Jumat 20 November 2020, 19:16 WIB

WHO tak Rekomendasikan Remdesivir untuk Pengobatan Covid-19

Atikah Ishmah Winahyu | Internasional
WHO tak Rekomendasikan Remdesivir untuk Pengobatan Covid-19

AFP/Ulrich Perrey
Remdesivir

 

ORGANISASI Kesehatan Dunia (WHO) menyarankan untuk tidak menggunakan antiviral remdesivir, yang dikenal sebagai obat untuk pengobatan covid-19.

“Remdesivir tidak menimbulkan efek yang berarti pada kematian atau pengaruh penting lainnya untuk pasien, seperti kebutuhan ventilasi mekanis atau waktu untuk pemulihan klinis,” kata panel ahli WHO dalam pengumumannya.

Panel tersebut menerbitkan ulasannya di jurnal The BMJ. Laporan itu bukan mengeluarkan obat tersebut dari penggunaan untuk pengobatan covid-19, namun mengungkapkan kurangnya bukti untuk merekomendasikan penggunaannya.

Produsen remdesivir, Gilead Sciences, yang memiliki nama dagang Veklury mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa obatnya diakui sebagai standar perawatan untuk pengobatan pasien covid-19 yang dirawat di rumah sakit yang tertuang dalam pedoman dari berbagai organisasi nasional yang kredibel, termasuk Institut Kesehatan dan Penyakit Menular Masyarakat dari Amerika, Jepang, Inggris, dan Jerman.

“Ada beberapa penelitian acak terkontrol yang diterbitkan dalam jurnal peer-review yang menunjukkan manfaat klinis Velklury,” ujarnya.

Potensi kegunaan remdesivir telah menjadi subjek perdebatan dan kecurigaan selama berbulan-bulan, terutama dalam beberapa minggu terakhir, setelah Food and Drug Administration menyetujuinya sebagai pengobatan pertama untuk covid-19 pada akhir Oktober.

Satu studi besar, disponsori oleh Institut Kesehatan Nasional, menemukan bahwa obat tersebut mengurangi waktu pemulihan pada pasien yang dirawat di rumah sakit dari 15 menjadi 11 hari. Dua uji coba lain yang dianggap badan tersebut, disponsori oleh Gilead, tidak mencakup kontrol plasebo, yang dianggap penting untuk menilai efektivitas.

Sebelumnya, Presidenn AS Donald Trump diberikan remdesivir bersama dengan perawatan lain ketika dirawat di rumah sakit akibat covid-19, bulan lalu.

Untuk analisis baru, panel meninjau bukti dari empat uji coba, termasuk satu yang dilakukan oleh NIH dan lainnya disponsori oleh WHO dan baru-baru ini diposting ke server pracetak, yang mencakup sekitar 5.000 pasien, yang terbesar hingga saat ini. Makalah ini belum pernah ditinjau atau diterbitkan dalam jurnal ilmiah.

Profesor kedokteran di McMaster University sekaligus salah satu ketua dari panel WHO Bram Rochwerg mengatakan, hasil dari uji coba itu mempertanyakan beberapa manfaat yang telah dilihat sebelumnya, berdasarkan penelitian NIH.

Baca juga : Sebagian Besar Anak di Jerman Kena Covid-19 di Luar Sekolah

“Uji coba remdesivir harus dilanjutkan, dan mungkin ada populasi tertentu yang dapat memperoleh manfaat,” katanya.

“Tapi obat itu mahal dan diberikan secara intravena. Menggunakannya dapat mengalihkan sumber daya yang dapat digunakan secara lebih efektif,” imbuhnya.

Remdesivir telah diizinkan untuk penggunaan darurat di Amerika Serikat sejak musim semi. Pada Oktober, Gilead melaporkan bahwa tahun ini pihaknya telah menghasilkan pendapatan sebesar US$873 juta.

Penggunaan obat yang diadopsi secara luas untuk gejala Covid telah membingungkan beberapa ahli jauh sebelum persetujuan FDA.

“Ini adalah keputusan yang sepenuhnya tepat oleh WHO,” kata Peter Bach, Direktur Pusat Kebijakan Kesehatan di Memorial Sloan Kettering Cancer Center.

“Remdesivir berharga ribuan dolar, uji coba acak terbesar yang meneliti penggunaannya pada covid menunjukkan bahwa remdesivir mungkin tidak memiliki manfaat apa pun, dan satu penelitian positif berasal dari waktu sebelum kami menggunakan deksametason untuk penyakit parah,” dia menambahkan, merujuk ke steroid yang sekarang umum digunakan di rumah sakit.

Deksametason adalah pengobatan yang telah terbukti membantu pasien covid-19 pada tahap tertentu.

Laporan panel ahli WHO yang disebut ‘living guideline’ adalah inisiatif untuk terus memberikan update bagi dokter dan pasien ketika bukti baru muncul yang mengubah praktik medis saat ini.

“Agak meresahkan karena kami belum menemukan banyak yang berhasil,” kata Rochwerg.

"Tapi saya berharap penelitian yang sedang berlangsung akan mengidentifikasi obat lain yang meningkatkan kelangsungan hidup dan gejala,” tandasnya. (Nytimes/OL-7)

Baca Juga

 AFP/Said Khatib

Sudan Akhirnya Akui Kunjungan Delegasi Israel

👤Mediaindonesia.com 🕔Selasa 01 Desember 2020, 02:30 WIB
Sudan pada Oktober menjadi negara Arab ketiga dalam beberapa bulan yang mengumumkan kesepakatan normalisasi dengan Israel, setelah Uni...
AFP/Khamenei.IR

Kelompok Palestina Tuding Israel dan AS Bunuh Ilmuwan Nuklir Iran

👤Mediaindonesia.com 🕔Selasa 01 Desember 2020, 02:15 WIB
Hamas menyampaikan belasungkawa yang tulus kepada rakyat Iran dan pemimpinnya atas kesyahidan ilmuwan nuklir...
 AFP/Atta Kenare

Ilmuwan Nuklir Iran Tewas karena Operasi Jenis Baru dan Kompleks

👤Mediaindonesia.com 🕔Selasa 01 Desember 2020, 01:35 WIB
Tanpa mengutip sumber, Fars sendiri mengklaim bahwa penyerangan itu dilakukan dengan bantuan senapan mesin otomatis yang dikendalikan dari...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya