Sabtu 12 September 2020, 04:25 WIB

Korut Perintahkan Tembak Mati untuk Mencegah Covid-19

Korut Perintahkan Tembak Mati untuk Mencegah Covid-19

AFP
Petugas medis sedang memeriksa suhu tubuh seseorang di Pyongyang

 

PEMERINTAH Korea Utara memutuskan kebijakan ekstrem untuk mencegah penyebaran virus korona (covid-19).

Menurut komandan pasukan AS di Korea Selatan, otoritas mengeluarkan perintah tembak mati penyelundup untuk mencegah virus korona memasuki negara itu dari Tiongkok.  Korut yang miskin yang sistem kesehatannya hancur belum mengonfirmasi satu kasus pun covid-19 yang telah melanda dunia sejak pertama kali muncul di Tiongkok, sekutu utama Korut.

Pyongyang menutup perbatasannya dengan Tiongkok pada Januari untuk mencoba mencegah kontaminasi, dan pada Juli, media pemerintah mengatakan telah menaikkan keadaan daruratnya ke tingkat maksimum.

Komandan Pasukan AS Korea (USFK) Robert Abrams mengatakan penutupan perbatasan telah meningkatkan permintaan barang selundupan yang mendorong pihak berwenang untuk campur tangan.

“Korea Utara memperkenalkan zona penyangga baru, 1 atau 2 kilometer di perbatasan Tiongkok,” kata Abrams pada konferensi daring yang diselenggarakan Center for Strategic and International Studies (CSIS) di Washington, Kamis (10/9).

“Mereka punya SOF (Pasukan Operasi Khusus) Korea Utara yang mengambil tindakan... Pasukan serang, mereka punya perintah tembak untuk membunuh.”

Penutupan perbatasan secara efektif mempercepat efek sanksi ekonomi yang dijatuhkan pada Korea Utara atas program nuklirnya, tambahnya. Impor dari Tiongkok turun 85%.

Uni Emirat Arab (UEA) mengatakan, Kamis (10/9), kasus virus korona harian mereka telah melonjak lima kali lipat jika dibandingkan dengan bulan lalu. Otoritas memperingatkan residen dan warga negara untuk mematuhi langkahlangkah yang dirancang untuk mengekang penyakit tersebut.

India catat 96 ribu kasus India mendekati pencatatan hampir 100 ribu kasus virus korona dalam 24 jam ketika memerintahkan pengujian ulang terhadap banyak o rang yang hasil pertamanya berasal dari tes antigen cepat yang kurang dapat diandalkan yang digunakan secara
luas.

Menurut Kementerian Kesehatan, India mencatat lonjakan lagi, yaitu sebanyak 96.551 kasus dalam 24 jam terakhir, menjadikan total beban kasus nasional menjadi lebih dari 4,56 juta. Negara ini juga melaporkan, Jumat (11/9), 1.209 kematian lainnya dalam 24 jam terakhir, menjadikan total kematian sebanyak 76.271.

India memiliki beban kasus tertinggi kedua setelah Amerika Serikat, tempat lebih dari 6,39 juta orang telah dipastikan terinfeksi. Jumlah kasus menggeser Brasil beberapa hari lalu setelah mencatat lebih dari 90 ribu kasus baru covid-19 dalam 24 jam. (Hym/Van/AFP/BBC/Xinhua/I-1)

Baca Juga

AFP/JESSICA TAYLOR / UK PARLIAMENT

Inggris Minta Vaksin Covid-19 Oxford-AstraZeneca Dievaluasi

👤Atikah Ishmah Winahyu 🕔Jumat 27 November 2020, 10:23 WIB
AstraZeneca memperkirakan 4 juta dosis akan tersedia di Inggris pada akhir bulan...
AFP/JOEL SAGET

Vaksin Covid-19 Oxford-AstraZeneca akan Jalani Uji Tambahan

👤Atikah Ishmah Winahyu 🕔Jumat 27 November 2020, 09:38 WIB
Usai mengklaim vaksin itu memiliki efektivitas hingga 90%, banyak kritik yang mempertanyakan klaim...
AFP/JOEL SAGET

WHO Optimistis Vaksin dapat Kendalikan Covid-19

👤Basuki Eka Purnama 🕔Jumat 27 November 2020, 08:03 WIB
"Kehidupan yang seperti dulu kita kenal, saya rasa sangat, sangat mungkin. Namun, kita harus tetap menjaga kebersihan dan jarak fisik....

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya