Sabtu 20 Juli 2019, 23:40 WIB

Iran Rebut Tanker Inggris di Selat Hormuz, Ketegangan Meningkat

CNBC/Tes/I-1 | Internasional
Iran Rebut Tanker Inggris di Selat Hormuz, Ketegangan Meningkat

AFP
Kombinasi pengambilan gambar ini dibuat dari siaran video oleh Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) Iran pada 19 Juli, 2019

 

IRAN menyita tanker Inggris di Selat Hormuz karena dianggap melakukan pelanggaran maritim. Tindakan itu meningkatkan ketegangan hubungan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) berikut Inggris.

“Ini menjadi langkah (Iran) yang sangat berani, dengan menahan tanker yang sedang berlayar. Kemudian, membawa kapal tersebut masuk ke perairan Iran. Sebuah langkah provokatif, mengingat kegagalan upaya Iran merebut kapal Inggris beberapa waktu lalu,” tutur analis Iran dari Eurasia Group, Henry Rome.

Pengawal Revolusi Iran menyatakan keputusan menahan tanker berbendera Inggris, Stena Impero, menindaklanjuti pelanggaran hukum maritim internaisonal. Media pemerintah Iran melaporkan, pasukan membawa kapal ke kawasan pantai, untuk diserahkan kepada otoritas maritim.

Mengutip beberapa sumber militer regional, kantor berita Tasnim melaporkan pasukan juga menghentikan tanker Mesdar yang dioperasikan Inggris di Selat Hormuz. Namun, tak berapa lama kapal itu dilepaskan. Pemilik tanker Mesdar, Norbulk Shipping UK, membenarkan pembebasan itu, setelah diduduki sejumlah pasukan bersenjata pada Jumat sore.

Setelah pasukan bersenjata meninggalkan kapal, awak kapal dilaporkan dalam keadaan baik. Kapal yang berlayar di bawah bendera Liberia, diperingatkan terkait dengan masalah keselamatan dan lingkungan.

Menteri Luar Negeri Inggris, Jeremy Hunt, menyatakan keprihatinan atas penahanan dua kapal oleh otoritas Iran di Selat Hormuz. Pemerintah Inggris berupaya menyelesaikan situasi konflik di Teheran dengan mitra internasional.

“Saya sangat prihatin dengan tindakan otoritas Iran yang menyita dua kapal angkatan laut di Selat Hormuz. Saya akan segera menghadiri pertemuan COBR (komite tanggap darurat), untuk meninjau kembali informasi dan tindakan yang harus diambil untuk mengamankan­ pembebasan kedua kapal, yakni berbendera Inggris dan Liberia,” ujar Hunt.

Presiden AS, Donald Trump, menekankan pihaknya bekerja­ sama dengan Inggris untuk mengatasi penahanan tanker.

Melalui pernyataan resmi, militer AS menyebut pesawat pengintai tanpa senjata sedang memantau situasi di Selat ­Hormuz dari wilayah udara internasional. Pesawat tersebut juga berkomunikasi dengan kapal yang beroperasi di kawasan.

“Saya pikir keberadaan pesawat tanpa awak dan keputusan Gibraltar hanya akan mempermalukan Iran. Mereka memutuskan untuk bertindak karena kesabaran telah habis,” pungkas John Kilduff, mitra di Again Capital. (CNBC/Tes/I-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More