Headline
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
Kumpulan Berita DPR RI
INGGRIS mendesak Iran segera mengurangi ketegangan di kawasan Teluk, dengan melepaskan kapal berbendera Inggris. Penahanan kapal secara ilegal di perairan Oman, dipandang sebagai tindakan yang sulit diterima.
Teheran dengan tegas mengabaikan permintaan negara Eropa, terkait seruan pembebasan kapal tanker minyak dan awak kapal yang mayoritas berasal dari India. Sementara itu, Amerika Serikat (AS) bersiap memindahkan pasukannya ke saingan regional Iran, yakni Arab Saudi.
Pada Jumat (19/7) waktu setempat, Pasukan Pengawal Revolusi Iran (IRGC) menyita kapal Stena Impero, karena melanggar hukum maritim internasional. Peristiwa itu terjadi di Selat Hormuz, wilayah yang menjadi jalur lintas sepertiga pasokan minyak global.
Saat ini, kapal tanker minyak ditahan di Pelabuhan Bandar Abbas. Otoritas berwenang Iran menyatakan awak kapal sengaja mengabaikan panggilan darurat, dan mematikan transponder setelah bertabrakan dengan kapal penangkap ikan.
Insiden terjadi beberapa jam setelah keluarnya keputusan pengadilan di Gibraltar, wilayah teritorial Inggris. Pengadilan memutuskan perpanjangan masa tahanan kapal tanker asal Iran, Grace 1, yang disita otoritas Inggris di perairan Mediterania, sekitar dua pekan lalu. Kapal itu diduga melanggar sanksi Uni Eropa terhadap Suriah.
"Mereka menganggap ini sebagai situasi pembalasan. Tidak ada yang bisa melampaui kebenaran," pungkas Menteri Luar Negeri Inggris, Jeremy Hunt, usai berbicara dengan Menteri Luar Negeri Iran, Mohammad Javad Zarif.
Baca juga: Iran Rebut Tanker Inggris di Selat Hormuz, Ketegangan Meningkat
Hunt menekankan penangkapan kapal tanker Grace 1 dilakukan secara legal.
"Berbeda dengan kapal Imperium Stena yang ditahan di Perairan Oman dengan dalih pelanggaran hukum ternasional. Apalagi kapal itu dipaksa berlayar ke Iran. Tindakan ini sama sekali tidak dapat diterima," imbuhnya.
Senada, Jerman dan Prancis mendesak Iran untuk melepaskan kapal tanker asal Inggris. Otoritas Jerman menyebut tindakan Iran berisiko meningkatkan ketegangan. Uni Eropa juga menyerukan kekhawatiran mendalam.
Presiden AS, Donald Trump, mengatakan insiden pada Jumat waktu setempat, semakin membenarkan pandangannya terharap Iran.
"Bahwa, Iran sumber masalah," cetusnya.
Kendati demikian, Iran tidak gentar dengan berbagai tekanan. Lebih lanjut, Zarif menuturkan langkah yang diambil otoritas Iran mengacu penegakkan hukum maritim internasional.
"Iran berusaha menjamin keamanan wilayah Teluk Persia dan Selat Hormuz. Inggris harus berhenti menjadi kaki tangan #EconomicTerorism yang digencarkan AS," bunyi cuitan Zarif dalam akun Twitter-nya.
Juru bicara NATO mengecam tindakan Iran, bergabung dengan seruan dari sejumlah negara.
"Langkah Iran merupakan tantangan bagi kebebasan navigasi internasional," demikian penegasan NATO, sekaligus menyatakan seluruh sekutu NATO merisaukan tindakan Iran yang mengganggu stabilisasi. (AFP/OL-1)
KETEGANGAN geopolitik di Timur Tengah mencapai titik didih baru pada awal 2026. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengeluarkan ultimatum keras kepada Iran.
PUTRA Mahkota Saudi Mohammed bin Salman mengatakan kerajaan tidak akan mengizinkan wilayah udaranya atau wilayah teritorialnya digunakan untuk aksi militer apa pun terhadap Iran.
IRAN menyatakan bahwa mereka masih mempertahankan kendali penuh atas wilayah darat, bawah laut, dan udara Selat Hormuz di tengah kekhawatiran akan kemungkinan serangan AS terhadap Teheran.
Pernyataan itu disampaikan di tengah kekhawatiran meningkatnya eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran.
KETEGANGAN AS-Iran meningkat. Republik Islam Iran secara resmi mengeluarkan Notice to Airmen (NOTAM) yang menyatakan wilayah udara di atas Selat Hormuz sebagai "zona berbahaya".
IRAN mengeluarkan peringatan penerbangan atau Notice to Airmen (NOTAM) terkait latihan tembakan langsung di wilayah udara sekitar Selat Hormuz, menandai peningkatan kesiapsiagaan militer.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved