Headline

Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.  

Jiwa Bangsa Prancis Terluka

(AFP/Tesa Oktiana Surbakti/I-1)
17/4/2019 05:20
 Jiwa Bangsa Prancis Terluka
pemandangan Katedral Notre-Dame de Paris di Ile de la Cite di pusat Sungai Seine( (Photo by Eric Feferberg / AFP))

ANTUNG bangsa Prancis terpukul hebat ketika api membakar atap Notre-Dame, katedral abad pertengahan yang memiliki dua menara besar. Ukiran gargoyle semakin membuat bangunan tampak mencolok, dan langsung dikenali turis yang baru menginjakkan kaki di Paris.

Rasa kehilangan terpancar jelas dari raut wajah para pengunjung. Banyak yang menyeka air mata, khawatir Notre-Dame hanya bisa dinikmati melalui buku sejarah di masa mendatang.

Katedral ikonik tersebut sangat lekat dalam sejarah Paris. Pembangunan konstruksi yang dimulai akhir abad ke-12, berlangsung lebih dari dua abad. Notre-Dame menjadi saksi upacara penobatan Napoleon Bonaparte sebagai Kaisar Prancis. Suara lonceng raksasa yang menggema dari Notre-Dame menandai kebebasan dari cengkeraman Nazi pada 24 Agustus 1944. Itu sekaligus mengakhiri tahun-tahun kelam di bawah kekuasaan Jerman sepanjang Perang Dunia II.

Dua puluh enam tahun kemudian, Notre-Dame menjadi tempat upacara penghormatan kepada Charles de Gaulle. Suatu kehormatan langka bagi pemimpin yang menggencarkan perlawanan Prancis selama perang. Bagi umat Katolik Prancis, katedral tersebut mempunyai resonansi khusus. Pasalnya, mahkota duri yang diyakini milik Yesus Kristus sebelum penyaliban, disimpan sekian lama di Notre-Dame.

Pada 1831, Victor Hugo menghidupkan katedral melalui karya Notre-Dame de Paris. Novel abadi itu mengangkat kisah perempuan gipsi yang cantik bernama Esmeralda, serta pria bungkuk bernama Quasimodo. Ketika gereja menghadapi ancaman pembongkaran akibat faktor usia, karya Hugo menyerukan bangsa Prancis untuk melindungi bangunan bersejarah. Alhasil, Notre-Dame tidak mengalami perubahan sejak pembangunan awal.

Namun, pada akhir abad ke-19, arsitek Eugene Viollet-le-Duc, seorang pengagum bangunan abad pertengahan Prancis, membangun kembali puncak menara yang sebelumnya diturunkan. Langkah itu memicu beragam kritik dari warga Prancis maupun kalangan turis. Mayoritas penduduk sudah lupa terhadap puncak menara, ketika itu kembali muncul di atap Notre-Dame pada 1860.

Di zaman modern, banguan katedral menjadi cerminan budaya Barat, sebagian besar berkat kontribusi dalam beberapa film. Misalnya, Bongkok Notre-Dame (1956). Generasi selanjutnya, menemukan pesona Notre-Dame versi animasi dalam karya Walt Disney.

"Ini ialah kenangan besar akan Paris, kapal batu yang melintasi sejarah. Jiwa dan jantung bangsa Prancis menghilang. Prancis sangat berduka," lirih sejarawan Fabrice d'Almeida. (AFP/Tesa Oktiana Surbakti/I-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Triwinarno
Berita Lainnya