 

Salah satu perusahaan tekstil di Daerah Otonomi Xinjiang, Tiongkok, mengalami kerugian hingga 400 juta yuan atau sekitar Rp895,8 miliar sebagai dampak dari sanksi yang dijatuhkan pemerintah Amerika Serikat sejak Desember 2020.

"Semua order berkurang. Kami rugi 400 juta yuan," kata GM Huafu Textile Co Ltd, Li Qiang, ditemui di perusahaannya yang berlokasi di Prefektur Aksu, Daerah Otonomi Xinjiang, Selasa (20/4).

Huafu termasuk salah satu dari beberapa perusahaan di Xinjiang yang terkena sanksi oleh Kementerian Perdagangan AS terkait isu kerja paksa terhadap etnis minoritas Muslim Uighur.

Li membantah tuduhan tersebut dengan mengatakan bahwa 5.000 karyawannya, termasuk 80 persen di antaranya beretnis Uighur, mendapatkan gaji 3.500-4.000 yuan (Rp7,8 - 8,9 juta) per bulan. Upah standar pekerja di Aksu hanya 1.600 yuan per bulan.

Sekitar 2.000 karyawannya tinggal di mes yang dibedakan kamarnya antara pekerja pria dan pekerja wanita tanpa dipungut biaya. "Karyawan kami yang suami-istri sewa rumah di sekitar sini," kata Li.

Di areal perusahaannya juga disediakan kantin halal dan lapangan olahraga khusus untuk para karyawannya.

Dalam menjalankan usahanya, Huafu mengoperasikan mesin pemintal benang dengan menerapkan sistem kerja karyawan tiga jadwal kerja sehari, masing-masing delapan jam. Lima hari kerja dalam sepekan.

Sebelum terkena sanksi, Huafu menjadi pemasok utama merek pakaian jadi ternama berjaringan global, seperti H&M, Uniqlo, Adidas, Nike, dan Zara.

Produk bahan pakaian jadi Huafu diekspor ke Eropa, Amerika Serikat, Jepang, dan Korea Selatan dengan kapasitas ekspor mencapai 100.000 ton per tahun senilai 3 miliar yuan.

"Sejak sanksi tersebut, kami sekarang lebih fokus pada pasar domestik," kata Li.

Pazilia Tursun (27), operator mesin pemintalan benang Huafu, mengaku senang bekerja di perusahaan tersebut.

"Kalau disuruh kerja paksa, tidak mungkin saya dan teman-teman bertahan di sini," ujar perempuan beretnis Uighur yang bekerja di Huafu sejak 2015 itu. (Ant/OL-12)

Baca Juga

AFP/Fabrice COFFRINI

Sekjen PBB Minta Israel Menahan Diri di Jerusalem Timur

👤Basuki Eka Purnama 🕔Senin 10 Mei 2021, 11:09 WIB
Guterres, ungkap Dujarric, mendesak agar status quo di tempat-tempat suci itu terus ditegakkan dan...
AFP/STR

NASA Kritik Jatuhnya Puing Roket Long March 5B

👤Atikah Ishmah Winahyu 🕔Senin 10 Mei 2021, 10:35 WIB
Puing terbaru Long March 5B yang merupakan salah satu potongan terbesar dari puing-puing ruang angkasa yang kembali ke...
AFP/EMMANUEL DUNAND

Sidang Penggusuran Paksa Keluarga Palestina Ditunda

👤Atikah Ishmah Winahyu 🕔Senin 10 Mei 2021, 10:27 WIB
Mahkamah Agung Israel, Senin (10/5), dijadwalkan mendengarkan banding terhadap rencana penggusuran beberapa keluarga Palestina dari...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Berharap tidak Ada Guncangan Baru

LAPORAN Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan ekonomi Indonesia pada triwulan I 2021 tumbuh di angka -0,74% (year on year/yoy).

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya