Headline
Pemerintah utamakan menjaga kualitas pendidikan.
Kumpulan Berita DPR RI
KEMENTERIAN Luar Negeri Rusia mendesak pemerintah AS untuk tidak bermain api setelah Washington, pada Selasa (2/3), mengumumkan sanksi terhadap individu dan entitas Rusia atas dugaan keracunan kritikus Kremlin Alexei Navalny.
Dalam sebuah pernyataan daring, kementerian luar negeri menyebut sanksi AS sebagai serangan anti-Rusia yang bermusuhan dengan dalih yang tidak masuk akal.
"Terlibat dalam masalah internalnya sendiri, Gedung Putih kembali mencoba menumbuhkan citra musuh eksternal. Kami telah berulang kali mengomentari kebijakan Amerika ini, yang tanpa logika dan makna dan hanya semakin memperburuk hubungan bilateral," kata pernyataan tersebut.
Baca juga: Pengkritik Putin, Alexei Navalny Kecam Kasus Pidananya
Kementerian tersebut mengatakan Rusia akan membalas berdasarkan prinsip timbal balik dan terus dengan tegas membela kepentingan nasionalnya.
Kementerian meminta Amerika Serikat untuk menghormati kewajibannya dan menghancurkan senjata kimia, yang tidak dimiliki Rusia sejak 2017. (Xinhua/OL-5)
Intelijen Barat ungkap Rusia kirim drone dan logistik ke Iran.
Laporan intelijen menyebut Rusia mulai mengirim bantuan militer berupa drone hingga logistik ke Iran. Benarkah ini babak baru aliansi mematikan kedua negara?
Rusia disebut menawarkan penghentian bantuan intelijen kepada Iran dengan syarat Amerika Serikat (AS) menghentikan dukungan intelijen kepada Ukraina.
Dalam konflik yang terjadi selama Ramadan, Iran disebut memperoleh dukungan dari kedua negara tersebut, meskipun Beijing menyatakan sikap netral.
Grossi mengatakan kepada wartawan bahwa IAEA telah menerima informasi tentang insiden tersebut dari Iran dan Rusia.
Iran bantah kabar Mojtaba Khamenei dilarikan ke Rusia untuk operasi medis. Sementara itu, pejabat tinggi Ali Larijani dikonfirmasi tewas akibat serangan Israel.
Inggris sebut Epibatidine digunakan untuk meracuni Alexei Navalny. Ini cara kerja racun katak asal Amerika Selatan ini dan dampaknya bagi tubuh manusia.
Lyudmila Navalnaya menyebut temuan toksin katak panah pada jasad Alexei Navalny membuktikan putranya dibunuh.
Pengadilan di Moskow memerintahkan penangkapan in absentia terhadap Yulia Navalnaya, istri dari politisi oposisi Alexey Navalny, dengan tuduhan berpartisipasi dalam organisasi ekstremis.
Majalah Forbes memasukkannya sebagai salah satu orang terkaya di struktur militer Rusia.
Para pendukung Navalny di Rusia, meskipun tanpa harapan untuk perubahan politik, menemukan dukungan bersama dalam menghadapi pemerintahan keras Vladimir Putin.
Yulia Navalnaya meneruskan perjuangan suaminya, Alexei Navalny melawan Putin dengan gerakan Siang Melawan Putin, di mana warga ke TPS memilih kandidat selain Putin.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved