Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

G-20 Upayakan Pemulihan Ekonomi

Haufan Hasyim Salengke
20/7/2020 00:55
G-20 Upayakan Pemulihan Ekonomi
(AFP)

PARA pemimpin Uni Eropa, kemarin, kembali bertemu untuk merundingkan rencana pemulihan ekonomi besar-besaran menyusul pandemi covid-19 di dunia dan di wilayah tersebut.

Pandemi yang telah menimbulkan kekacauan ekonomi di seluruh dunia itu membuat G-20, kelompok negara paling maju di dunia, mempertimbangkan untuk memperpanjang pengurangan utang bagi negara-negara miskin yang terkena pandemi covid-19 pada paruh kedua 2020.

Sejauh ini, pertemuan para pemimpin Uni Eropa di Brussel, Belgia, untuk rencana pemulihan ekonomi masih menemui jalan buntu karena penolakan dari Belanda dan sekutunya yang dikenal sebagai negara penghemat, seperti Austria, Denmark, Finlandia, dan Swedia.

Presiden Dewan Eropa Charles Michel diperkirakan akan mengusulkan rencana lain kepada 27 pemimpin Eropa. Ini menyusul penolakan rencana paket 750 miliar euro (US$850 miliar) oleh negara-negara anggota yang lebih kaya.

Belanda tetap menentang pembagian bantuan uang tunai jika tidak diikuti persyaratan yang sulit. Negara ini memiliki kekuatan veto yang besar terhadap setiap rencana penyelamatan ekonomi.

Perdana Menteri Belanda Mark Rutte mengatakan pengawasan Uni Eropa diperlukan untuk mewajibkan negara-negara, seperti Spanyol dan Italia, mereformasi ekonomi mereka supaya mampu menangani krisis di masa depan dengan lebih baik.


Kasus Spanyol

Wilayah Katalonia di timur laut Spanyol kembali mencatat angka infeksi covid-19 harian lebih dari 1.000, kemarin. Otoritas kesehatan Spanyol berusaha menghentikan dengan mengharuskan sekitar empat juta warga Barcelona untuk tinggal di rumah selama 15 hari.

Katalonia merupakan yang terburuk dari 150 lokasi wabah di Spanyol. Negara tetangga, Prancis, juga mengatakan penutupan perbatasan harus didiskusikan.

Spanyol telah mencatat 260.000 kasus dan 28.400 kematian. Kemenkes Spanyol mencatat dari 1.226 kasus lain, 894 di antaranya di wilayah metropolitan Barcelona dan menambah lonjakan selama seminggu terakhir.

Aturan pemerintah kali ini telah menimbulkan kekhawatiran besar. Warga sebelumnya sudah berharap terjadi pelonggaran pembatasan. “Kami baru saja mulai melihat suasana membaik dengan kedatangan beberapa wisatawan asing. Jadi, pembatasan kali ini ialah langkah mundur,” ungkap Maria Quintana, pemilik bar di Barcelona.

Spanyol memang baru saja mengakhiri pembatasan wilayah secara nasional sekitar empat minggu lalu. Langkah ini diharap mampu membangkitkan kembali perekonomian, terutama peningkatan jumlah wisatawan.

Jalan-jalan di Barcelona kini dilaporkan lengang. Namun, beberapa penduduk menentang perintah tinggal di rumah dan memilih bepergian dengan mobil.

Sementara itu, Perdana Menteri Prancis Jean Castex menyatakan terus mengamati perkembangan kasus covid-19 di Spanyol. “Kami memantau kasus ini dengan sangat cermat, khususnya di Spanyol. Ini merupakan masalah nyata yang juga perlu kami diskusikan dengan pihak berwenang Spanyol,” kata Castex.

Perbatasan Prancis dan Spanyol baru dibuka kembali untuk warga umum pada 21 Juni lalu. Sementara itu, jumlah kematian akibat covid-19 di Prancis saat ini sekitar 30.000 orang. (AFP/BBC/X-11)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya