Headline
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Kumpulan Berita DPR RI
KELOMPOK negara-negara kaya atau G7 menjanjikan dana bantuan sebesar US$7,5 miliar untuk mempercepat distribusi vaksin covid-19 di sejumlah negara miskin
Negara anggota G7 diperkirakan telah membeli sekitar 1,5 miliar dosis vaksin, atau lebih banyak dari kebutuhan penduduk mereka. Namun, setiap perkiraan bergantung pada berbagai variabel.
Perdana Menteri Inggris Boris Johnson yang memimpin KTT G7, sebelumnya menyebut negaranya siap memberikan sebagian besar surplus vaksin kepada sistem COVAX, yang dipimpin PBB untuk mendistribusikan vaksin ke sejumlah negara miskin.
Baca juga: Prancis Desak Eropa dan AS Sisihkan 5% Vaksin untuk Negara Miskin
Adapun Presiden Prancis Emmanuel Macron mengajak negara barat untuk menargetkan 6,5 juta pekerja kesehatan di wilayah Afrika, yang membutuhkan 13 juta dosis vaksin.
“Jumlah itu mencapai 3,4% dari pasokan yang ada di Eropa dan harus segera dikirim. Apabil Barat tidak bertindak cepat, negara-negara Afrika akan terpaksa beralih ke Rusia, Tiongkok dan perusahaan farmasi,” pungkas Macron.
Pemerintahan Joe Biden menjanjikan US$4 miliar bersyarat untuk COVAX. Uni Eropa juga menjanjikan bantuan sebesar US$140 juta dalam bentuk barang ke Afrika untuk proses vaksinasi.
Baca juga: WHO Minta Semua Negara Sabar Tunggu Pasokan Vaksin Covid-19
Jerman secara terpisah memberikan bantuan tambahan US$1,8 miliar, yang meningkatkan kontribusi sebelumnya sebesar US$800 juta. Sementara itu, Inggris telah menyumbang US$766 juta untuk COVAX
Dalam pernyataan bersama, kelompok G7 secara kolektif telah memberikan US$7,5 miliar untuk skema tersebut. Kanselir Jerman,Angela Merkel mengatakan kepada wartawan setelah KTT bahwa, “Kami juga memiliki kewajiban terhadap warga negara kami sendiri. Harus ada keseimbangan."
Merkel bersumpah bahwa tidak ada satu pun janji vaksinasi Jerman yang akan terpengaruh upaya untuk meningkatkan dorongan global. Di sisi lain, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengungkapkan bahwa 75% vaksin telah dimonopoli 10 negara. Lebih dari 100 negara belum menerima satu dosis vaksin pun.(Guardian/OL-11)
Riset terbaru menunjukkan vaksin Covid-19 berbasis mRNA seperti Pfizer dan Moderna dapat memicu sistem imun melawan sel kanker.
DUA tenaga kesehatan menerima vaksin Covid-19 di hari yang sama, pola respons antibodi setiap orang ternyata berbeda-beda menentukan berapa lama perlindungan vaksin bertahan
Pengurus IDI, Iqbal Mochtar menilai bahwa kekhawatiran masyarakat terhadap vaksin berbasis Messenger Ribonucleic Acid (mRNA) untuk covid-19 merupakan hal yang wajar.
Menteri Kesahatan AS Robert F. Kennedy Jr. membuat gebrakan besar dengan mencabut kontrak dan membatalkan pendanaan proyek vaksin berbasis teknologi mRNA, termasuk untuk covid-19.
Sejalan dengan penjelasan Kementerian Kesehatan yang menyebutkan vaksinasi booster covid-19 tetap direkomendasikan.
Pemakaian masker, khususnya di tengah kerumunan mungkin dapat dijadikan kebiasaan yang diajarkan kepada anak-anak.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved