Headline

Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.

Indonesia Dukung Perdamaian di Wilayah Sahel

Denny Parsaulian
29/3/2019 11:00
Indonesia Dukung Perdamaian di Wilayah Sahel
Seorang prajurit Mali berjaga-jaga di depan bangunan yang hancur akibat serangan bom bunuh diri di wilayah Sahel, November tahun lalu.(AFP/STR)

PENDEKATAN keamanan saja tidak cukup untuk mengatasi penyebab konflik. Penegasan ini diutarakan Wakil Menlu RI AM Fachir dalam Pertemuan Tingkat Menteri DK PBB mengenai G5 Sahel Joint Force (G5S JF), di Markas Besar PBB, Kamis (28/3).

Di hadapan anggota DK PBB dan negara anggota G5 yang hadir, Wamenlu Fachir menceritakan pengalaman Indonesia dalam penanganan terorisme melalui pelatihan di Jakarta Centre for Law and Enforcement Cooperation (JCLEC), dan upaya polri berkolaborasi dengan tokoh agama serta masyarakat dalam mengangani aktivitas militan sekaligus melakukan proses deradikalisasi.

Wamenlu juga menegaskan dukungan Indonesia untuk menciptakan perdamaian di wilayah Sahel di Afrika, termasuk inisiatif G5S JF. Wamenlu sampaikan tiga poin penting, berkaca dari pengalaman Indonesia dalam mengatasi terorisme.

Poin pertama yang disampaikan Wamenlu adalah perlunya mencapai kemajuan konkret di lapangan. Hal ini penting guna memastikan kredibilitas G5S JF.

Untuk itu, operasionalisasi komponen polisi G5S JF sangat diperlukan, guna memastikan operasi dan tindak lanjut yang efektif, termasuk proses peradilan.

Poin kedua yang ditekankan Wamenlu adalah pentingnya peningkatan kapasitas, termasuk pengumpulan informasi intelijen, penanganan violent extremism dan pendanaan kelompok ekstrimis, serta pengamanan perbatasan.

Baca juga: Kemlu Akui Rumitnya Pemulangan WNI Eks ISIS

Poin ketiga adalah membangun kepercayaan masyarakat. G5S JF harus mampu memberikan perlindungan dan bantuan kepada masyarakat, sehingga tidak mudah terpengaruh oleh ajakan kelompok ekstrimis.

“Memenangkan hati dan pikiran masyarakat merupakan aspek terpenting dan menjadi dasar dalam mengalahkan terorisme,” tegas Wamenlu Fachir.

Lebih lanjut, Wamenlu RI menegaskan upaya penanganan terorisme harus dibarengi dengan upaya mengatasi akar masalah, termasuk memajukan pembangunan dan moderasi.

Selain itu, peningkatan kapasitas negara sehingga dapat hadir dan memberikan layanan dasar kepada masyarakat merupakan langkah penangkalan terorisme yang utama.

Ministerial Meeting mengenai G5S JF merupakan inisiatif Prancis dan Burkina Faso, guna membahas dukungan yang dapat diberikan kepada G5S JF.

G5S JF merupakan inisiatif 5 (lima) negara yaitu Mali, Burkina Faso, Niger, Chad, dan Mauritania guna memastikan keamanan di wilayah Sahel, khususnya mengatasi terorisme dan kejahatan terorganisir. (OL-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya